Dan sebuah kalimat klise pun keluar... "tidak seperti dulu".
Padahal, salah satu tujuan saya pergi ke Zouk Out tahun ini adalah untuk menghidupkan kembali kenangan-kenangan saya akan sebuah rave yang "great", yang sampai detik ini masih saya ingat jelas keseruannya, kegilaannya sampai kebodohan-kebodohannya. Kenangan dari rave parties yang DULU saya datangi. Kata kuncinya ada di kata "dulu" atau "dahulu". Kenapa ya, "dulu" itu sepertinya selalu lebih seru, lebih fun, lebih enak daripada sekarang? Ini semacam pola klise yang selalu terjadi dalam hal apapun.
"Dulu sebelum kerja bisa minta duit ke orang tua, tidur bisa 12 jam sehari, gak ada beban pikiran. Mudah. Enak deh."
"Dulu sebelum kawin, hidup berpetualang, nomaden, seperti hewan liar yang mengikuti arah angin. Bebas. Seru deh."
"Dulu sebelum gue pacaran sama yang ini, yang itu lebih merhatiin gue, makan diperhatiin, tidur diperhatiin. Disayang. Kangen deh."
"Dulu" pun jadi seperti anak emas dalam kerangka waktu kehidupan kita. Selalu "dulu" yang lebih dari segala apapun daripada "sekarang", apalagi "masa depan". Itulah kenapa berkumpul dengan teman-teman lama dan membicarakan tentang masa lalu selalu menjadi hal yang menyenangkan, walaupun yang dibahas ya cuma itu-itu saja. Kegilaan yang sama, kebodohan yang sama, jokes yang sama, diulang-ulang, tidak pernah bosan. Selalu berhasil tiap saat untuk menghadirkan tawa, haru, marah, bahkan kebencian akan apapun itu yang sedang dibicarakan.
"Dulu" pulalah yang menjadi pemicu kembalinya seorang karyawan ke pekerjaan lamanya, atau pemicu bersatunya kembali hubungan lama dengan seorang mantan pacar, atau pemicu seorang pecandu narkoba untuk relapse "make" lagi, dan seterusnya. Karena kita tergiur untuk menjalani memori-memori menyenangkan itu, walau hanya sekali lagi.
Tapi ini dia kenyataan pahitnya : Waktu tidak bisa dibalik.
Dan sepengetahuan saya, belum ada yang menciptakan sebuah mesin waktu. Mungkin karena itu ya, kenapa kita punya memori. Agar kita bisa menjalani HANYA kenangan-kenangan manis itu dalam kepala kita. Karena sebenarnya kalau diingat-ingat lagi, kenapa meninggalkan pekerjaan itu ya karena bosnya menyebalkan, kenapa putus dengan mantan yang itu ya karena dia suka main tangan, kenapa berhenti "make" ya karena hampir mau mati gara-gara OD.
Tentu saja kalau kita mau meluangkan waktu untuk berhenti dan berpikir baik-baik, "sekarang" is not so bad. Malah lebih bagus, maju, berkembang daripada..."dulu".
"Ok dulu sebelum kerja hidup mudah, tapi sekarang udah kerja hidup gue jauh lebih mudah kok. Berpenghasilan, mau beli ini itu bisa, tujuan jelas, malah bisa bales jasa orang tua."
"Ok dulu sebelum kawin hidup bebas, tapi sekarang udah kawin hidup gue jauh lebih bebas kok. Gue gak harus mulangin dia jam 9 malem, gue bisa tidur sama dia di rumah, bukan di hotel murahan curi-curi waktu pas jam makan siang"
"Ok dulu sebelum pacaran sama dia gue disayang, tapi sekarang pacaran sama dia gue dicinta lho. Gue diberi kebebasan yang membuat gue lebih bertanggung jawab sebagai pacar. Langka."
Akhirnya saya mengerti, percuma saya mencoba menjalani momen-momen yang sudah lewat. Untuk apa? Tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali. Sudah melebur bersama waktu menjadi serpihan-serpihan kenangan yang bisa sesekali dilihat, tapi tidak diulang. Selama ini persepsi saya salah. Bukan masa lalu yang jauh lebih baik, melainkan masa sekarang. Karena kita hidup di masa sekarang, bukan masa lalu. Dan sebelum masa sekarang menjadi masa lalu yang cuma bisa kita kenang dan bicarakan berulang-ulang dengan teman kita, nikmatilah tiap detik, tiap hembusan nafas, tiap sentuhan, tiap rasa di indera karena beberapa saat dari sekarang, kita cuma bisa mengenangnya.
Langkah saya di Siloso Beach jam 7 pagi itu pun menjadi lebih ringan, saya menjadi ada tujuan lagi, bukan untuk menghidupkan kenangan lama, tapi untuk menciptakan momen baru, kenangan baru... dan demi sinar matahari, pasir dan angin yang menerpa wajah dan tubuh saya, rave tadi malam adalah satu rave yang hebat.