Namun lain soal jika kita bicara soal minuman tradisional.
Untuk urusan yang satu ini, saya sedikit lebih paham.
Lahir dan dibesarkan dalam lingkungan Njawani yang cukup kental, sedari kecil saya sudah sangat akrab dengan bermacam jamu dan ramuan-ramuan. Salah satu kenangan masa kecil yang paling menyenangkan adalah ketika melihat ritual Bapak dan Ibu meminum jamu setiap hari. Keduanya memiliki cara dan kegemaran yang berbeda.
Bapak dengan jamu penolak angin dan penjinak diabetes, biasa memulai ritualnya dengan berkomat-kamit membaca do’a saat mengangkat gelas berisi cairan hitam pekat ke dekat mulutnya. Ia kemudian akan memejamkan mata erat-erat sambil membiarkan cairan super pahit itu mengalir turun di dalam rongga kerongkongannya (ketika itu saya sempat berpikir bahwa menutup mata bisa membantu menghilangkan rasa, sungguh aneh tapi nyata). Setelah jamu habis, Bapak akan buru-buru menenggak segelas kecil air gula atau perasan jeruk asam yang bisa menghilangan rasa buruk dari indera pencecapnya.
Ibu sepertinya lebih kuat menahan pahit. Ia juga mengawali ritual minum jamu sehat wanitanya dengan do’a (walaupun hanya mengucap dalam hati, saya tahu mantera andalannya: tombo teko, loro lungo - obat datang, sakit pergi), namun tidak seperti Bapak, ekspresi Ibu lebih santai dan tetap anggun walaupun cairan jamu yang diminumnya berkali-kali lipat lebih pahit (mungkin karena wanita dicipta lebih kuat menahan sakit?). Ia juga jarang meminum cairan gula dalam gelas bening yang sudah disiapkan. Justru saya yang seringkali iseng meminumnya saat tak ada orang yang melihat.
Dengan kedua orang tua peminum jamu, hidup saya pun tidak pernah lepas dari hal itu. Sayangnya ingatan pertama saya tentang jamu adalah sebuah kenangan pahit yang hingga kini masih meninggalkan trauma luka bathin yang mendalam (ok, agak lebay, tapi bener kok).
Ketika itu saya baru berusia empat tahun. Dan saya adalah bocah balita termini yang pernah ada di dalam silsilah keluarga. Tentu saja semua kerabat saya mulai khawatir dengan perkembangan tubuh yang sepertinya jalan di tempat. Tubuh saya selalu kurus kering macam kucing kampung kekurangan gizi. Jika dilihat baik-baik, tulang belulang menonjol di mana-mana seperti bisa keluar sewaktu-waktu dari lapisan kulit halus yang membungkusnya dengan terpaksa. Daging saya sedikit sekali. Dan kepala saya terlihat seperti bola besar yang disangga tumpukan batang korek api.
Dokter dan obat-obatan modern tidak banyak membantu. Cacing yang diduga mengambil jatah makan saya juga tidak pernah ditemukan. Ternyata inti permasalahannya cuma satu: nafsu makan saya muncul terlambat dibandingkan nafsu-nasfsu lainnya. Semua inang pengasuh yang mengurus saya selalu angat tangan jika diminta menyuapi saya setiap hari. Karena saya akan cari segala macam cara untuk bisa mengeluarkan makanan itu dari mulut saya. Di sinilah sang jamu mulai beraksi: Ibu mulai mencekoki saya.
Harap maklum, saat itu belum banyak obat sirup manis penambah nafsu makan yang dijual bebas di pasaran (ya, saya sudah setua itu), karenanya Ibu bergantung pada resep turun menurun yang bagi saya adalah siksaan maha pedih bagi seluruh permukaan lidah dan rongga mulut.
Sepertinya kali ini saya tidak berlebihan. Jamu berwarna gelap itu memang terasa super duper sangat amat tidak enak sekali. Hoek. Membayangkannya saja, bisa membuat perut saya bergejolak marah. Seperti layaknya jamu lain, cairan penambah nafsu makan ini dibuat dari bahan dasar mpon-mpon (anggota umbi atau akar-akaran seperti jahe, kunyit, kunir, kunci, laos dan teman-teman) bernama Temu Ireng yang diolah serta diramu dengan satu bahan lain yang tidak kalah mencengangkan: tempe busuk.
Ya. Bayangkan saja bagaimana rasa dan aroma minuman itu. Karenanya mohon dimengerti jika pemandangan pemberian jamu itu akan berlangsung lebih seru daripada adegan kejar-kejaran di film action. Saya ingat lari dari satu ruangan ke ruangan lain demi menghindar Ibu dan gelas jamunya. Berputar mengelilingi meja makan. Minggat keluar ke halaman belakang. Sampai akhirnya tertangkap basah, dan dipaksa meminum obat tradisional itu dengan jeritan tangis dan air mata yang tidak berhenti mengalir (ya, saya secengeng itu).
Entah kapan tradisi penyiksaan itu berakhir. Mungkin ketika saya mulai terlihat rakus dan melahap apa saja yang disodorkan di depan mata saya. Walaupun badan saya tetap agak cungkring, berat tubuh pun sedikit mulai bertambah. Dan satu efek terbaik dari pengalaman itu: saya jadi terbiasa minum jamu.
Ini sebuah anugerah. Karena sepanjang hidup hingga detik ini. Cairan tradisional itu selalu siap hadir menemani langkah saya.
Sakit campak dan panas? Ibu akan menyiapkan ramuan batang dan kembang combrang (sejenis tanaman berbatang lunak dengan daun seperti pisang dan bunga serupa teratai merah muda), yang dicampur gula merah dan kuning telur.
Suara hilang dan batuk berkepanjangan? Ibu akan membuat segelas air rebusan buah dan bunga belimbing sayur yang dikucuri jeruk nipis serta sedikit madu.
Masuk angin akut hingga badan linu dan kepala pusing bukan kepalang? Ibu akan meramu jamu kemasan dengan tambahan bubuk jahe merah dan gula batu.
Daftar itu terus bertambah dengan begitu banyak ramuan yang sangat eksotis dan menakjubkan. Ada ramuan brotowali dan daun mahkota dewa. Ada potongan buah merah yang dikeringkan. Ada rebusan rempah-rempah dan umbi-umbi yang beraroma segar dengan rasa masam tidak kepalang. Ini akhirnya berhasil membuat saya jadi seorang pecandu jamu pemula. (Saking senangnya minum jamu, tanpa disuruh saya pernah meminum segelas jamu kuning dalam botol bening yang diletakkan di dalam lemari es. Ternyata itu kunir asem. Yang berkhasiat untuk melancarkan haid perempuan. Saya menjadi bahan ledekan kakak-kakak dan adik saya selama berbulan-bulan; “Haha.. Ati-ati bentar lagi lo pasti tumbuh tok*t tu, Ndra.” Sial.).
Sampai hari ini, Ibu masih rajin menyiapkan bermacam ramuan untuk menjaga kesehatan anak dan cucunya. Salah satu yang sering sekali dibuatkannya untuk saya adalah sari temulawak dan madu hangat. Kedua minuman itu selalu hadir di atas meja makan, di posisi yang sama, ketika saya pulang kerja seharian. Ternyata menyiapkan minuman itu adalah hal terakhir yang dilakukan Ibu sebelum terlelap. Setiap malam. Dari jamu itu pun saya bisa tahu sudah berapa lama Ibu tertidur.
Kalau setiba saya di rumah minuman itu masih terasa hangat, berarti Ibu baru saja membuatnya dan mungkin saat itu sedang berbaring di tempat tidur sambil mengurai rambut panjangnya. Namun kalau jamu itu sudah sangat dingin (seperti akhir-akhir ini), berarti Ibu sudah lama dibuai mimpi. Dan berarti saya sudah tiba di rumah terlalu malam.
Berkat terpaan kerja, saya sudah jarang bertemu lama atau berbincang puas dengan Ibu. Tapi meminum madu hangat buatannya setiap malam sudah cukup untuk membuat saya bahagia. Karena lewat segelas cairan itu, hati kami selalu bisa tersambangi. Dan minuman itu bermakna lebih dari sekadar cairan untuk tubuh, tapi seperti pengisi jiwa dan hati yang paling teduh. Saya sungguh beruntung diberikan peramu jamu luar biasa seperti Ibu dalam hidup saya.
Jamu Ibu, sepahit apapun itu, adalah kasih sayang. Dan siapapun pasti setuju, kasih sayang adalah hal termanis di dunia.
Yes. My name is Indra. And I am a jamuholic. A very loved and lucky one