WHEN JAPAN INVADES EUROPEAN
Sejak munculnya ajang kompetisi World Rally Championship (WRC) pada tahun 1973, mobil produksi negara-negara Eropa seperti Lancia, Audi dan Renault terlihat mendominasi kejuaraan bergengsi ini. Namun hal itu berhasil dipatahkan oleh Jepang lewat inovasinya dengan menciptakan mobil yang sangat kompetitif. Toyota merupakan pabrikan mobil Jepang pertama yang berhasil mematahkan dominasi mobil produksi Eropa. Pabrikan mobil asal negara matahari terbit ini memulai debutnya di rally Tour de Course pada tahun 1988 lewat Celica GT Four. Kemenangan pertama Celica GT Four diraih pada rally Australia pada tahun 1989.
The Classy Classic
“Wow, ini Bob Jackson?” Komentar ini sering sekali diterima oleh Joanna ketika ada orang yang mendekat dan mengamati sepeda miliknya. Harus diakui, sepeda milik wanita berkulit putih ini memang tampak “biasa” jika dilihat dari kejauhan. Namun, dibalik tampilannya yang “biasa”, sepeda ini ternyata memiliki kombinasi yang “luar biasa” jika dilihat dari dekat. Mulai dari frame hingga berbagai komponen yang ada di sepeda ini semuanya serba berkelas. Hebatnya, tidak seperti komponen lain yang biasanya secara mudah dapat dikenali lewat merek yang tertera dengan jelas, berbagai komponen kelas satu yang ada di sepeda ini seolah tidak ingin menunjukkan jati dirinya.
What's old is new again
Ungkapan pada judul diatas sepertinya sedang menjadi trend di berbagai bidang di seluruh dunia, termasuk di industri otomotif. Serupa dengan industri fashion yang umumnya mengulang trend yang pernah populer di masa lalu untuk kemudian menjadi hits lagi di masa kini, dunia otomotif pun belakangan ini mengalami kondisi tersebut. Berbagai jenis dan tipe mobil yang puluhan tahun lalu pernah menjadi idola dan hits di masanya belakangan ini seolah dibangkitkan lagi oleh para produsennya untuk memikat hati para konsumennya. Dan kondisi ini sepertinya menjadi trend baru di kalangan produsen otomotif di seluruh dunia.
God of Speed
Niat yang kuat disertai dengan usaha yang keras umumnya akan menghasilkan goal yang luar biasa. Bahkan, meskipun kadangkala goal yang ingin dicapai terdengar di luar akal sehat manusia, namun jika dalam pencapaian tujuan tersebut seseorang mau berusaha dengan keras niscaya hasil memuaskan bakal menghampirinya. Seperti kutipan kalimat penuh motivasi dari seorang bijak yang pernah saya dengar, “Setiap orang mampu melakukan apapun asalkan dia mau, karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini selama kita mau berusaha.”
Kisah legendaris dari seorang Burt Munro, pemegang rekor motor dibawah 1.000cc tercepat di dunia - yang ditorehkannya di Bonneville Salt Flats, Utah, AS pada tahun 1967 dan masih bertahan hingga saat ini – terasa pas untuk menggambarkan kondisi diatas.
Kisahnya berawal ketika pria yang lahir di Invercargill, New Zealand pada tahun 1899 dengan nama Herbert James Munro ini sudah terlihat menyukai kecepatan sejak kecil. Dibesarkan di lingkungan perkebunan, Munro kecil selalu menunggangi kuda dengan cepat. Beranjak dewasa, Munro semakin mencintai kecepatan, terutama dengan mengendarai sepeda motor. Di tahun 1914, atau saat usianya 15 tahun, Munro mendapat motor pertamanya yaitu Clyno, sebuah motor buatan Inggris. Enam tahun kemudian, Munro menjual motor pertamanya dan membeli motor Indian Scout berkapasitas 600cc, motor kesayangan yang terus dimodifikasi sepanjang hidupnya dan kelak menjadi motor yang mengantar Munro menggapai mimpinya sekaligus menempatkannya dalam sejarah.
Pada tahun 1940an, Munro mulai menorehkan beberapa rekor kecepatan di New Zealand. Di penghujung tahun 50an, Munro boleh dibilang sudah menjadi “penguasa” New Zealand dalam hal rekor kecepatan. Munro pun akhirnya memutuskan untuk mencoba “wilayah” baru guna memaksimalkan rekor kecepatan yang ingin diraihnya. Bersaing di padang garam Bonneville dan mencatatkan rekor yang lebih baik dari yang sudah pernah diraihnya di New Zealand menjadi cita-cita utama seorang Munro.
Meskipun hidup sederhana (dalam hal finansial) di New Zealand dan terpisah jarak yang cukup jauh dari Amerika Serikat, tempat padang garam Bonneville berada, namun niat Munro untuk menjadi yang tercepat di Bonneville selalu menjadi motivasi terbesarnya. Kesederhanaan pulalah yang membuat Munro terus berkreasi dan menciptakan berbagai peranti yang dirasa dapat meningkatkan performa Indian Scout kesayangannya. Munro diceritakan pernah membuat sendiri piston untuk motornya dari bahan pipa gas tua yang dipanaskan dan dilebur, dikombinasikan dengan bahan besi lain yang juga telah dilebur. Cams, parts mesin lain serta body luar berbentuk streamline untuk motor tercintanya juga diproduksi sendiri di garasi yang merangkap tempat tinggalnya. Kondisi yang sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan mayoritas pembalap saat itu yang semua proses modifikasi dilakukan di bengkel, dengan menggunakan alat dan parts canggih (di era itu). Setelah beberapa melalui beberapa proses modifikasi, akhirnya Munro Special, sebutan untuk Indian Scout kesayangannya pun selesai.
Setelah menunggu beberapa tahun dan memiliki tabungan yang cukup (saking sederhananya Munro dalam hal finansial, ia harus menabung bertahun-tahun untuk biaya keberangkatannya ke Bonneville dengan membawa serta sang Munro Special) dan dibantu tambahan biaya dari teman-temannya sesama pencinta motor, Munro akhirnya tiba di Bonneville pada tahun 1962.
Meskipun sempat ditolak untuk berkompetisi di Bonneville karena alasan administrasi dan motornya terlihat tidak layak, Munro akhirnya berhasil melakukan pencatatan waktu perdananya setelah dibantu oleh teman-temannya seperti Rollie Free dan Marty Dickerson yang adalah peserta senior di Bonneville. Di penampilan perdananya ini, Munro langsung berhasil mencatatkan rekor dunia dengan kecepatan 288km/jam dengan motor garapannya yang saat itu berkapasitas mesin 850cc. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1967, Munro yang saat itu berusia 68 tahun menaikkan lagi kapasitas mesin motornya menjadi 950cc dan kembali mencatatkan rekor dunia dengan kecepatan 295.453 km/jam. Bahkan pada saat sesi kualifikasi, Munro sempat menembus kecepatan 305.89 km/jam, kecepatan tertinggi yang pernah dicapai oleh motor Indian!
Kegigihan dan prestasi Munro akhirnya menginspirasi beberapa pihak untuk mengangkat kisah dan biografinya mulai dari lagu, layar kaca dan yang paling populer adalah di film layar lebar yang berjudul The World’s Fastest Indian karya Roger Donaldson, film yang kemudian meraih box office di New Zealand dan mendapat apresiasi positif di belahan dunia lainnya. Film ini bahkan dianggap sebagai salah satu film sepeda motor terbesar sepanjang masa. Dedikasi tinggi Munro terhadap motor pulalah yang membuat AMA (American Motorcyclist Association) Motorcycle menempatkannya di jajaran Hall of Fame pada tahun 2006. Suatu penghargaan yang layak untuk seorang Burt Munro.
Brad’s Bikes
Buat sebagian orang motor tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi, namun juga bisa menjadi sarana pemuas hati, terutama bagi mereka yang memiliki passion tinggi atas kendaraan roda dua ini. Motor dianggap bisa menjadi simbol status dan personifikasi diri apabila motor yang dimiliki merupakan hasil custom builder ternama atau versi pabrik namun diproduksi secara terbatas (limited edition).