Tidak. Saya tidak pernah berani membunuh ular. Saya hanya tahu caranya, karena dulu rumah saya sering dikunjungi ular-ular. Bukan hanya di kebun kami yang memang masih penuh semak, perdu dan pohon-pohon tinggi, tapi juga masuk ke dalam ruangan-ruangan nyaman dalam rumah kami. Mengganggu hidup kami dengan badan panjang dan lidah bercabangnya yang menjulur-julur keluar.
Mereka pernah berhasil menyusup ke dalam mobil kami dan bergelung manis di atas sandaran kepala hingga membuat Ibu nyaris pingsan saat tanpa sengaja memegang kulit licinnya. Menjatuhkan diri dari atas pohon tepat ke pangkuan kakak perempuan malang saya yang sedang duduk-duduk di bawahnya. Melata santai di ujung kamar saat tengah hari hingga membuat acara tidur siang saya rusak karena rasa ketakutan setengah mati. Dan melingkar di dekat pagar rumah hingga membuatnya jadi sangat sulit untuk dilewati. Saya tidak mengada-ada. Ular-ular ini selalu berhasil mengganggu hidup nyaman kami dengan muncul di tempat-tempat tidak terduga nyaris setiap hari.
Jika mau sedikit berpikir, saya tahu pasti bahwa sebenarnya kami yang mengganggu hidup ular-ular ini. Mereka terlebih dahulu tinggal di sini ketimbang keluarga kami. Rumah kami dibangun di atas rumah mereka. Tukang kebun kami dulu memangkas sarang mereka. Tukang bangunan kami dulu mengobrak-abrik tempat tidur mereka. Dan dengan sengaja penjaga malam kami dulu telah membunuh kakek nenek atau anak-anak dan keponakan mereka. Jadi seharusnya saya bisa mengerti bahwa gangguan menakutkan ular-ular ini sama sekali tidak setimpal dibandingkan dengan apa yang dulu pernah kami lakukan kepada mereka. Tapi kami manusia. Yang bebal dan merasa memiliki bumi dan segala isinya. Tanah ini sudah kami beli. Berarti ular-ular itu yang harus pergi. Jika ini perang. Kami harus menang.
Karena itulah kami mencari cara terbaik untuk menyingkirkan mereka. Menaburkan garam di sekeliling rumah terbukti tidak bekerja. Membuat selokan kecil berisi air asin hanya menjauhkan mereka sesaat saja. Merapihkan taman dan kebun dari semak hanya membuat mereka semakin merajalela. Kami sudah mencoba semua cara untuk bisa mengusir mereka.
Awalnya hanya mengusir. Bukan membunuh.
Sayangnya rasa takut seringkali meraja dan memberi kami peran baru sebagai malaikat pencabut nyawa. Kami takut ular-ular itu berbisa. Kami takut ular-ular itu akan menggigiti ujung kaki kami dengan taring tajamnya. Kami takut ular-ular itu membunuh kami. Karena itu pada akhirnya kami yang membunuh mereka.
Bukankah memang seperti itu kerja semesta? Yang kuat menyingkirkan yang lemah. Memangsa atau dimangsa. Semua hanya soal pilihan belaka. Membunuh ular bukan perkara mudah. Hewan ini kuat. Sedikit pukulan di kepalanya, apalagi yang dilakukan dengan tangan bergetar oleh ngeri, hanya akan membuat mereka limbung sesaat sebelum akhirnya melesat pergi. Dibutuhkan kekuatan. Dibutuhkan nyali. Dua hal yang sedikit sekali saya miliki.
Tidak heran jika selama bertahun-tahun tinggal di rumah ini, saya belum pernah berhasil mengusir ular seekor pun. Apalagi membunuhnya. Jika menemukan mahluk jelek itu saya hanya akan berteriak memanggil bapak, kakak, atau siapa saja yang bisa dipanggil. Lalu mengawasi dari jauh saat mereka melakukan tugasnya. Seperti orang-orang di kampung ini, kami biasa menggunakan botol plastik untuk menangkap ular-ular yang tidak terlalu besar. Menggiring kepala pipih mereka masuk ke leher botol lalu mendorong sisa tubuhnya hingga lengkap terperangkap di dalam. Beres sudah. Ular mengganggu siap untuk disingkirkan. Setelah itu tersedia banyak pilihan. Botol bisa dibuang ke kebun kosong di depan rumah, dilempar ke dalam aliran sungai atau digulingkan ke tengah jalan. Saya sendiri tidak pernah tega melihat orang kampung ini membiarkan ular-ular itu terlindas mobil yang lalu lalang. Melepaskan kembali atau menghanyutkannya di air semestinya pilihan yang lebih masuk akal. Tentu saja membunuh adalah membunuh. Tidak ada cara yang lebih baik atau lebih kejam.
Tapi ketika membunuh ular, ada satu hal yang harus dilakukan; hancurkan kedua matanya. Entah darimana kepercayaan itu berasal. Di kampung kami hampir semua orang tahu bahwa mata ular menyimpan dendam yang harus terbalaskan. Ular mati merekam bayang wajah pembunuhnya di permukaan mata mereka. Dan suatu saat teman atau kerabat sang ular dapat melihat mata itu lalu menuntut balas dari kematian sang terkasihnya. Mungkin ini hanya sebuah takhayul konyol. Atau isapan jempol belaka. Namun saya percaya bahwa tradisi itu tumbuh dari sesal hati semata. Saya tahu kami sadar bahwa kami telah membunuh mahluk bernyawa. Apapun alasannya
Sudah lama sekali ular-ular itu tidak pernah muncul di rumah kami. Bukan hanya karena kampung tempat kami tinggal sudah berkembang menjadi kota padat yang kurang nyaman. Bukan hanya karena hutan-hutan kecil di sekitar rumah kami sudah berubah menjadi pabrik furniture dan kantor pemerintahan. Tapi mungkin karena mereka telah lelah melihat botol-botol plastik berisi saudara dan kerabat mereka yang sudah mati.
Akhirnya kami menang.
Kota ini milik kami. Dan ular-ular itu telah pergi. Lalu kenapa takut itu masih ada?
*photos by www.hellokids.com