Harus diakui. Tidak ada saat paling tepat buat urusan curhat, selain ketika detak hari sudah mulai melambat. Jam-jam lewat tengah malam seperti ini memang masa rawan untuk mereka yang sedang dirundung galau. Dan kalau sampai ada Lomba Galau Internasional, saya yakin bakal terpilih sebagai juara pertama sekaligus pemenang favorit pilihan pemirsa. Karena itu saya memilih untuk maklum saat sahabat tadi memutuskan buat menumpahkan keluh kesahnya sepanjang malam.
Ini adalah sebuah pengorbanan yang harus dilakukan ketika kita mengaku sebagai seorang teman. Lagipula saya tahu, jika keadaan dibalik, dan saya yang sedang membutuhkan seseorang untuk dilimpahi beban pikiran, dia akan dengan senang hati melakukan hal yang sama. Menukar lelapnya dengan sesi curhat, sepanjang apapun yang saya suka.
Percakapan kami via bbm berlangsung lama dan sangat seru. (Kami sengaja tidak ngobrol langsung di telepon, karena kemungkinan besar suara keras kami akan terdengar jelas sampai ke Surabaya). Jika fitur silent di ponsel tidak diaktifkan, suara yang terdengar dari rumah saya malam itu akan berbunyi seperti ini: Krik. Krik. Ping! Ping! Krik. Ping! Krik. Krik. Ping! Ping! Krik. Krik. Krik. Ping! Ping! Krik. Krik. Ping! Ping! Ping! Krik. Krik. Krik. Ping! Ping! Tok’keeek! (Maaf. Saya lupa bilang. Selain ratusan jangkrik berisik di halaman rumah, di kamar sebelah juga tinggal seekor tokek pengidap insomnia).
Setelah jam menunjukkan pukul dua, ketika jempol saya mulai nyaris mati rasa, sesi curhat kami akhirnya berhenti juga. Dan sebuah kalimat di akhir perbincangan itu membuat saya berpikir agak lama. Sahabat saya berkata dalam sebuah kalimat sederhana: “Lega banget bisa cerita semua ke elo. Terima kasih ya udah mau jadi toilet buat gue.”Wow. Saya sudah disamakan dengan jamban. Dan anehnya. Saya sama sekali tidak keberatan. Buat saya, adalah sebuah kehormatan ketika seorang teman bisa dengan santai mencurahkan semua isi hatinya. Berarti saya dianggap cukup bisa dipercaya. Sebagai teman, sekaligus penyimpan rahasia.
Saya sih cukup yakin, ketika menyandang gelar sebagai seorang sahabat, kita sudah menandatangani sebuah kontrak tak terlihat yang menyatakan bahwa di saat-saat tak terduga, pagi maupun malam, dalam keadaan lelah atau masih sangat segar, kita harus siap sedia untuk menjadi tempat pembuangan. Baik untuk keluh kesah, cerita menyenangkan, tangis kesedihan atau rahasia terdalam yang tidak selalu mudah untuk diungkapkan. (Ya. Lagu yang bercerita tentang ‘persahabatan bagai kepompong yang merubah ulat menjadi kupu-kupu’ sepertinya lupa menyertakan lirik tambahan bahwa persahabatan juga merubah seseorang dari manusia menjadi kloset.)
Anggap saja alam pikiran kita seperti sistem pencernaan. Ada banyak yang masuk, dan ada banyak juga yang harus dikeluarkan. Jika limbah pikiran itu tidak segera dibuang, jangan-jangan otak jadi sembelit. Dan ujung-ujungnya jiwa yang jadi sakit. Seperti kata Ibu saya, pikiran tidak boleh terlalu lama dipendam sendirian. Harus ada outlet tepat untuk menyalurkannya. Supaya seseorang bisa tetap waras. Supaya hati bisa lebih lega, dan menyisakan tempat yang cukup luas.
Memang selalu ada keluarga dan pasangan yang bisa dijadikan pegangan. Tapi jika masalah yang ingin dibagi berhubungan erat dengan kehadiran mereka pasti lebih masuk akal untuk membagi ceritanya kepada orang terdekat yang berada di posisi paling netral. Siapa lagi yang paling tepat untuk diberi tugas seperti ini kalau bukan seorang teman?
Sayangnya kita sangat paham bahwa tidak semua orang bisa jadi toilet. Ada pula teman yang lebih cocok untuk disebut sebagai ember bocor. Anda pasti tahu tipe teman seperti ini. Membagi sebuah rahasia dengannya kurang lebih punya efek sama dengan memasang iklan di sebuah koran. (Curhat ke dia, dan cerita itu akan segera terdengar oleh semua pasang telinga di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan sekitarnya.)
Kapasitas penampungan teman seperti ini tidak terlalu maksimal. Wanti-wanti berbunyi ‘Tapi jangan bilang siapa-siapa ya’ akan diterjemahkannya sebagai ‘Tolong kasih tau ke semua orang yang lo kenal ya’. Dan lucunya, ember yang satu ini pun kemungkinan besar akan mengawali proses pembocoran rahasia itu dengan kalimat yang sama: ‘Jangan bilang siapa-siapa ya.’ (Percaya deh, kalimat itu akan segera kehilangan khasiatnya jika diulang berkali-kali ke orang yang berbeda).
Berarti sebenarnya kita pun harus sangat berhati-hati memilih teman untuk curhat? Ya iyalah. Sudah pasti. Semua orang juga tahu hal ini. Makanya saya sengaja memiliki teman sesuai dengan kategori yang dibutuhkan. Ada teman yang hanya pas buat diajak senang-senang. Ada teman yang paling oke buat diajak ngobrol soal pekerjaan. Ada pula yang bisa berperan sebagai psikiater handal tempat menumpahkan semua isi pikiran.
Apakah ini berarti saya egois? Mungkin saja. Tapi rasanya bohong sekali kalau ada yang bilang bahwa mereka tidak pernah memilih-milih teman. (Atau dengan yakin mengatakan kalau mereka memiliki teman tanpa ada sedikitpun pertimbangan). Setiap ikatan pertemanan pasti menyimpan kesamaan kebutuhan.
Hadapi sajalah. Hubungan pertemanan di dunia ini tidak ada yang murni tanpa alasan. Boleh jadi kadar ketulusannya berbeda. Tapi pada intinya kita semua sama: Punya alasan tertentu saat membuka hati untuk membiarkan orang lain bertamu. (Alasan yang paling sederhana? Tidak ada satu pun di antara kita yang bisa hidup sendiri. Loh, kan ada keluarga? Sekali lagi, tidak semua hal bisa dibagikan dengan keluarga sendiri bukan?).
Masalahnya sekarang, setelah sudah punya ‘toilet’ ternyata kita pun tetap harus pandai-pandai mengatur proses ‘ke belakang’. Ok. Maafkan saya kalau baru saja menyamakan curhat dengan buang hajat. Tapi memang sebenarnya mirip kan? Curhat kurang lebih serupa dengan urusan perut. Sembelit dan diare sama-sama nggak enak. Kalau pelimpahan isi hati kita sudah terlalu lancar keluar seperti orang kebanyakan makan sambel Bu Rudy, jangan-jangan memang ada yang salah diproses pencernaan pikiran kita.
Harus diakui, terkadang saya pun terlalu gampang memuntahkan isi hati dan perasaan. Padahal tidak semua hal harus dibagikan ke orang lain. Ada saatnya kita perlu membiarkan wujud sempurna sebagai seorang manusia utuh ini bekerja untuk memroses sendiri sebagian persoalan yang ada demi bisa menemukan jalan keluarnya. Namun lagi-lagi, pasti akan sangat menyenangkan hidup ini kalau kita punya WC pribadi yang siap menampung semua kekesalan hati.
Saya tidak tahu pasti, apakah teman saya yang curhat hingga jam dua pagi benar-benar terbantu oleh percakapan panjang kami. Bisa saja dia benar-benar merasa lebih baik setelah mencurahkan isi hatinya pada saya. Bisa juga itu hanya perasaan lega sesaat yang akan segera berganti dengan kegalauan sama seperti sebelum dia melakukannya. Tapi sepertinya saya akan memilih untuk menjadi toilet terbaik. Menampung semua kotorannya lalu membuang semua itu di septic tank yang gelap.
Saya hanya berharap kali ini dia bisa tidur dengan nyenyak. Paling tidak lebih baik lah daripada saya yang belum bisa juga terlelap karena semakin terganggu rombongan jangkrik dan tokek yang masih sibuk curhat. Sial.
Menjadi Toilet
Written by
Indra Herlambang,
05 February 2011
Malam telah larut. Di luar sana, obrolan mesra para jangkrik terdengar semakin ribut. Seharusnya saya sudah tertidur tenang di balik selimut. Melepas lelah seharian dan membiarkan mimpi segera menjemput. Tapi mata saya belum juga bisa tertutup, meskipun sebenarnya kesadaran sudah hampir menyerah melawan kantuk.
Jemari yang mestinya telah memeluk bantal masih juga dipaksa untuk bergerak lincah di atas tuts ponsel. Merangkai huruf jadi kata, lalu kata jadi kalimat, demi menghibur hati seorang sahabat yang sedang dirundung masalah percintaan cukup berat.