ORIFREAKS VS KWLOVERS
Kalau kita bicara fashion, tentu tidak bisa lepas dari yang namanya merek. Begitu kuatnya kekuatan sebuah merek, seseorang bisa mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak masuk akal hanya untuk membeli barang dari sebuah merek ternama, merek favoritnya. Selain kualitas, gengsi dan kebanggaan juga turut “dijual” oleh merek-merek tersebut kepada para pelanggan “high-profile”nya.
Kalau sudah seperti itu, apa yang terjadi jika sesuatu menjadi terlalu tinggi untuk diraih? Sesuatu yang mirip tapi tidak terlalu “tinggi” akan muncul sebagai alternatif. Disinilah masuk yang kita kenal dengan barang KW atau fake atau knockoff, atau apalah sebutannya. Untuk kedua jenis ini, masing-masing mempunyai pasar dan pecinta fanatik yang tidak sedikit, dan mereka kita pisah menjadi dua kategori, sebut saja : Orifreaks dan Kwlovers. Berikut adalah perbedaan di antara keduanya. Jenis manakah anda? Apapun yang anda pilih, pastikan anda mempunyai attitude yang bagus untuk menemani sense of fashion yang anda anut. Karena pada akhirnya, seorang yang baik dan menyenangkan adalah seorang yang baik dan menyenangkan, tidak peduli dia menenteng tas Hermes ori atau koper LV palsu. Your attitude is your fashion.

Rating Controlled Society
Jadi ceritanya, saya baru saja mengundurkan diri dari tim penulis sebuah serial sinetron striping karena tidak tahan dengan tekanan tenggat waktu dan cerita yang selalu berubah dengan konstan. Berbeda dengan serial luar negeri yang sebelum tayang sudah harus selesai produksinya untuk satu musim, serial sinetron Indonesia (apalagi yang striping) menerapkan produksi on-the-go. Yah, ini mungkin bukan hal yang baru buat anda, karena apalagi yang bisa menjelaskan kualitas buruk sebuah tontonan kalau bukan produksi yang tidak dipikirkan dengan baik.
Serial yang sukses bergantung pada cerita yang solid. Tapi tidak di Indonesia. Serial yang sukses, bergantung pada rating tinggi dan cerita (solid tidak solid, masuk akal apa tidak) bergantung penuh pada rating. Dengan sistem produksi on the go, sebenarnya jadi cukup masuk akal. Di luar, begitu serial gagal di rating, dihentikan. Disini, begitu gagal di rating, ceritanya diubah sedemikian rupa untuk mendongkrak rating. Tapi yah, tidak banyak yang bisa dilakukan. Itulah industrinya.
Masalahnya adalah (tidak tahu saya terlalu paranoid apa tidak) rating itu hampir selalu ada dimana-mana. Saya ingat ketika jaman masih membeli musik dalam format cd atau bahkan kaset, saya tidak pernah tahu lagu yang saya beli itu ratingnya berapa. Sekarang? Contohnya di itunes, tiap album punya rating sekian bintang, tidak hanya itu bahkan dalam album yang sama, saya bisa tahu lagu mana yang lebih disukai.
Pernah mendapat pertanyaan "would you like to rate this app?" ketika sedang memainkan game kesukaan anda di ipad? Ketika jaman saya masih bermain sega atau nintendo, saya juga tidak pernah tahu game yang saya mainkan itu ratingnya berapa. Saya hanya tahu game yang saya beli itu asyik dan seru, menurut subjektifitas saya. Apakah itu nilai 9 dari 10 atau bintang 5 dari 5, saya tidak begitu peduli.
Pertanyaan saya adalah, apakah perlu apa-apa semua mendapat rating?
Pembelaan dari argumen ini tentu banyak sekali. Salah satunya, dengan adanya sistem rating tentunya memudahkan konsumen memilih produk mana yang lebih disukai. Dengan begitu, konsumen akan terhindar dari proses trial and error, dan mengurangi potensi kekecewaan, karena dengan rating mereka tahu harus memilih sesuatu yang "secara khalayak ramai" dinyatakan bagus.
Ya oke, sah sah saja. Tapi yang berbahaya adalah ketika rating sudah menjadi penguasa absolut sehingga proses seleksi alam benar-benar ditentukan oleh rating. Mereka yang tidak mendapat "rating bagus" serta merta dicap jelek dan tersisihkan, tidak mendapat perhatian, padahal belum tentu. Saya ingat di sebuah festival film, sebuah serial televisi yang terpaksa dihentikan karena ratingnya jelek, justru mendapat beberapa penghargaan di festival itu, salah satunya adalah cerita terbaik. Kalau kasusnya begini, yang rugi dua pihak. Pertama tentu si pembuat produk, karena dia tidak sempat mengenalkan produknya (yang sebenarnya bagus) kepada penonton yang lebih luas; kedua, si penonton sendiri, kehilangan kesempatan untuk bisa mengenal alternatif produk yang bisa saja mengubah sudut pandangnya akan sebuah tontonan yang bagus.
Apa mungkin ini salah sistem pendidikan? Sejak dari kecil kita selalu dididik dengan sistem rating. Selalu dipacu untuk menjadi nomer satu, rangking satu, juara satu. Berada di puncak seakan-akan adalah segalanya. Terus terang jaman sekolah saya dulu, saya masuk ke golongan yang nomer sekian (nomer 2 juga tidak), mungkin sama dengan kebanyakan dari anda. Untungnya ketika melihat diri saya sekarang, saya dengan bangga bisa berkata bahwa saya bukan orang gagal, walaupun tidak banyak mendapat rating pertama atau juara satu dalam hidup saya.
Mudah-mudahan anda merasakan hal yang sama, karena saya tidak bisa membayangkan di masa depan hidup di sebuah masyarakat yang sangat dikontrol oleh rating. "Sudah memeriksa wajah anda, bintang berapakah wajah anda? Daftarkan wajah anda untuk mendapatkan rating akurat di Badan Rating Nasional." bunyi sebuah iklan di masa depan yang tidak ingin saya lihat.
Mentor saya pernah berkata "Jangan berusaha untuk jadi yang terbaik, tapi selalu berusahalah untuk MEMBERIKAN yang terbaik". Dengan berpegangan pada ini, saya tidak pernah kecewa apabila saya tidak berada di urutan pertama, karena toh usaha yang saya keluarkan sudah maksimal.
After all, life is not just about winning. Right?
Latest Article From Imam Darto
10 Things NOT TO DO When Visiting Jakarta (FOR TOURISTS ONLY)
Seharusnya saya menulis ini dalam bahasa Inggris karena memang untuk konsumsi anda para turis dari luar Indonesia, tapi tentu saja saya tidak mau memanjakan anda bukan? Apa gunanya google translate? Kalau anda benar-benar ingin membaca ini, silahkan sedikit berusaha.
Random Awesome
Bisakah sesuatu yang bermula dari ketidaksengajaan, sesuatu yang acak, berubah menjadi salah satu peristiwa terhebat dalam hidup anda?
Random. Bagi banyak orang, adalah tabu untuk melakukan suatu hal di luar keteraturan, di luar kebiasaan. Melakukan random stuff. Mungkin karena kita sudah terbiasa menjadi bagian dari sebuah rutinitas, apalagi tinggal di kota besar, dengan pekerjaan 9 to 5, dimana kemapanan dan kenyamanan adalah sebuah tuntutan. Jadi wajar bila kita takut untuk melakukan hal yang beda. Takut keseimbangan hidup kita akan terganggu, takut hidup kita yang (menurut kita) normal itu, akan terusik. Lucunya, bahkan ketika kita sudah merasa tidak nyaman dengan segala rutinitas dan keteraturan, tetap rasa takut itu akan mengalahkan hasrat untuk "be random", hanya demi kepentingan terjaganya yin yang dalam hidup. Coba, berapa banyak dari anda yang selalu ingin keluar dari pekerjaan anda, meninggalkan kemapanan dari sebuah gaji tetap, hanya demi mengejar hasrat anda untuk... menjadi penari balet mungkin? Atau, berapa banyak dari anda yang selalu ingin meninggalkan kenyamanan rumah anda, hanya untuk merasakan tinggal di sebuah kota kecil yang sunyi di negeri orang? Atau, berapa banyak dari anda yang selalu ingin mematikan smartphone anda, menghiraukan semua email pekerjaan, berlari ke airport dan membeli tiket pesawat ke tempat yang hanya anda dan Tuhan yang tahu? Sayangnya setiap hasrat impulsif untuk "be random" itu muncul, rasa takut itu juga muncul. Takut itu berubah menjadi alarm yang berbunyi memberi tahu kita akan kemungkinan bahaya yang bisa dihadapi kalau sampai berani berbuat random. Seakan-akan dunia bisa kiamat. Tapi, apa iya bisa kiamat? Saya belajar tentang being random dari seorang Sophie, wanita berkebangsaan Perancis (yang baru saya kenal) yang meninggalkan dua hal penting dalam hidupnya : pekerjaannya sebagai pengacara dan rumahnya di Paris. Lho, kenapa? Hanya untuk belajar sejarah dan tinggal di London. Seriously? Tidak mudah lho untuk bisa jadi pengacara, dan tentu ada berapa juta orang di dunia ini yang hanya bermimpi untuk bisa tinggal di Paris, tapi semua itu justru dia tinggalkan. Jadi bisa anda bayangkan, di suatu hari dalam hidupnya, dia berpikir "Saya sudah cukup dengan hukum, saya mau kuliah lagi, belajar sejarah dan tinggal di London". Dan dia melakukannya. Begitu saja. Saya tanya alasannya, dia menjawab dengan enteng "Saya suka sejarah, dan saya suka keramahan orang-orang Inggris". Wow, sungguh random. Bagian terbaiknya adalah, dia terlihat benar-benar bahagia dengan hidupnya. From one random thing, ultimately it leads to be the turning point of her life. How great is that? Awesome. Tapi kalau anda berpikir hidup anda sudah sempurna tanpa butuhnya titik balik seperti apa yang Sophie lakukan, jangan khawatir, banyak hal yang lebih sederhana yang bisa dilakukan, untuk bisa merasakan keajaiban dari being random. Hapus playlist iPod anda, masukkan lagu-lagu yang belum pernah anda dengar seumur hidup anda, dan tekan shuffle. Masuk salon, tutup mata, tunjuklah sembarang model rambut di majalah. Potong rambut anda dengan model itu. Tinggalkan mobil anda, bangun lebih awal, pergilah ke kantor naik bajaj. Atau skateboard. Kenapa tidak? Pulang kantor mampirlah ke daerah kota, tanya dimana letaknya restoran yang menyediakan darah ular untuk diminum (yang katanya bagus untuk stamina, or whatever) dan cobalah! Kalau anda sedang bepergian, naiklah bis ke sembarang tujuan dan turun di sembarang tempat. Tersesatlah. Sapalah sembarang orang yang menurut anda menarik di jalan, bilang bajunya bagus hari ini, atau karanglah sesuatu. Lihat reaksinya. Dengan keluar dari rutinitas dan be random, anda akan mempunyai soundtrack yang beda, rambut yang beda, pemandangan yang beda, cerita yang beda, tujuan yang beda, dan reaksi yang beda. Perbedaan adalah warna, dan bukankah hidup akan jauh lebih indah jika penuh dengan warna? Be random. *terinspirasi dari Sophie yang saya ajak bicara secara random dan sebuah lagu yang saya temukan secara random : Yuna - Random Awesome*Random Awesome
Bisnis Jual Diri
Di sebuah sore yang cukup menyenangkan (cuaca cerah, baru saja dapat rejeki, apalagi yang saya butuhkan?), karena waktu siaran yang terlalu mepet dengan selesainya waktu job MC barusan, mau tak mau saya harus menyewa jasa joki 3 in 1 demi melintasi jalan sudirman dengan aman untuk tiba di studio tepat waktu. Ini bukan kebiasaan saya. Saya jarang harus melewati daerah 3 in 1, dan kalaupun terpaksa, saya lebih memilih nekat menerobos dengan harapan tidak terlihat polisi atau sekalian menunggu waktu 3 in 1 berakhir. Tapi kali ini situasi memaksa saya harus melakukan itu, jadi ya saya coba saja. Di antara pilihan yang begitu banyak; ibu-ibu lengkap dengan anaknya di gendongan, remaja perempuan dengan gaya genit terbaiknya sampai ke mas-mas dengan sandal crocs KW mereka; saya memilih remaja lelaki, umur sekitar 15 tahun mungkin. Karena saya butuh dua orang untuk melengkapi tiga, dengan segera si remaja menyarankan saya untuk “mengambil” kakaknya yang “ngetem” hanya sekian puluh meter dari tempat dia berdiri. KKN di level terbawah. Yah, tidak ada salahnya. Di situasi yang rentan sekali terjadinya kejahatan itu, saya juga heran kenapa orang asing yang saya pilih untuk masuk ke dalam mobil saya itu laki-laki. Dua orang lagi. Bersaudara pula. Mungkin sebagian dari diri saya (yang terlalu banyak melihat film action) berpikir setidaknya kalau saya pilih laki-laki, saya tidak akan ragu-ragu menghajar mereka kalau mereka berniat macam-macam. Errrr…yah, setidaknya sih dalam pikiran saya, tidak tahu juga kalau benar-benar terjadi saya akan bereaksi seperti apa. Kemungkinan besar sih lari. Hehe. Well untungnya, mereka adalah 2 joki dengan hati baik dan tulus yang pernah saya kenal, dan saya tidak kenal begitu banyak joki. Mereka adalah Bari dan Riki. Yang lebih tua adalah Riki. Dari obrolan singkat kami, saya bisa tahu sedikit tentang kehidupan bisnis joki dari mata mereka. Karena profesi itu sifatnya “menjual diri”, mereka sering dipandang sebelah mata, diremehkan, dianggap sampah masyarakat. Resiko diciduk satpol PP yang menyamar (ya, satpol pp sudah lebih canggih kalau merazia joki, mereka akan datang dengan pakaian sipil, naik motor, pura-pura bertanya sesuatu, langsung cekal), menginap 2 hari di penjara, sampai dipalak preman yang daerahnya mereka lewati, harus dihadapi setiap hari. Semua itu demi peruntungan mendapatkan mulai dari 0 sampai paling banyak 100 ribu rupiah per hari. Bari dan Riki putus sekolah, ibunya juga joki, bapaknya keliling jual mainan di pasar-pasar. Saya mewakili banyak orang yang juga penasaran, bertanya kepada Bari. Dengan 100 ribu rupiah per hari, tentunya kamu bisa menabung untuk sekolah dong? Kalau kamu bisa sekolah lagi, kamu tidak harus jadi joki tiap pagi dan sore kan? Jawabannya menyadarkan saya bahwa ternyata hidup dia tidak semudah itu. 100 ribu (yang juga belum tentu dia dapat) per harinya itu segera habis untuk kebutuhan makan dan bayar kontrakan yang meninggi tiap tahun. Belum lagi ternyata mereka punya adik perempuan balita yang harus dipenuhi kebutuhan susu dan popoknya, yang juga tidak murah. Dengan keuntungan berjualan mainan bapaknya yang tidak seberapa, otomatis bisnis menjual diri setiap pagi dan sore ini menjadi mata pencaharian mereka yang utama. Lupakan pemerintah dengan program-program pengentas kemiskinannya, Bari dan Riki sudah putus asa dengan pemerintah sejak lama. Kehadiran mereka di sepanjang menteng raya tidak terlihat dari dalam mobil mewah, nyaman dan mahal pejabat-pejabat koruptor dan rombongan ajudannya yang melintas 120 km/jam itu. Mereka menyatu dengan bayangan pohon dan gedung yang berkelibat di sudut mata. Padahal mereka juga manusia, hanya saja dilahirkan dalam kondisi yang kurang beruntung, berusaha bertahan hidup di Jakarta, seperti anda dan saya. Tanpa keahlian dan ketrampilan, hanya diri mereka yang masih bisa dibisniskan. Setidaknya itu yang masih terhormat dibandingkan profesi jual diri yang lain, atau mencuri. Tapi tidak menutup kemungkinan dengan persaingan antar joki yang semakin ketat, atau suatu hari zona 3 in 1 dihapus, akhirnya pilihan mereka menyempit ke dua hal itu. Andai saya bisa berbuat lebih untuk Bari dan Riki. Memberi tambahan beberapa lembar puluhan ribu, cuma itu yang bisa saya lakukan sekarang. Dengan harapan, suatu hari nanti kalau takdir membuat saya bisa duduk di kursi pemerintahan, atau takdir menentukan saya menjadi pengusaha besar dengan puluhan perusahaan, Bari, Riki dan teman-temannya masih begitu jelas di ingatan saya, masih terlihat nyata sebagai manusia yang perlu saya bantu, agar hidupnya bisa seberuntung saya, bukan sekedar kilasan bayangan yang membaur dengan pepohonan dan gedung di sepanjang menteng raya. Saya hanya bisa berharap. (foto: skyscrapercity.com)