freemagz

Subscribe
  • Skip to content
  • About
  • Contact
  • Twitter
  • Facebook
  • Home
  • Event
    • Calendar
  • Spot
  • Review
  • Outloud
  • Face2Face
  • Contributor
    • Media Partner
    • Jujuk Margono
    • Prita
    • Iwan Sastro
    • Imam Darto
    • AIESEC
  • Digital Magazine
    • 2012
    • 2011
    • 2010
    • 2009
    • 2008
  • FM / Radio
http://invaconsult.com.ua/ http://invaconsult.com.ua/
Subscribe to this RSS feed
CONTRIBUTOR - FREEMAGZ.COM

ORIFREAKS VS KWLOVERS

Written by Imam Darto, 16 May 2012
ORIFREAKS VS KWLOVERS

Kalau kita bicara fashion, tentu tidak bisa lepas dari yang namanya merek. Begitu kuatnya kekuatan sebuah merek, seseorang bisa mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak masuk akal hanya untuk membeli barang dari sebuah merek ternama, merek favoritnya. Selain kualitas, gengsi dan kebanggaan juga turut “dijual” oleh merek-merek tersebut kepada para pelanggan “high-profile”nya.


Kalau sudah seperti itu, apa yang terjadi jika sesuatu menjadi terlalu tinggi untuk diraih? Sesuatu yang mirip tapi tidak terlalu “tinggi” akan muncul sebagai alternatif. Disinilah masuk yang kita kenal dengan barang KW atau fake atau knockoff, atau apalah sebutannya. Untuk kedua jenis ini, masing-masing mempunyai pasar dan pecinta fanatik yang tidak sedikit, dan mereka kita pisah menjadi dua kategori, sebut saja : Orifreaks dan Kwlovers. Berikut adalah perbedaan di antara keduanya.

Jenis manakah anda? Apapun yang anda pilih, pastikan anda mempunyai attitude yang bagus untuk menemani sense of fashion yang anda anut. Karena pada akhirnya, seorang yang baik dan menyenangkan adalah seorang yang baik dan menyenangkan, tidak peduli dia menenteng tas Hermes ori atau koper LV palsu. Your attitude is your fashion.

 

 

  • freemagz
  • darto
  • 2012
  • imam
  • orifreaks
  • versus
  • kwlovers
Read more...

Suka Dan Duka

Written by Iwan Sastro, 08 May 2012
Suka Dan Duka

Setiap orang, walaupun sudah punya pasangan sekalipun, pasti menginginkan waktu untuk diri sendiri. Banyak hal yang bisa dilakukan, salah satunya adalah baca buku, main games di iPad, masak menu andalan atau bahkan sekedar hanya rebahan di ranjang, just doin’ nothing. Tapi kalau buat saya, hal yang saya lakukan adalah menonton DVD film favorit. Setiap ada waktu buat diri sendiri, saya selalu putar film yang sama berulang-ulang, salah satunya adalah TV serial ‘Friends’ yang sudah dirilis dalam bentuk original DVD. Sebuah sitcom ciptaan David Crane dan Marta Kauffman, pertama kali mengudara di NBC tahun 1994, dan berakhir tahun 2004.


Saya suka serial friends, karena beberapa scene dalam film tersebut memang terjadi di kehidupan kita sehari-hari, dan setiap manusia di dunia ini, pasti memiliki teman atau sahabat, hhhmmm… Teman atau sahabat? Kita sering berkata ke orang sekeliling, bahwa dia adalah sahabat saya, dia adalah teman saya. Pernah terlintas ngga sih? Bedanya sahabat sama teman? Apakah memiliki arti yang sama atau tidak? Secara sekarang jaman sudah canggih, maka saya lempar pertanyaan melalui akun twitter saya, @IwanSastro: Beda sahabat sama teman apa? #surveikecil2an


@Stefancosmas1 Kalo sahabat ngga akan jadi pacar, kalo teman bisa pacaran dan mesra-mesraan


@LOCOBOY Sahabat, suka duka selalu bersama, kalau teman hanya senang aja


@TheRobinGan Teman itu orang2 yang cuma di sekitar kita. Sahabat adalah orang2 yang selalu ada di hati kita.


@ranifadjar Sahabat tempat curhat. Teman sekedar ada untuk senang-senang. Sahabat ada saat susah. Teman belum tentu bisa.


Sejalan dengan waktu, karena pergaulan kota Jakarta, kita sering bertemu banyak orang. No wonder, beberapa dari mereka akhirnya ada yang nyambung dan akrab, sehingga ramai-ramai (kayak rombongan circus, hehehe…) sering lunch bareng, hang-out bareng, ke luar kota bareng, bahkan sampai ke luar negeri bareng. Sometimes, ketika begitu sangat akrab, kita masih suka bingung untuk membedakan, apakah dia sahabat atau hanya sekedar teman saja, pertanyaan menjadi lebih kacau ketika kepentok pada sebuah masalah, alias berantem. Berikut ini, ada beberapa kejadian, silahkan tebak sendiri, apakah orang (*namadisamarkan*) yang ada dalam peristiwa tersebut, bisa dibilang teman atau sahabat?


Scene 1

Si Amir tinggal sendiri, sebatang kara di Jakarta, tiba-tiba dia sakit flu parah, sendirian berbaring di ranjang apartment-nya. Mendengar kabar tersebut, si Budi langsung datang menjenguk, menemani si Amir seharian, bikinin teh jahe hangat, nyuapin bubur, menjelang malam ketika si Amir tidur, si Budi baru pulang.


Scene 2

Si Ade, ngajak janjian lunch sama si Woro, mereka sepakat makan di resto samping lobby kantor si Woro. Karena bersemangat si Woro datang lebih awal, secara restonya cuma selangkah. 20 menit berlalu, orang yang ditunggu ngga muncul, spontan si Woro langsung menelpon si Ade. Si Ade bilang, baru aja gue mau kabari ‘loe, gue ngga bisa datang, mendadak mantan gue ngajakin ketemu siang ini. Si Woro ngga banyak ngomong, langsung menutup telpon!!


Scene 3

Si Didi tinggal di Sudirman Park, janjian ketemu Si Ryan di Plasa Indonesia, ketemu nanti jam 11 malam, rencananya mereka mau party. Secara si Ryan stay di jalan Pejompongan, kalau ke Plasa Indonesia lewat jalan Sudirman, harusnya bisa jemput si Didi, karena ngelewatin ‘bukan? Lumayan bisa share uang taxi, tapi si Ryan ngga mau, "kita ketemu disana saja..." Katanya.


Scene 4

Si QQ diomongin satu Jakarta, dibilang katanya orangnya nyebelin, ngga tau diri, suka minjem duit sana-sini, tapi tidak pernah dibalikin, pernah dibalikin, itupun karena ditagih, bukan karena kesadaran sendiri. Tiba-tiba si QQ mendengar berita buruk tersebut, dia pastikan berita ini ke si GG, dengan santai si GG menceritakan semuanya, dengan harapan si QQ berubah menjadi orang yang lebih baik.


Di TV serial Sex and the City, Season six (part two) Episode 7 “An American girl in Paris (part une). Ada satu scene, Before going to paris, Ms. Bradshaw has one last dinner with Samantha, Charlotte and Miranda. Sebelum mereka bepisah, Ms. Bradshaw said “Today I had a thought: what if I had never met you?” Spontan ke empat orang tersebut meneteskan air mata. Saya jadi berpikir, mungkin itu merupakan salah satu gambaran tentang sebuah arti sahabat yang sesungguhnya. Walaupun itu hanya terjadi di film, tapi saya percaya, diluar sana, masih banyak orang-orang yang selalu berbagi suka dan duka bersama sahabat tersayang. Saya yakin itu…

 

  • freemagz
  • 2012
  • dan
  • iwan
  • sastro
  • suka
  • duka
Read more...

Rating Controlled Society

Written by Imam Darto, 04 May 2012
Rating Controlled Society

Jadi ceritanya, saya baru saja mengundurkan diri dari tim penulis sebuah serial sinetron striping karena tidak tahan dengan tekanan tenggat waktu dan cerita yang selalu berubah dengan konstan. Berbeda dengan serial luar negeri yang sebelum tayang sudah harus selesai produksinya untuk satu musim, serial sinetron Indonesia (apalagi yang striping) menerapkan produksi on-the-go. Yah, ini mungkin bukan hal yang baru buat anda, karena apalagi yang bisa menjelaskan kualitas buruk sebuah tontonan kalau bukan produksi yang tidak dipikirkan dengan baik.

Serial yang sukses bergantung pada cerita yang solid. Tapi tidak di Indonesia. Serial yang sukses, bergantung pada rating tinggi dan cerita (solid tidak solid, masuk akal apa tidak) bergantung penuh pada rating. Dengan sistem produksi on the go, sebenarnya jadi cukup masuk akal. Di luar, begitu serial gagal di rating, dihentikan. Disini, begitu gagal di rating, ceritanya diubah sedemikian rupa untuk mendongkrak rating. Tapi yah, tidak banyak yang bisa dilakukan. Itulah industrinya.

Masalahnya adalah (tidak tahu saya terlalu paranoid apa tidak) rating itu hampir selalu ada dimana-mana. Saya ingat ketika jaman masih membeli musik dalam format cd atau bahkan kaset, saya tidak pernah tahu lagu yang saya beli itu ratingnya berapa. Sekarang? Contohnya di itunes, tiap album punya rating sekian bintang, tidak hanya itu bahkan dalam album yang sama, saya bisa tahu lagu mana yang lebih disukai.

Pernah mendapat pertanyaan "would you like to rate this app?" ketika sedang memainkan game kesukaan anda di ipad? Ketika jaman saya masih bermain sega atau nintendo, saya juga tidak pernah tahu game yang saya mainkan itu ratingnya berapa. Saya hanya tahu game yang saya beli itu asyik dan seru, menurut subjektifitas saya. Apakah itu nilai 9 dari 10 atau bintang 5 dari 5, saya tidak begitu peduli.

Pertanyaan saya adalah, apakah perlu apa-apa semua mendapat rating?

Pembelaan dari argumen ini tentu banyak sekali. Salah satunya, dengan adanya sistem rating tentunya memudahkan konsumen memilih produk mana yang lebih disukai. Dengan begitu, konsumen akan terhindar dari proses trial and error, dan mengurangi potensi kekecewaan, karena dengan rating mereka tahu harus memilih sesuatu yang "secara khalayak ramai" dinyatakan bagus.

Ya oke, sah sah saja. Tapi yang berbahaya adalah ketika rating sudah menjadi penguasa absolut sehingga proses seleksi alam benar-benar ditentukan oleh rating. Mereka yang tidak mendapat "rating bagus" serta merta dicap jelek dan tersisihkan, tidak mendapat perhatian, padahal belum tentu. Saya ingat di sebuah festival film, sebuah serial televisi yang terpaksa dihentikan karena ratingnya jelek, justru mendapat beberapa penghargaan di festival itu, salah satunya adalah cerita terbaik. Kalau kasusnya begini, yang rugi dua pihak. Pertama tentu si pembuat produk, karena dia tidak sempat mengenalkan produknya (yang sebenarnya bagus) kepada penonton yang lebih luas; kedua, si penonton sendiri, kehilangan kesempatan untuk bisa mengenal alternatif produk yang bisa saja mengubah sudut pandangnya akan sebuah tontonan yang bagus.

Apa mungkin ini salah sistem pendidikan? Sejak dari kecil kita selalu dididik dengan sistem rating. Selalu dipacu untuk menjadi nomer satu, rangking satu, juara satu. Berada di puncak seakan-akan adalah segalanya. Terus terang jaman sekolah saya dulu, saya masuk ke golongan yang nomer sekian (nomer 2 juga tidak), mungkin sama dengan kebanyakan dari anda. Untungnya ketika melihat diri saya sekarang, saya dengan bangga bisa berkata bahwa saya bukan orang gagal, walaupun tidak banyak mendapat rating pertama atau juara satu dalam hidup saya.

Mudah-mudahan anda merasakan hal yang sama, karena saya tidak bisa membayangkan di masa depan hidup di sebuah masyarakat yang sangat dikontrol oleh rating. "Sudah memeriksa wajah anda, bintang berapakah wajah anda? Daftarkan wajah anda untuk mendapatkan rating akurat di Badan Rating Nasional." bunyi sebuah iklan di masa depan yang tidak ingin saya lihat.

Mentor saya pernah berkata "Jangan berusaha untuk jadi yang terbaik, tapi selalu berusahalah untuk MEMBERIKAN yang terbaik". Dengan berpegangan pada ini, saya tidak pernah kecewa apabila saya tidak berada di urutan pertama, karena toh usaha yang saya keluarkan sudah maksimal.

After all, life is not just about winning. Right?

  • freemagz
  • contributor
  • society
  • darto
  • 2012
  • imam
  • rating
  • controlled
Read more...

Latest Article From Imam Darto

Written by Imam Darto, 28 April 2012
Latest Article From Imam Darto

10 Things NOT TO DO When Visiting Jakarta (FOR TOURISTS ONLY)


Seharusnya saya menulis ini dalam bahasa Inggris karena memang untuk konsumsi anda para turis dari luar Indonesia, tapi tentu saja saya tidak mau memanjakan anda bukan? Apa gunanya google translate? Kalau anda benar-benar ingin membaca ini, silahkan sedikit berusaha.

  • freemagz
  • jakarta
  • imam darto
  • 2012
  • tourist
  • visit
Read more...

Cerita Dongeng

Written by Iwan Sastro, 10 April 2012
Cerita Dongeng

Buat beberapa orang di Jakarta, termasuk saya, pasti pernah ngalamin hidup tanpa pacar, alias jomblo. Dua tahun sudah saya jalani hidup sendiri, tanpa ada special person yang menemani. Ada sih beberapa kandidat yang mencoba untuk berlabuh di hati, tapi hasilnya nihil belaka, belum sukses! Ntah kenapa? Saya juga tidak tahu! Padahal sudah dicoba dengan dating yang berulang, plus disusul dengan coffee, lunch, movie, dinner, etc.

 

“Kok bisa sih hidup sendiri? Nggak kesepian? Lo kurang apa sih? Masa sih ngga ada satupun yang cocok selama ini? Terlalu milih-milih kali ya?” Kata seorang teman pria yang baru saja tunangan.

 

Saya mencoba untuk mencerna pertanyaan-pertanyaan tersebut. Coba deh jawab? Siapa sih orang yang mau hidup sendirian? Saya rasa orang buta juga tidak mau! Karena hal pertama yang dirasakan kalau jomblo adalah kesepian, titik! Setiap hari seorang jomblo harus putar otak untuk gimana caranya sibuk! Buat yang sudah kerja, berangkat kantor paling pagi, pulang paling terakhir, karena ngapain pulang buru-buru? Ngga ada juga yang nungguin, paling orang rumah, males aseli! Sedihnya pas hari Jum’at, karena harusnya dan idealnya, pas bubar kantor, tenggo jam setengah enam, sudah siap-siap merencanakan, mau pacaran dimana kita Friday night ini? Pahit rasanya menjadi jomblo, siapa yang mau diajak pergi? Pacar orang? Jangan gila dong! Belum lagi pas weekend, apalagi long weekend, berusaha mengumpulkan teman satu kecamatan hanya untuk membunuh rasa sepi! Bersibuk diri untuk nongkrong di Mall paling hits, ngantri tiket paling depan untuk nonton film paling baru, ngga pernah absen liat konser musisi dunia, ajojing sampe bego di club paling gaul, menjadi peserta yang tidak pernah telat di kelas yoga dan tidak ada kata ‘NO’ untuk ajakan liburan, secara selalu ready ‘bukan? Memang sih, semua itu terlihat sangat menyenangkan, apalagi perginya bersama teman-teman tersayang. Tapi, (tetep) dalam hati berkata, walaupun tidak diucapkan “Kok gue ngga ada pacar yah? Berasa sepi dan kayak ada yang kurang gimana gitu…” Tanpa disadari (kadang) air mata menetes.

 

Pertanyaan selanjutnya adalah apa kurangnya diri saya? Kok sepertinya tidak ada yang mau sama saya? Dari sekian banyak manusia, masa sih ngga ada satupun orang yang cocok? Apakah saya terlalu pemilih? I don’t think so!

 

Scene pertama, dijodohin temen. Kalau tidak ada ketertarikan fisik, jangan buang waktu, tapi bila ada, hal berikutnya adalah perbanyak ngobrol, cari tahu semua tentang apa yang dia suka, karena dari obrolan, kita bisa tahu seperti apa orang tersebut, dan juga bisa terlihat, apakah kita nyambung atau tulalit. Tapi yang sering saya alami, kebanyakan tulalit, ngga lucu rasanya kalau saya berusaha untuk nyambung-nyambungin, usaha yang sia-sia ngga sih?

 

Scene kedua, secara diam-diam log-in di situs jejaring sosial, mencoba usaha untuk (siapa tahu) dapat ‘kenalan’ baru. Hal seperti ini sering sekali terjadi sekarang, apakah lagi trend or desperate? Berkenalan dengan strangers, tukeran pin blackberry or whatsApp, dilanjutkan dengan chatting ampe bego, disusul dengan tukeran nomer hape, ngobrol berjam-jam ngabisin pulsa, walaupun belum tatap muka. Pas tiba saatnya berjumpa dan ngobrol, hhhmmm… Ngga sesuai harapan, bye bye…

 

Scene ketiga, seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa, akhirnya ketemuan lagi, hang-out bareng lagi, obrolan sama, hobby sama, akhirnya klop, sama-sama cocok, semua perfect, ujung-ujungnya ngajakin pacaran. Only one thing yang menjadi masalah, yaitu masalah finance! Bisa jebol tabungan kalau setiap pergi jalan sini mulu yang bayar! Kalau gue tajir melintir mungkin ngga masalah.

 

Seorang teman wanita berkata “If you don’t have a guy who cares about you, it all means nothing!”

 

“It felt really sad, no special woman to wish me happy birthday!” Kata teman pria lain menambahkan.

 

Kalimat diatas benar banget, sangat benar sekali, nilainya seratus, tapi kalau ‘orang’ yang dimaksud ngga ada, ngga muncul-muncul, gimana dong? Kita ngga akan asal jadian ‘kan? Semua manusia dibelahan bumi manapun, bahkan di cerita dongeng sekalipun, pasti ingin mendapatkan belahan jiwa. Buat saya, untuk mendapatkan belahan jiwa, sepertinya feelin’ harus bekerja, sehingga bisa menimbulkan sebuah ‘rasa’ yang tidak bisa diungkapkan, tapi hanya bisa dirasakan. Dan, semoga saja (buat yang belum), cepat atau lambat, akan segera menemukannya.

 

“Susah banget sih sekarang kalau diajak jalan lagi, mentang-mentang udah jadian, bikin sirik deh, jangan lupain kita dong…” Kata teman kesal.

 

“Kenapa sih? Ngga boleh liat teman bahagia deh…” Kata saya.

 

 

 

  • freemagz
  • iwan sastro
Read more...
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »
  • About
  • Contact
  • Twitter
  • Facebook
Entertainment and Lifestyle Guide. Natamedia Copyright 2010 - 2012. Powered by : Q9 Cybergate