Face 2 Face / Community

EDM Is Out

Posted on January 21, 2017

Beberapa tahun belakangan ini EDM (Electronic Dance Music) memang lagi banyak yang mendengarkan. Industri musik Indonesia pun menjadi salah satu yang terpengaruh oleh musik yang mengajak kamu untuk berdansa ini. Ada masa di mana EDM berada di puncak kejayaannya sekitar tahun 2013-2014. Mulai banyak DJ-DJ yang muncul dengan tema EDM dan bikin kamu jadi tertarik untuk mendengarkannya. Kolaborasi David Guetta dengan Usher mungkin jadi salah satu pioneer yang membuat EDM semakin menjamur. But, time by time, EDM pun mulai bergeser sedikit demi sedikit keberadaannya. Free! berkesempatan berbincang-bincang dengan Derrysick, Deva Zizlavsky, dan Bagas Abiana, para DJ yang tergabung dalam sebuah EO (event organizer) bernama M1/43. Perbincangan membahas seputar M/143 dan pergeseran EDM saat ini, serta event yang akan berlangsung hari ini. Let’s check this out!

M1/43 itu apa sih? Dan, dari kapan terbentuknya?

Derry:
M1/43 udah 15 tahun sekarang. Sebenarnya, M1/43 itu diambil dari tempat nongkrongnya anak-anak yang dulu ya, termasuk Eba, Mendawai 1 nomor 43. Jadi, di situ nongkrong orang-orang yang kebetulan suka dance music, sama orang-orang media, ada yang dari Hard Rock, ada yang dari Indika, dari Freemagz. Jadi, emang mereka, yaudah nongkrong, bikin acaralah bareng-bareng. Ada DJnya juga yang dulu resident dari Lava, resident dari klub-klub lama dulu itu yaudah bikin acara gabungan dari mereka-mereka aja, sampai terbentuk lah M1/43 itu, terus-terusan bikin acara.


Jadi, ini berarti ini sebuah komunitas? Udah berapa banyak anggotanya?
Derry: Bukan komunitas sih, jadi EO sih jatuhnya. Jadi, dari setelah Heineken Thirst  yang pertama itu DJ-DJnya masuk situ berkembanglah, mereka mulai narik-narikin orang-orang baru, yang muda-muda yang cari-cari EDM gitu. Sekarang re-generasinya udah lumayan jauh sih. Gue dulu belum nongkrong di situ soalnya, cuma gue tau ceritanya.

Nah, di M1/43 ini sendiri untuk genre musik yang diusung hanya terpaku dengan satu genre atau nggak?
Derry:
Sebenarnya awal-awal genrenya progressive sama trance, terus re-generasi masuk anak-anak ini semuanya trance kebetulan, jadi kita emang fokus di big club, X2, terus Stadium. Jadi, emang di club. Nah, sekarang udah mulai masuk ada house, techno.


Berarti kedepannya nggak menutup kemungkinan untuk ada genre lain lagi yang masuk?
Derry:
Iya, nggak menutup kemungkinan untuk genre-genre lainnya.


Tadi kan juga sempat bilang M1/43 re-generasi terus, gimana cara kalian merangkul anggota-anggota yang baru?
Derry:
Ini Deva baru nih kebetulan.

Oh, Deva baru banget gabung di M1/43? Kenapa baru gabung sekarang?
Deva: Gue nggak tau juga itu kenapa ya.

Apa karena diajak aja gitu?
Deva: karena mungkin ketertarikan gue sama musik electro ini dari 2007 sampai dengan 2015. Dari trance, dari zaman Derry baru main, terus sampai eranya EDM, sampai eranya Hip Hop, trap kemarin, sampai akhirnya gue belajar deh main. Dan, pengaruh besar untuk dunia musik ini sih Boiler Room tuh pengaruh besar loh sekarang. Hadirnya Boiler Room tuh sedikit meng-influence beberapa genre musik baru, inovasi orang ke arah bermainnya itu sangat berpengaruh sih. Dan, gue salah satu yang kena pengaruh itu, karena dulunya kenapa gue nggak belajar sih sebenarnya sih, gue ngeliat di situ banyak orang berkreasi sih dengan musik elektronik ini. Makanya, gue minta belajar dari Derry, diajarin, dia arahin gue gimana cara mainnya, tapi, untuk musik dia nggak kayak, “Udah, lo main trance!”, nggak sih, cuma dia hanya pelan-pelan jalannya gue main-main, cari lagu-cari lagu deh, ngarahin kayak, “Lo kayaknya cocok sih main techno”, dari situ gue mulai serius main techno, tech house.

Merasa kesulitan nggak sih untuk menyesuaikan diri dengan orang-orang di M1/43?

Deva: Yang menjadi motivasi gue sih ya mereka juga, yang menjadi gue mau belajar mereka juga, dari guenya ya kayaknya gue harus benar-benar serius sih selama gue latihan, selama gue dengerin musik, selama gue milih, sama kayak berapa kali gue main. Kayak besok nih contohnya, gue main sama beberapa DJ sih yang dulu idola gue lah, sekarang gue satu rig sama mereka tuh deg-degan sih. Ada Yorry, ada Indra7, sama ada Derry sendiri, terus kemudian ada Claudia. Ngomong-ngomong kualitas sih itu jadi kerja keras gue yang harus gue bawa have fun, keep up mereka untuk umur gue yang sekian itu menurut gue sih, gue harus latihan terus kayaknya.

Kalian ada influencer gitu nggak sih yang jadi panutan kalian dalam bermusik?
Derry: Nah, beda-beda. Kalau gue sendiri dulu belajar DJ mixing, trance, itu dari Armin. Gue dengerin podcast-nya Armin tiap tahun, “A State of Trance”, dari situ gue belajarnya. Gue nggak belajar dari orang, gue nggak belajar dari DJ-DJ di sini, gue belajar dari situ, abis itu gue cobain di rumah.
Abi: Gue kebetulan dari dulu musiknya gitu-gitu aja ya, nggak berubah. Mungkin kalau Derry kan dari trance ke techno. Mungkin ini bukan DJ yang terkenal banget, nggak kayak Armin segala macam, gue dulu ter-influence sama yang namanya Hip Beats sama Stop Project, dia main hard dance lah ya, walaupun sekarang mereka ngikutin perkembangan zaman, akhirnya jadi EDM-EDM zaman sekarang gitu. Ya, cuma influencer gue dari situ dan kebetulan memang sampai sekarang masih stay di situ sih, trance dan hard dance.
Deva: Influence-nya sih kalau untuk techno itu gue suka warna-warna dari DJ-DJ Jerman, sedangkan kalau tech house untuk DJ-DJ Latin, tapi, masih sekitar Eropa tuh influence gue sih. Tapi, secara personal nggak ada spesifik siapa sih, cuma gue seriing tuh ngeliat live mereka, live musiknya mereka main, gue perhatiin, gue lihat crowd, pilihan lagunya, kadanga-kadang pas misalnya si DJ A bermain di acara ini, oh, itu keren. Akhirnya gue lihat pilihan lagunya, gimana dia maininnya, mixing-nya, gimana mereka ngeliat crowd, itu ya influence gue sih. Banyak malah influence gue sebenarnya dari DJ-DJ lokal yang gue tonton, beberapa kali mereka main, nggak usah jauh-jauh dari terdekat gue juga udah ada influence, ada Derry, ada Dillan, Abi main, terus ada DJ-DJ techno, tech house yang beberapa kali main, sejauh ini influence gue mereka sih.

Tadi Abi kan bilang kan kalau musiknya gitu-gitu aja. Kenapa nggak coba ke genre lain?
Abi: Gue udah pernah nyoba, ini sama mereka juga gue nyobanya. Ya, mungkin kalau edisinya lagi event techno gue ingin coba nyelipin main lah. Ternyata pada saat gue coba mainin lagu lain, gue nggak dapat feel-nya, gue nggak bisa main akhirnya. Maksudnya, mungkin kalau orang yang ngeliat,”Kok flow lo gini sih?” gitu.
Derry:
Nggak ada nyawanya lah bisa dibilang. Jadi, gue emang nggak maksain dia untuk gabung di acara house atau techno yang gue bikin gitu, karena, gue punya acara trance sendiri dan dia nggak main nanti. Jadi, gue bagi, sekarang lebih memperluas M1/43 lah, kita udah masuk ke underground scene, kita udah masuk house sama techno scene, gitu.


Sekarang, pandangan kalian sendiri dengan EDM di Indonesia saat ini seperti apa?

Derry: Kalau di Indonesia yang gue lihat semenjak masuk EDM itu, generasi EDM itu mulai ada perubahanlah dari yang dulunya DJ-DJ itu bermain dengan emang slow, kita tahu bermain dengan emosi dan crowd-nya gitu, kita tahu kapan harus kasih nafas mereka, kita tahu gimana cara bikin mereka joged, semuanya. Nah, EDM ini emang mereka kayak yang gue lihat teknik mereka emang pumping terus, jadi kebawa ke mana-mana ini, genre lain kebawa nih. Nah, untuk sekarang, menurut gue EDM udah mulai turun karena emang diperkirain deep house, tech house, techno lah dua tahun ini yang lagi naik.

Sebenarnya, apa sih faktor yang memengaruhi bergesernya EDM ini?
Derry: ini in my opinion aja ya, gue juga nggak tahu faktanya. Menurut gue, orang pada capek sih, orang datang ke club untuk dengar musik yang buat joged sebenarnya, orang ke club itu kan emang untuk having fun kan. EDM ini, gue nggak tahu ya emang dikemasnya begitu di internationally, gue juga nggak tahu, cuma emang capek sih lama-lama, lo dengar beat-nya aja capek gitu, orang main sejam main EDM semua tuh capek sih menurut gue, gitu. Jadi, makanya sekarang orang lebih milih EDM itu digabung ke RnB, jadi mereka main nge-flow-nya, musiknya, EDM buat naikinnya, terus RnB buat flat-nya, buat nafasnya. Jadi, udah mulai kekotak-kotakin nih club yang mana ini mainin progressive, udah mulai balik lagi gitu kan, yang tadinya progressive club house pun dipasang EDM di situ. Sekarang udah mulai kotak-kotakin nih, oke deh EDM masuk ke club RnB aja gitu, lebih banyak kayak gitu yang sepenglihatan gue, ya.

Apa karena audience-nya juga udah mulai boring?
Derry: Iya, mulai boring karena mereka dengar itu di radio. Gue nggak tahu ya, kalau gue nyebut EDM di sini itu pop, karena yang gue dengar EDM ini yang nyanyi Rihanna, menurut gue artis pop kan. Jadi, EDM ini gue sebutnya pop music lah. Orang udah dengar itu di mobil, dengar di kamar mereka juga yang cewek-cewek, terus di club kayaknya ya capek sih lama-lama. Ada efeknya pasti capek. Itu sih sebenarnya basic dari perubahan-perubahan re-generasi.
Kalau begitu, EDM ini juga termasuk musik yang musiman ya?
Derry:
Iya, ini musiman juga.


Nah, yang kalian rasakan itu seperti apa? Kalau musiman kan pasti ada saat di mana lagi turun, terus naik lagi, turun lagi.
Derry: Yang kita rasain, ya kebetulan waktu EDM naik itu kita emang lagi break sih. Kita emang mutusin buat break karena semuanya udah mulai ada kerjaan lain.

Pas EDM lagi naik justru kalian break, kenapa?
Derry: Iya, kebetulan kita nggak ada yang main EDM juga sebenarnya. Pas trance progressive itu kita buat masuk ke EDM nggak bisa. Karena, kita punya karakter sendiri sih, musiknya kita emang punya karakternya sendiri walaupun kita main trance yang lumayan banyak yang main juga, semua progressive, cuma warna ita ada sendiri lah, gitu.

Lalu, gimana cara kalian menjaga eksistensi musik atau genre yang kalian mainkan ini?
Derry: Yang jelas, kita nggak berhenti berkarya aja. Maksudnya, kita event jalan terus, coba menyesuaikan sama yang ada, kita coba ajak main yang sekarang lagi hype, cuma ya kita atur biasanya di rundown, biasanya kita atur di situ sih. Jadi, ide kita yang mainnya progressive bisa dipasang sebelum si ini dan si ini, jadi kita mainnya di mindset seperti itu sih. Tapi, event kita jalan terus sih.

Hari ini juga kalau nggak salah ada event ya di Queens Head. Itu eventnya yang bikin M1/43?
Derry: Iya, M1/43.

Oke, event ini kan dikasih nama “Pure”, apakah ada alasan tersendiri kenapa nama itu yang dipilih?
Derry: Iya, itu event series baru dari M1/43 yang lebih ke tech house, house, techno, karena kan dulu punyanya acara selalu trance. Kita tuh lebih ingin ngeluarin kayak DJ-DJ yang main tuh ngeluarin idealis mereka, karena kita M1/43 ini sangat Pede dengan rundown yang kita atur, ngeliat dari perkembangan musik EDM sekarang ya. Jadi, kita lebih menarik orang datang ke sana tuh untuk ngeliat idealisnya DJ-DJ ini, emang menjadi diri mereka sendiri. Ya, itu sih basic dari nama “Pure”.

Nama “Pure” ini akan selalu jadi nama event-event selanjutnya? Dan, ada rencana bikin di luar kota nggak?
Derry: Rencananya sih iya. Dan ya, nggak menutup kemungkinan sih.

Itu di sana yang main ada Derry sama Deva kan dari M1/43. Itu pertama kalinya kalian main bareng di satu stage atau sebelumnya udah pernah main bareng juga?

Derry: Oh, nggak. Udah sering.

Nantinya akan ada satu event yang di mana pengisinya dari M1/43 semua atau sebelumnya juga udah pernah bikin yang kayak gitu?
Derry: Dulu kita selalu kayak gitu, dulu kita punya namanya Xtreme. Xtreme itu gue bikin emang khusus buat M1/43, acara M1/43 lah. Anak-anak M1/43 kita showcase di situ. Nah, setelah ini udah pada sibuk sendiri-sendiri ini, ya Xtreme itu kita vakum dulu, kita break dulu.

Nggak ada rencana untuk mulai lagi?
Derry: Ada sebenarnya, cuma belum waktunya.

Nah, jadi kalau untuk gabung dengan M1/43 itu apakah ada prosedur tertentu?

Derry: Nah itu, sejauh gue jalan sama M1/43 ini udah dari 2008, udah beberapa kali orang minta masuk gitu kan, dan nggak ada yang masuk aja gitu emang, ada aja kurangnya selalu. Karena, yang kita pikirin di sini emang pertama lebih ke solid temanannya sih, karena gue, ini kita bertiga, gue nggak perlu jelasin ke mereka, mereka udah ngerti pasti. Itu yang susah didapat menurut gue, chemistry itu lah.
Abi:
Karena, basic-nya M1/43 emang lebih ke tongkrongan teman gitu loh, bukan professional atau non-professional gitu.

Jadi, ini sebatas perteman terus bikin event-event gitu?
Derry: Nah, itu juga nggak bisa dibilang gitu, karena yang mau gabung dulu ini sempat main sama kita juga. Tapi, kualitas kita juga sangat memikirkan sih, kayak gimana lo bisa mixing, pilihan lagu lo gimana, karena banyak banget DJ sekarang yang dia nggak pilih lagu sendiri gitu, dia minta sama orang lain, “Eh, gue minta dong lagu-lagu lo, hard disk lo”, dia mainin, nah, itu udah sangat nggak mungkin masuk di kita. Lo harus punya karakter sendiri lah, lo punya jati diri sendiri.

Kalau gitu nanti kalau ada yang mau masuk, bekal apa sih sebenarnya yang harus mereka punya?
Derry: Dulu kita pernah ngetes satu orang itu, dia pertama, harus bikin event sendiri, “Lo bikin event buat kita”, bikinlah dia di tempatnya di mana aja kita terima lah. Terus kita atur rundown-nya, dia main di tengah gitu kan, itu pick hour yang menurut gue pressure-nya tinggi banget gitu. Dia main, baru tiga lagu atau empat lagu, langsung nggak. Ya, nggak tahu sih cuma kayak urutan lagunya yang mungkin saat itu dia masang lagu yang satu hard disk dideretin tiga lagu dari satu artis yang sama, menurut gue itu, “Kok kayak begini sih?” udah nggak bisa gitu. tapi, kalau ditanya untuk kriterianya gue juga nggak bisa jawab sih.


Untuk kedepannya, ada kemungkinan kalian dari M1/43 bikin album atau produksi musik bareng-bareng? Kolaborasi gitu?
Abi: Kalau Derry sendiri sih udah mulai produce sebenarnya. Nah, kalau gue baru setahun belakangan ini lah mulai coba produce, dan belum ada yang gue rilis sih. Dan, memang kebetulan musik gue agak beda sama orang kebanyakan, pasaran Jakarta ini. Jadi, gue masih mikir dua kali, tiga kali untuk waktunya ini udah bisa dirilis atau belum nih. Mungkin gue akan nyari waktu yang pas, atau mungkin nanti gue kolaborasi sama Derry nih biar dapet. Kan kebetulan sekarang Derry mainnya techno, kalau gue masih main trance. Ya, kalau bisa kita kolaborasi bareng untuk dapetin ambience yang berbeda.

Derry: Ya, segala kemungkinan bisa terjadi. Cuma yang jelas, kita yang penting emang visi kita buat bertahan kan. Kita nggak mau menembus apa-apa, buat mainstream-mainstream kita nggak mau tembus, cuma ya memang tanpa menghilangkan warna yang kita punya, kita tetap berkarya ya, itu even podcast tiap bulan, kita mungkin nanti akan bikin kompilasi, ya gitu-gitu aja. Tapi, kita nggak memaksa untuk produce, kita emang buat bertahan aja gitu, di sini, di M1/43 ini.  










  • Fariz Eka Kuswanda

    Photograph

  • Dwi Andini Witamasari

    Text



Related Articles