Minggu lalu saya nonton film The Iron Lady, bercerita tentang potret seorang wanita luar biasa dan kompleks, bernama Margaret Thatcher, dia melalui semua hambatan atas perbedaan gender dan terjun di dunia yang didominasi oleh laki-laki. Sepanjang film menceritakan tentang seputar kekuatan dan harga yang harus dia bayar atas kekuasaan tersebut. Film ini sungguh menarik karena alur ceritanya dibuat maju mundur, diawal film menceritakan masa sekarang, sementara ditengah film bercerita tentang masa lalu, begitu seterusnya, sehingga buat saya sebagai penonton menjadi tidak bosan, walaupun berisikan dialog-dialog berat tentang politik. Sebuah film drama berdurasi 105 menit, diperankan dengan baik oleh Meryl Streep, dia mampu menyulap dirinya menjadi Margaret Thatcher, mulai dari cara berjalan, cara berbicara, cara menatap, cara menutup bibir, seperti melihat real Margaret Thatcher disepanjang film, sempurna. No wonder, dia berjaya di ajang Golden Globe pada 15 Januari kemaren. Dia mampu menyabet gelar Best Actress atas peran tersebut, mengalahkan saingan beratnya, Viola Davis in The Help.
Viola Davis is an American actress. Kalau masih ingat, pada tahun 2008 Viola Davis sempat mendapatkan nominasi Best Supporting Actress lewat film Doubt. Tahun ini, dia bermain cemerlang di The Help, sebuah film tentang seorang pembantu kulit hitam tahun 60an. Kehebatan dari Viola Davis adalah dia mampu melakukan long-shoot dengan satu kamera. Sebagai contoh di The Help, ketika scene dia menceritakan anaknya yang tewas, selama dua menit dia berhasil mengunyah script dengan tenang, berbaur dengan emosi yang maksimal, plus ekspresi wajah yang sempurna. Mulai dari air muka yang datar, sampai air mata berlinang, kamera tidak berpindah sedetikpun, still focus on her, Juara!!! Majalah People mengatakan “Viola Davis is awards-worthy…”
This year, tepatnya tanggal 26 Februari, akan digelar kembali Academy Awards ke 84 di Kodak Theatre Hollywood, atau biasa disebut the Oscar. Yang menarik dari Oscar tahun ini, adalah kategori untuk Best Picture, kali ini berisikan 9 nominasi judul film unggulan. Dalam sejarah Oscar, sejak pertama digelar, tahun 1927 sampai sekarang, belum pernah terjadi kalau kategori Best Picture berisikan 9 film nominasi. Bila dilihat kebelakang, disepanjang tahun 30an, awal 40an, 2010 dan 2011, nominasi untuk Best Picture, sempat berjumlah 8, 10 atau bahkan 12 judul film, tapi kalau 9, ini adalah kali pertama. Idealnya, sejak tahun 1944 sampai 2009, nominasi untuk Best Picture hanya (selalu) berisikan 5 judul film saja.
Dari 9 nominasi Best Picture, 7 judul film sudah saya tonton, The Artist, The Descendants, The Help, Midnight in Paris, Moneyball, The Tree of life dan War Horse. Hampir semua nominasi Best Picture tahun ini, memiliki tingkat original cerita yang berkualitas, karena menghadirkan tema yang fresh, unik dan menarik. Sebagai contoh film The Artist dan Midnight in Paris. Woody Allen dengan cerdas menggambarkan kota Paris dengan imajinasi yang tinggi, tanpa harus berkesan maksa dan norak, ditambah original screenplay yang jenius, menjadikan Midnight in Paris merupakan film yang sangat bermutu. The Artist, siapa yang akan kepikiran akan membuat film seperti itu? Berlatar kehidupan aktor film bisu di Hollywood tahun 1927, film ini sengaja dibuat black and white, karena memang untuk menunjang tema cerita film tersebut, The Artist is brilliant. Film lain, yang tidak kalah bagus adalah The Descendants, sebuah film drama keluarga menguras air mata. Menghadirkan tema yang berbeda, dikala film-film action super-hero bertaburan, film ini hadir di waktu yang pas. Buat saya film ini bagaikan penyejuk jiwa, ceritanya sangat menyentuh, seorang suami yang kehilangan istrinya. Kalau boleh memilih, dari 9 nominasi di ajang Oscar, Best Picture is The Descendants.
Hal lain yang juga membuat film The Descendants menjadi special adalah kehebatan akting George Clooney, dia mampu membawa penonton hanyut dalam kesedihan, Clooney gives the performance of his career. Apakah dia mampu menyandang predikat Best Actor di Oscar tahun ini? Sembilan puluh Sembilan koma Sembilan persen dia pasti bisa membawa pulang piala tersebut, mengingat para pesaingnya yang tidak terlalu berbahaya, mungkin hanya sedikit waspada dengan Jean Dujardin in The Artist, tapi sangat jarang French actor bisa menang di Oscar. Berbeda dengan kategori Best Actress, sepertinya para juri harus berulang-ulang untuk menilai, siapa yang layak menang di kategori ini? Ada dua kandidat kuat, Viola Davis in The Help dan Meryl Streep in The Iron Lady. Kedua perempuan tersebut memiliki kemampuan akting yang luar biasa bagus. Biasanya, bila ada dua kandidat yang sangat kuat, maka keduanya (justru) tidak akan ada yang menang. Hal tersebut pernah terjadi di ajang Oscar tahun 1950, pada saat itu semua kritikus menjagokan dua nama, Bette Davis in All About Eve dan Gloria Swanson in Sunset Boulevard, satu diantara mereka pasti akan membawa pulang piala, tapi kenyataannya, yang menang adalah Judy Holliday in Born Yesterday, benar-benar diluar dugaan. Bila hal tersebut terjadi lagi di Oscar tahun ini, kemungkinan yang akan menang untuk Best Actress adalah Michelle Williams in My week with Marilyn.
“Kalau misalnya loe menjadi juri Oscar, berandai-andai… Kira-kira, siapa yang akan loe menangin untuk Best Actress tahun ini?” Kata teman.
“Gue suka banget ama aktingnya Viola Davis, sangat natural, tapi gue juga punya pertimbangan tersendiri ama Meryl Streep, sejak film pertama dia, berjudul Julia di tahun 1977 sampai sekarang, dia udah mendapatkan nominasi Oscar sebanyak 17 kali, hanya nominasi! Terakhir menjadi Best Actress tahun 1982 di film Sophie's Choice, udah lama banget ‘kan? Dia ngga pernah menang lagi di Oscar!!! So, Pilihan gue adalah, Hhhhmmm… Meryl Streep aja deh…” Kata saya sambil menghela nafas.