freemagz

Subscribe
  • Skip to content
  • About
  • Contact
  • Twitter
  • Facebook
  • Home
  • Event
    • Calendar
  • Spot
  • Review
  • Outloud
  • Face2Face
  • Contributor
    • Media Partner
    • Jujuk Margono
    • Prita
    • Iwan Sastro
    • Imam Darto
    • AIESEC
  • Digital Magazine
    • 2012
    • 2011
    • 2010
    • 2009
    • 2008
  • FM / Radio
http://invaconsult.com.ua/ http://invaconsult.com.ua/
  • Tweet
  • Rock It!

THE FRIEND ZONE

Written by Imam Darto, 16 January 2012
THE FRIEND ZONE

Lupakanlah Twilight Zone (bukan zona tempat penggemar Edward & Bella berkumpul ya wahai adik-adik…) bersiaplah untuk sesuatu yang lebih menakutkan daripada serial terbaiknya Alfred Hitchcock sekalipun, itu adalah… The Friend Zone. Ide untuk menulis sesuatu tentang ini datang dari seorang teman yang setelah saya tanya “Gimana bro, perkembangannya? Udah belum?” (tentu saja ini merujuk ke perkembangan hubungannya dengan seorang perempuan ya, sudah jadian apa belum; bukan bisulnya, sudah pecah apa belum.) dia menjawab, “Susah nih brow, gue udah masuk friend zone.” Dan ketika kalimat itu berakhir, seketika petir menyambar di langit dan cahayanya membentuk siluet tubuh teman saya di balik sebuah jendela, tergantung tak bernyawa oleh sebuah tali di lehernya. Hujan turun perlahan, menghapus jejak tetesan air matanya yang terakhir. Tragis.

Tenang, teman saya masih hidup sampai sekarang, mana mungkin dia berani mengakhiri hidupnya seperti itu, orang belum kawin! Itu hanyalah sebuah gambaran hiperbola (tapi kurang lebih sama) dari apa yang dia benar-benar rasakan di dalam hati, yaitu kosong… hampa… mati.

Seorang teman saya (bukan yang gantung diri di atas) pernah berteori secara ekstrim, tidak mungkin seorang lelaki dan perempuan bisa benar-benar mempunyai hubungan pertemanan murni tanpa ada ketertarikan baik itu secara emosional (baca: cinta) atau fisik (baca: seks). Hm, apa iya? Lalu teman saya yang lain membantah bahwa dia bisa kok berteman yang sebenar-benarnya dengan perempuan lain, tanpa ada ketertarikan sedikit pun, tanpa embel apa-apa. Syaratnya hanya satu, perempuan itu harus jelek. Ouch.

Okay, lupakan kedua orang ini, mereka kebetulan memang tipe lelaki brengsek yang hobinya bukan shuffling lagu di ipod melainkan shuffling perempuan di sela-sela waktu senggang. Screw them, they’re jerks anyway.#pencitraan.

Siapa yang tidak mau berteman? Semua orang mau berteman. Tapi kenapa The Friend Zone adalah sebuah momok yang menakutkan untuk para jomblo sendu pencari cinta? Yaiyalah, karena sesama teman tidak berpegangan tangan saat nonton film atau berciuman di sofa saat orang tuanya sedang tidur di kamar atas, itu semua dilarang dilakukan untuk mereka yang berada di dalam The Friend Zone. (kecuali kalau anda berada di The Friend-With-Benefits Zone ya, tapi kita akan bahas itu lain kali). Sekarang, dengarkan baik-baik; sorry, baca baik-baik.

Sebelum ada proses pertemanan antar dua manusia beda kelamin, selalu ada proses perkenalan atau pertemuan kan? Kalau anda tanya saya, itulah yang saya namakan saat penentuan, the moment of truth. Di saat penting itu anda

menentukan seseorang yang baru dikenal ini akan menjadi teman anda, atau “teman” anda. Get me? It’s how you enter the relationship at the very beginning, which decides the next step. Tidak juga harus jadi cinta pada pandangan pertama, hanya setidaknya kalau anda ingin dia menjadi “teman” anda, pastikan dia mengerti dan mendapat sinyal-sinyal yang anda berikan, sebelum dia menarik garis The Friend Zone lebih cepat daripada anda bisa berkata “Mau jadi pacarku ngga?”

Berlaku sebaliknya, kalau anda mengerti sinyal yang diberikan dan ternyata anda tidak mau menjadi “teman”nya (karena dia jelek misalnya…), ya pastikan dia mengerti bahwa anda menariknya ke dalam The Friend Zone, jangan biarkan dia terlena selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun sampai akhirnya dia bertanya “kita ini sebenarnya apa sih?” dan kemudian kecewa mendengar jawabannya. Jumlah angka korban bunuh diri bisa meningkat drastis nanti.

Seorang teman perempuan curhat setelah habis 1 gelas chocolate martini, “Berbulan-bulan kita deket, dia menjauh gitu aja lho… gue salah, ternyata dia cuma nganggep gue temen selama ini…” TETOT! Wrong. Dia bukan salah menangkap sinyal yang kamu berikan, dia yang menarik garis The Friend Zone di tengah jalan. Kalian berdua masuk ke dalam hubungan di level yang sama, untuk menjadi “teman”, tapi untuk sebuah alasan yang cuma dia dan Tuhan yang tahu, dia menarik garis itu terlebih dulu. Dan teman saya pun bercerita “iya dia deket sama cewek lain”. Boom, there you go. Ternyata dia punya beberapa calon “teman” di saat yang bersamaan, dan kebetulan teman saya tersingkir di proses seleksinya. Another ouch.

Be naïve you shall not, my dear friends. Sadari ini : cinta adalah proses seleksi alam, memang begitu adanya. Bertemu, berkenalan, beberapa memutuskan untuk berteman saja, beberapa memutuskan untuk berpasangan. You got pulled in The Friend Zone, so what? Get over it. Move on. Oh, and don’t give me that mencintai-tidak-harus-memiliki crap. That is so 90’s. Ini 2012 lho, masa anda mau cinta sama suami atau istri orang? Engga kan?

Seorang pebisnis mau untung, tidak hanya harus berani, dia harus SIAP rugi. Anda mau mendapatkan cinta sejati? Ya berarti harus SIAP ditendang masuk ke dalam The Friend Zone berkali-kali, sebelum akhirnya menemukan “teman” yang sesungguhnya untuk anda ajak tua bersama.

Follow my nonsense on twitter @imamdarto

Read 2104 times | Like this? Tweet it to your followers!
Tagged under
  • imam darto
  • contributor

Related items

  • Rating Controlled Society
  • Latest Article From Imam Darto
  • Random Awesome
  • Quotes Are Overrated
  • Susahnya Selingkuh Sekarang
back to top
  • About
  • Contact
  • Twitter
  • Facebook
Entertainment and Lifestyle Guide. Natamedia Copyright 2010 - 2012. Powered by : Q9 Cybergate