Kasusnya pun sering kali berbeda-beda. Ada yang belum pernah pacaran, sekalinya bertemu dengan seseorang langsung jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah. Cinta sejati? Ada juga yang berkali-kali pacaran dan berkali-kali jatuh cinta tapi tidak menikah juga. Apa tidak ketemu itu cinta sejatinya? Bagaimana dengan yang sudah menikah, tapi akhirnya bercerai dan kemudian menikah lagi dan ternyata pernikahan yang terakhir itulah yang berhasil. Cinta sejatinya yang mana? Yang pernikahan pertama apa yang terakhir?
Kalau saja sejak lahir kita sudah tahu siapakah yang ditakdirkan untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan kita, mungkin proses pencarian cinta sejati akan lebih mudah. Dan tidak ada itu istilah jomblo apalagi galau. Begitu beranjak di atas 17 tahun, secara otomatis kita akan langsung berpasangan dengan orang yang ditakdirkan untuk bersama kita. Tapi yaa, tentu saja itu tidak mungkin. Atau kalau saja ada alat untuk bisa mendeteksi siapa cinta sejati kita mungkin juga hidup kita akan lebih mudah. Tiap tertarik dengan seseorang, kita bisa bertanya dengan alat itu, orang ini cinta sejati kita bukan? Kalau bukan ya tidak usah diteruskan. Kita bisa menghemat banyak sekali waktu yang dihabiskan untuk menangis sambil mendengarkan Glenn Fredly Greatest Hits.
Lalu, apa dong yang disebut dengan cinta sejati? Kalau kita tidak tahu itu apa, bagaimana kita bisa mencarinya? Iya kan? Dirasa-rasa saja, apa langsung ditanyakan ke orang yang bersangkutan, atau bagaimana? Ada yang bilang kamu akan tahu cinta sejatimu ketika semua molekul dan sel di dalam dirimu berteriak “iya! ini dia orangnya!”, atau ada juga yang bilang kamu akan tahu ketika seakan-akan seluruh alam semesta mendukungmu untuk bisa bersama. Oke, errr… ada yang lebih masuk akal mungkin? Karena terkadang mendengar suara hati sendiri saja sulit, bagaimana mau mendengarkan molekul, sel dan alam semesta?
Dari jaman nenek moyang kita, jutaan lagu telah digubah, ribuan puisi telah ditulis, semua atas nama pencarian cinta sejati. Tapi semua itu juga tidak membuat kita lebih pintar daripada generasi sebelumnya dalam hal mencari cinta sejati. We’re still fools when it comes to love. *sigh*
Jadi, kita tidak diberi anugerah untuk tahu siapa cinta sejati kita sejak lahir, kita juga tidak punya alat untuk mendeteksi cinta sejati kita, kita tidak bisa mendengar sel, molekul dan alam semesta yang berteriak, dan kita juga tidak bisa belajar dari pengalaman pendahulu-pendahulu kita. We are absolutely clueless. Tapi bukankah hidup adalah tentang ketidaktahuan? Siapa yang tahu besok akan seperti apa? Hari ini kamu “merasa” menemukan cinta sejatimu, besok masih bersama-sama dia? Belum tentu kan? Hari ini kamu menikah dengan seseorang yang kamu “rasa” sebagai cinta sejatimu? Kalau besok bercerai bagaimana? U’re still going to be clueless for the rest of your life.
Saya menemukan jawaban ini dari seorang pencipta lagu-lagu cinta yang saya interview di radio beberapa tahun yang lalu. Dia bilang dia tidak percaya akan cinta sejati. Sesuatu yang saya tidak sangka akan keluar dari seorang pencipta lagu cinta, padahal lagu-lagunya dashyat sekali. Saya kemudian berargumen, cinta itu adalah perasaan yang kuat. Seseorang akan tahu itu ketika merasakannya, dan jelas perasaan sebuah cinta sejati akan bergejolak tidak hanya seperti kupu-kupu terbang, tetapi lebih seperti angin puting beliung yang memporakporandakan dadamu. Anda pasti tahu itu.
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang selalu menempel di otak saya sampai detik ini. Sesuatu yang akhirnya masuk akal dengan semua molekul dan sel yang berteriak, sesuatu yang sejalan dengan teori alam semesta mendukung dan jutaan lagu dan puisi tentang cinta…
Kamu yakin? Jangan samakan cinta sejati dengan nafsu impulsif semata. Cinta adalah proses, cinta itu tumbuh, kamu tidak akan tahu siapa cinta sejatimu sampai saat-saat terakhir hidupmu. Di saat kamu akan menghembuskan nafas terakhir, di saat kamu akan memejamkan mata dan tidak terbangun lagi, dan yang berada di sisimu adalah dia… itulah cinta sejatimu.