Event / Recap

Menghadirkan Wishnutama, Riri Riza, Mira Lesmana, Tsamara Amany, dan Dialog Dini Hari sebagai Pembicara

Posted on August 24, 2017

Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-72, Bukalapak menggelar serangkaian acara untuk anak bangsa berkarya. Kemarin (23/8), Bukalapak mengadakan sebuah talkshow yang diberi nama BukaTalks dengan tema “Inilah Indonesia”, berlokasi di Plaza City View, Kemang, Jakarta Selatan. Dalam kesempatan tersebut, Bukalapak menghadirkan narasumber-narasumber yang inspiratif, kreatif dan inovatif. Diantaranya, Wishnutama (co-founder & CEO NET TV), Mira Lesmana (produser), Riri Riza (sutradara), Tsamara Amany (aktivis), dan Dialog Dini Hari (musisi).

BukaTalks merupakan inisiatif yang bertujuan untuk memfasilitasi anak muda Indonesia untuk meningkatkan kapasitas diri melalui sharing informasi berbentuk fourm diskusi yang diadakan setiap minggunya. Dalam edisi khusus kemerdekaan ini, para pembicara yang diundang oleh Bukalapak ini merupakan pelopor perubahan Indonesia masa kini yang bisa menginspirasi generasi muda penerus bangsa supaya bisa memaknai dan memanfaatkan kemerdekaan di era modern secara positif, dan memimiliki keinginan untuk berkarya demi menciptakan Indonesia yang lebih baik.

Dalam acara BukaTalks ini, para narasumber berbagi kisahnya dalam memanfaatkan kemerdekaan secara positif.

Sesi BukaTalks dimulai dengan cerita dari Tsamara Amany. Nama Tsamara Amany sebagai aktivis muda belakangan ini memang sering diperbincangkan karena keberaniannya dalam beraspirasi. Mahasiswi yang terjun ke dunia politik ini menilai kemerdekaan ketika semua orang terutama generasi muda sudah merdeka dalam beraspirasi.

“Kemerdekaan bagi saya adalah ketika semua orang, terutama generasi muda sudah merdeka dalam beraspirasi. Untuk itu, saya mengajak agar teman-teman muda berani bersuara untuk perubahan. Jangan pernah berhenti untuk beraspirasi, karena ketika suara kita menjadi tindakan, itulah awal dari sebuah perubahan yang besar,” ujar Tsamara Amany.

Selanjtunya, Wishnutama berbagi cerita mengenai makna kemerdekaan dalam menentukan tujuan. Keluar dari zona nyaman adalah sebuah langkah yang baik untuk menjadi lebih kreatif dan inovatif. Pria yang kurang lebih sudah 23 tahun bekerja di bidang industri media ini berani untuk keluar dari zona nyamannya untuk melakukan suatu hal yang baru.

“Ketika saya mengundurkan diri dari perusahaan sebelumnya, tujuan saya adalah keluar dari zona nyaman. Kenapa? Nyaman membuat kita tidak kreatif dan inovatif lagi. Saya harus keluar dan berkarya lebih lagi, membuat sesuatu yang baru. Orang menganggap saya sudah sukses, tapi tidak bagi saya. Setelah keluar, saya mencoba segalanya. Di tengah situasi struggling, manusia berusaha untuk menjadi semakin inovatif, belajar yang baru dan mulai yang baru. Tidak ada inovasi dalam kondisi yang nyaman. Berjuang untuk membuat inovasi yang berbeda. Jangan mengeluh dan lihat peluang agar memiliki pola pikir yang berbeda. Dunia sudah tanpa batas, sekarang bagaimana kita bisa merdeka di negara yang merdeka ini. Kreativitas dan inovasi harus dijaga, itulah perjuangan untuk merdeka di zaman millenial. Oleh karena itu, saya mendorong seluruh generasi muda Indonesia untuk memanfaatkan momen kemerdekaan ini dengan terus berkarya dan mengembangkan diri demi kemajuan bangsa Indonesia,” ujar Wishnutama Kusubandio.

Selain Wishnutama, Riri Riza dan Mira Lesmana yang sudah lama bergelut di industri perfilman Indonesia dengan karya-karyanya yang nggak diragukan lagi, seperti Laskar Pelangi, Petualangan Sherina, dan Soe Hok Gie ini turut bercerita mengenai kemerdekaan. Bagi Riri riza, membuat film adalah sebuah kemerdekaan dalam berkarya.

“Bagi saya, membuat film adalah kemerdekaan berkarya. Melalui karya, saya mendapat kemerdekaan untuk mengeksplorasi betapa kayanya Indonesia dan berupaya untuk menghidupkan kembali industri perfilman Indonesia. Untuk itu, bagi anak muda, belajar lah sebanyak-banyaknya. Buka horizon pemikiran. Sering pergi keluar, baca buku, dengar musik, agar kita bisa mengapresiasi dan berkarya sebaik-baiknya,” ujar Riri Riza.

Di kesempatan yang sama, Mira Lesmana juga menambahkan bahwa jangan takut untuk memiliki ide. “Jangan takut untuk memiliki ide. Dari ide, muncullah keinginan untuk berbuat sesuatu yang lebih besar. Ide muncul biasanya dari harapan kita untuk menjawab kegelisahan. Wujud dari kemerdekaan pikiran. Oleh karena itu, saya berharap bahwa generasi muda Indonesia dapat memaknai kemerdekaan kali ini lewat karya mereka di bidang masing-masing pula.” tutur Mira Lesama.

Sebagai penutup BukaTalks, Bukalapak menghadirkan band indie asal Bali yaitu, Dialog Dini Hari. Band yang mengusung genre blues, folk, dan ballad ini memaknai kemerdekaan dengan berekspresi dalam bermusik. Lewat musiknya, Dialog Dini Hari berusaha membawa pencerahan segar bagi insan penikmat musik Indonesia dengan ajakan yang sederhana.

“Bagi kami sendiri, Dialog Dini Hari merupakan tempat di mana kami bebas menuangkan beragam ekspresi. Lewat karya-karya kami, kami dapat berdialog dengan para penikmat musik di Indonesia. Harapannya, lewat musik kami, kami dapat menginspirasi semakin banyak lagi generasi muda di Indonesia untuk berekspresi dalam caranya masing-masing. Bentuk ekspresi itu bermacam-macam kok, tidak melulu lewat nge-band. Yang terpenting, selama kita mencintai apa yang kita kerjakan dan telah kita tanam, pasti akan menjadi hasil yang positif untuk kita,” ujar Dadang S.H. Pranoto, vokalis dan gitari Dialog Dini Hari.

Dalam merayakan berbagai makna kemerdekaan yang menginspirasi, selain BukaTalks, Bukalapak juga meluncurkan video digital yang ditayangkan di kanal YouTube Bukalapak berjudul “Sudah Indonesia kah Kita?” Tujuan dibuatnya video ini untuk menimbulkan rasa cinta dan bangga sebagai bangsa Indonesia.


(Photo Credit to BukaLapak)


  • Dwi Andini Witamasari

    Text


Related Articles