Face 2 Face / Profile

Cerita dari Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan Karir Adhitia Sofyan

Posted on April 12, 2017

Ketika memulai perjalanan musiknya di kamar, Adhitia Sofyan tidak pernah mempunyai ekspetasi tinggi. Namun, harapan akan suara lembutnya terus menghiasi telinga para penggemar musik hingga kini masih bertahan, bahkan terus bertambah. Tidak lupa juga, tentang bagaimana Ia sudah pernah diundang main di Jepang dan semua album yang didistribusikan di negara itu ludes terjual hingga ada permintaan perilisan tambahan.
 
Free berharap kalian ada di saat kami mewawancara pria kelahiran Bandung ini. Adhitia Sofyan adalah pria yang kalem dan lembut. Namun, di sisi lain tidak jarang Ia berguyon hingga kami lupa Ia adalah orang yang menyanyikan ‘Adelaide Sky’. Coba bayangkan, pada saat wawancara selesai Ia mengambil remote AC, ditempel pada telinganya seraya berkata “halo, Mas, wawancaranya sudah nih, tolong jemput sekarang”.

Dalam Freevia kali ini, kami menantang Adhitia untuk mengetahui seberapa ingat Ia terhadap lagunya sendiri. Kami menyebutkan potongan lirik yang diambil dari lagu-lagu miliknya, tapi diterjemahkan silang –Inggris ke Indonesia, dan sebaliknya–, lalu Adhitia harus menebak dari mana penggalan lagu tersebut.  


Selamat atas dirilisnya single ‘Seniman’. Kenapa memutuskan untuk ‘back to basic’?

Jadi ceritanya akhir tahun 2016, setelah kita bikin Silver Painted Radiance, gue merasa album itu ga se-well known yang gue mau dibandingkan album-album sebelumnya. Maksudnya, setelah album itu kita lepas, kan itu berbeda tuh dari format album-album sebelumnya, lebih ngeband. Ternyata orang masih memainkan album 1 sampai 3, jadi lagu-lagu di album itu kurang “didengar”. Seperti kalau gue mantau sosmed, twitter misalnya kan ada now playing, nah itu orang masih banyak muternya album 1 sampai 3. Tapi bukan berarti gue menyesal bikin album itu. Karena udah lama pengen bikin rekaman dengan format band. Apa terlalu ribet? Apa terlalu berisik? Sehingga kurang koneksi sama orang. Album itu gue pikir kurang promo juga. Gue pun merasa ada penurunan sebetulnya.



Bisa ceritakan mengenai single terbaru ‘Seniman’ ini?

Lagu seniman ini harusnya masuk ke album Quiet Down. Verse pertamanya itu udah ada sejak 8 tahun lalu. Cuma gue belum bisa ngelanjutin lagu itu, karena gue belum tau ini lagu idenya apa. Karena dengan lagu seperti ‘Adelaide sky’, ‘Memilihmu’ gue sudah terkunci singing about girls, relationship jadi gue menganggap lagu ini pun akan dihubungkan ke relationship. Jadi gue mulai lirik, “mencoba menghindar dari kejaran PR matematikaku”, terus di kepala gue mikirnya ‘ini apa hubungannya ya sama relationship?’. Akhirnya chord depannya gue pinjamkan dulu ke “Blue Sky Collapse”. Lalu ketika ada misi ingin bikin lagu Bahasa Indonesia, ini gue lanjutkan lagi “Seniman”. It turns out ya lagu ini nggak ada hubungannya sama relationship, ya emang tentang cerita si seniman itu aja yang doyan bengong, nunggu inspirasi.

Apakah Adhitia lebih nyaman menulis lirik bahasa Inggris?

Gue agak takut membuat lagu Bahasa Indonesia, takut klise, takut cemen. Kalo di kepala gue nggak unik banget, nggak dikeluarin (dirilis). Dan lagu Indonesia, kalo menurut gue beberapa second pertama harus grab attention. Jadi kita coba juga kembali ke album Quiet Down, merujuknya ke situ. Sama di-push lagu Bahasa Indonesianya. Buat temenin (lagu) ‘Memilihmu’.



Apa rilisan selanjutnya? free dengar akan berupa mini album?

Yes, kita bikin mini album dulu biar cepet jadi, pertama. Kedua, fokus, maksudnya lebih mudah membuat lagu sedikit tapi fokus, kalo album kan at least 10. Biasanya kan ada lagu-lagu yang dibuat untuk mencapai kuota tertentu, padahal lagu itu not necessarily strong, akhirnya kita bikin 10 lebih lagu, yang didenger paling hanya 4 misalnya, jadi ada beberapa lagu yang kurang didenger. Lima lagu termasuk seniman, udah siap di-master. Dalam waktu dekat kita mau rilis fisik dan digital. Lagu udah stand by.

Bagaimana ceritanya bisa tur ke Jepang?
Saya ditelpon, dapet email dari salah satu label Jepang, “Kita nemu musikmu nih dari internet, boleh nggak kami mau coba jual CD”. Jual sedikit-sedikit, akhirnya repeat order, kami kasih master licence, mereka cetak sendiri, album satu, album dua. Akhirnya itu ada undangan yang tidak disangka-sangka dari Tower Record yang di Shibuya. Gue diundang main ke sana untuk promo album, ya maulah, hehe. Itu adalah salah satu momen terbaik dalam catatan permusikan gue. Udah menjadi sesuatu di hati gitu, haha.

Dampak tur ke Jepang terhadap karir bermusik Adhitia cukup signifikan, ya?

Yes, dan nggak nyangka aja, dari cuma genjreng-genjreng di kamar tidur, hingga bisa dipanggil dan manggung di salah negara dengan iklim musik yang bagus gitu, ya. Merasa sangat diapresiasi sih.



Bisa diceritakan mengenai awal perjalanan karir Adithia bermusik? Hingga ada predikat Adhitia Sofyan sebagai “musisi kamar” yang kerap melekat.
Gue nge-burn EP pertama di ruko. Waktu itu kan minimal nge-burn 100 (copy).
“Buat apa saya punya 100 CD, saya mau 20”,
(menirukan pegawai ruko) “Nggak boleh mas, minimal 100”.
Tapi ya karena gue mau, ya gua bayar. Kemudian, dateng sekerdus. Dua puluh gue ambil, kerdusnya gue taro gudang, hahaha. Gue buka MySpace, masih jaman MySpace waktu itu, di MySpace gue bikin pengumuman, “Siapa yang mau CD, kamu (peminat) nggak usah bayar, ongkirnya juga gue bayarin”. Oh ya, dulu ya, gue tuh kuliah ya di Sidney, Australia 3,5 tahun tuh di kamar terus lho. Gue nyesel juga, haduh goblok amat, jalan-jalan kek, naek kereta ke Melbourne, kemana kek. Kalo inget tuh, bego amat, hahaha.



Musisi favorit dari Adhitia Sofyan?

Salah satunya, itu kaosnya lagi kamu pake itu (saya memakai shirt Frau ketika wawancara), gue bukan model yang rajin mendengarkan siapa-siapa, tidak terlalu update sih. Ada beberapa yang gue senang sih seperti Iron and Wine, City and Color, tapi City and Colour yang dulu-dulu yah, yang sekarang kan ngeband lagi yah, mau jadi Alexisonfire lagi apa gimana tuh? Hahaha.
Kalaupun gue mendengarkan musik, paling yang dimana gue tidak pakai kegiatan otak, misalnya lagi ganti senar gitar, lagi kutak-katik pedal board. Paling yang gue dengerin albumnya Fionn Regan lagi. Atau, oh, suka ada itu lho, ‘Indie Folk Compilation’, yaudah itu kan senada semua.  

Ikuti perkembangan Adhitia Sofyan di blog miliknya.






Adhitia Sofyan - Seniman

Adhitia Sofyan - Seniman (official audio + lyric)



Related Articles