Face 2 Face / Profile

Actor, Band Member, Motorcycle Enthusiast, and Panda?

Posted on February 03, 2017

Tidak mudah lahir kedalam keluarga yang mempunyai reputasi dalam dunia seni, hal ini tidak pun dirasakan oleh Reuben Elishama Hadju Soerjosoemarsono. Meski begitu, lelaki kelahiran 18 September 1978 ini berhasil membesarkan namanya sendiri dibidang perfilman dan juga musik. Free! berkesempatan untuk berbincang dengan Reuben mengenai karirnya, Project Panda, dan @Kuskuskula.  

Lahir di keluarga seniman, apakah dari kecil memang sudah diarahkan untuk terjun ke dunia yang sama atau memang dari keinginan sendiri?

Oke, awalnya itu gue emang pas masih kecil itu kita semua anak-anak tuh les musik. Gue biola, kakak gue piano, tapi itu masih bukan datang dari diri sendiri. Maksudnya masih karena orang tua, “ayo-ayo kalian harus belajar musik” gitu. Terus pas masuk SMP, gue mulai meninggalkan biola karena menurut gue kurang cool dan akhirnya gue pindah ke gitar. Tapi kalau dibilang gue itu dari kecil emang diterjunkan untuk ke dunia entertainment, enggak juga. Karena pas udah mulai besar gue malah mikir, “nyokap gue udah di musik, di dunia entertainment, kakak gue udah, bokap gue juga,” gue malah justru pengen ngerjain sesuatu yang beda. Jadi sebelum gue terjun ke dunia entertainment, gue udah kerja macem-macem. Gue sempet juga di ekspedisi, muatan kapal laut, terus gue juga pernah kerja bisnis sama temen gue, gue pernah nyoba di EO juga. Tapi ada pepatah tuh yang bilang, “buah itu jatuh enggak jauh dari pohonnya”, emang ternyata jalannya itu lebih dibuka di entertainment. Tiba-tiba gue lagi main bola, ada orang nyamperin gue, dia nanya “mau gak, tertarik gak untuk masuk ke iklan? Nyobain iklan?”. “Aduh, saya gak bisa nih.” Karena dulu gue itu orangnya emang agak pemalu gitu sebenernya. Kayak di depan untuk perform terus ngeliat orang banyak gitu gue agak tegang, cuma akhirnya setelah di kasih tau “enggak, enggak ini gampang banget kok. Lo Cuma pegang bolpoint, terus abis itu lo kayak ngeliat kedepan terus lu senyum doang. Terus abis itu udah, beres, gitu”. Nah semenjak itu, pas gue bilang oke, gue akhirnya ke iklan itu pertama, akhirnya setelah itu gue makin nyaman. Dan film pertama gue, waktu itu Arisan. Akhirnya disitu gue ketemu banyak senior-senior yang sangat membantu dan gue belajar banyak dari mereka.

Setelah tampil di iklan, Anda sempat memutuskan untuk membentuk sebuah band (Channel) dan terjun ke dunia musik. Transisinya sedikit tidak lazim ya. Apa alasan saat memutuskan untuk ke dunia musik waktu itu?

Nggak tau deh, emang tiba-tiba aja sih. Spontan gitu, kayak akhirnya bikin Band sama temen, coba-coba bikin lagu, dan ternyata gue bisa juga bikin lagu sama temen-temen gue dan di-sign sama major label, Warner waktu itu. Udah akhirnya, ternyata perjalanan band Channel lumayan jalan tuh. Kita tour satu Indonesia, dan disitu gue di kasih pilihan, mau fokus di musik apa di film? Dan saat itu gue lebih milih di band gue. Setelah itu karena beberapa hal yang terjadi sama label rekaman tersebut, akhirnya kita bubar, dan gue kembali lagi ke film, tapi lebih sering di tv, Ftv, Sinetron, gitu-gitu. Untuk mulai masuk layar lebar lagi sih sebenarnya baru tahun ini lagi nih untuk film ini "Kisah Tiga Dara".

Tapi sekarang Anda mulai aktif di dunia musik lagi dengan band yang baru, The Alastair. Apakah ini karena kerinduan kepada dunia musik?

Nah, sebenarnya musik itu gue passion aja sih. Untuk nyari duit, gue dan temen-temen gue dari Alastair ini nggak terlalu mikirin. Tapi kalau emang bisa menghasilkan, itu bonus untuk kita. Karena kita berempat memang temen main dari SMP, dan satu circle juga social life nya, jadi ini salah satu yang gue pelajarin, untuk membuat band itu bukan hanya sekedar “oke lo bisa main gitar, lo bisa main bass, lo bisa ini, tapi yaudah abis itu kita bikin band” karena band itu disebutnya dysfunctional family. Lo tuh menciptakan sebuah keluarga, jadi hubungannya juga harus bagus. Nah dengan yang Alastair ini, kita emang udah tau luar dalamnya, jadi kalau emang misalnya sampe ada apa-apa juga gontok-gontokan di depan abis itu udah beres. Jadi dengan Alastair ini, kita bisa menyalurkan semua kayak passion kita di musik.

Anda mulai masuk industri perfilman pada film “Arisan” karya Nia Dinata. Bisa ceritakan bagaimana Anda akhirnya mendapatkan peran tersebut?

Awalnya, itu gue cameo doang sih awalnya. Di tawarin nama karakternya juga Ruben. “Ayo dong ben, bantuin dong.” Yaudah akhirnya dibantuin, disitu gue sebagai guru bahasa Spanyol, tapi yang kayak di temenin sama tante-tante. Bisa di bilang gue kayak gigolo juga. “oke, oke boleh cobain nih, kocak juga nih karakternya nih.” Disitu adalah film pertama yang bikin gue akhirnya belajar banyak dan mulai nyaman di dunia itu. Setelah itu gue main Berbagi Suami, sama Teh Nia (Dinata) juga dan film Kangen sama BCL (Bunga Citra Lestari), Karena kalau di film itu gue milih-milih banget sih, jadi emang jarang gitu gue main.

Apa yang menjadi pertimbangan saat memilih film?

Nomor satu yang pasti ceritanya harus bagus, dan gue nggak mau dari film “Arisan” yang sangat bagus feedbacknya dari orang, level gue turun gitu dari film itu. Gue pengennya kita naik terus kalau di film. Kalau di FTV bodo amat deh gue. Gue ibaratnya mecun-mecun deh. Jadi ya kalo di FTV, yaudah lah ya, lo seadanya aja. Jadi kalaupun emang jelek pun, yaudah nggak apa-apa soalnya gue cari duit. Tapi kalau di film, gue sangat picky karena gue pengen image gue bagus di film.

Tahun lalu Anda terlibat di proyek film “Ini Kisah Tiga Dara”, yang termasuk restorasi film “Tiga Dara”.
Menurut Anda seberapa penting sih film-film Indonesia zaman dulu direstorasi lagi untuk generasi-generasi sekarang?
Oh, itu penting banget karena film-film zaman dulu itu menurut gue isinya lebih berbobot dan semuanya jelas, temanya jelas, dan mereka lebih jujur. Jadi menurut gue penting banget karena setelah gue liat restorasi tiga dara, gue sebagai anak-anak zaman sekarang kayak “gila bagus banget ya”. Maksudnya dengan set, dengan lokasi yang cuma segitu aja kok gue nontonnya bisa enak banget ya? Jadi film itu nggak harus cari set yang bagus, lokasi yang bagus, sebenernya cara mereka mengeksekusinya itu yang penting.

Anda juga pernah masuk ke dunia teater. Bagaimana proses adaptasi dari akting di film ke akting di sebuah teater?

Nah itu dia, gue orangnya suka menantang diri gue sendiri, sampai dimana sih limit gue sebagai aktor sebagai pemeran seni? Pas gue di tawarin, gue langsung mau. Gue tau banget dengan ikutan teater itu, gue pasti akan mengasah diri gue juga sebagai aktor karena beda banget, lebih banyak monolog. Kalau di film, lo masih ada “cut” gitu. Oke lagi action tiba-tiba salah, cut, diulang nggak apa-apa. Kalau di teater, nggak ada. Lo main satu babak sampe wasit niup pluit baru beres. Yaudah akhirnya gue cobain, emang latihannya jauh lebih intens, dan waktu itu gue berdua doang. Judulnya Sukreni Gadis Bali, waktu itu sama Kang Wawan (Sofwan), dia lumayan termasuk yang bagus juga untuk teater. Akhirnya gue pas nyobain, itu kira-kira shownya 15-20 menit, cuma gue sama pasangan gue ini. Emang deg-degan juga sih, pas kelar lega banget dan Alhamdulillah sih bisa.

Baru-baru ini Anda punya proyek baru yang berjudul “Project Panda”. Bisa ceritakan sedikit mengenai proyek ini?

Project panda ini, director dan produser nya emang pengen bikin sesuatu yang out the box dan pas ditawarin, gue tau Dom Darmo, director nya. Gue udah sering main film sama dia, tapi film pendek. Gue tau banget si Dom-Dom ini eksekusinya, dia cara warna-warnanya, ngambil warnanya tuh gue suka banget. Makanya di film Project Panda ini pas gue ditawarin, gue langsung mau. Dan film ini, sebenernya sih pengen ngasih tau bahwa sistem di pemerintah kita nih bobrok banget. Dan Project Panda tentang seorang James Wang, dia itu seorang scientist, dia seorang chemist yang awalnya itu dia pengen membuat cure untuk suatu penyakit tapi karena dia sangat membutuhkan uang untuk itu, dan karena istrinya sedang sakit, akhirnya dibikin ecstacy. Dan disitulah mulai ceritanya. Dari dia tadinya bikin yang buat obat malah bikin sesuatu yang lebih. Disini gue berperan sebagai clubber aja, gue emang suka nightclub gue suka club-scene dan akhirnya gue jadi “BD” nya, gue yang jual-jualin.

Jadi, filmnya mengenai drugs dan agak bermain dengan mental issues juga ya? Melihat zaman sekarang orang-orang pemerintahan banyak yang mudah tersinggung, Anda tidak khawatir?

Biar aja nyentil dikit, biar mereka tau kita nggak bego-bego amat kok. Kalau mereka marah berarti bener tuh. (tertawa) Iya kan? Kenapa mesti marah? Tapi ini bukan buat layar lebar kok, jadi santai lah.

Jadi berbentuk web series?
 
Iya, web series, jadi dibagi jadi 10 episode, tapi pas screening nya sih full movie.

Berarti screening nya selama 10 jam atau hanya satu 1 episode?

Oh enggak, jadi kita tuh bikinnya ini semua full movie, cuma durasinya dua jam lah. Tapi nanti dari dua jam itu dibagi jadi 10 episode. Ada yang 10 menit ada yang cuma 5 menit, ada yang cuma 3 menit, ada yang banyak.

Dari mana muncul ketertarikan Anda terhadap custom motorcycles?
Iya, gue dulu awanya sepeda, lowrider pertama kali. Gue suka lowrider karena dulu gue masih belum boleh naik motor sama nyokap gue, jadi sepeda dulu lah. Terus dari lowrider gue main fixed gear, setelah ada satu film yang mau nggak mau gue harus bisa naik motor, akhirnya gue diskusi sama nyokap dulu, “Mah, gimana nih mah, kalau misalnya sampe ini aku nggak bisa shooting nih?” “yaudah, tapi jangan ngebut-ngebut ya?” “iya..iya..” dan akhirnya mulai bisa. Gue belajar naik motor gigi tuh di film itu. Sebelumnya gue bisa cuma naik motor matic doang. Dari situ gue akhirnya jadi “oke juga nih ya, motor pake persneling, pake gigi. Akhirnya gue bikin, gue custom. Gara-gara suka banget cafe racer sih. Buat cafe racer, dari youtube gue liat, segala macem tuh keren-keren banget yang bentuk motor aslinya jelek banget gitu, terus akhirnya di custom jadi bagus banget gitu, gue jadi tertarik banget disitu.

Sebenarnya Anda bisa saja membeli motor yang sudah jadi, mengapa memilih untuk membangun custom?

Sensasinya beda sih, lo bikin sendiri, yaudah nih motor lo nih. Kalau misalkan beli dari orang, kayak orang lain tuh “ini kan motornya si ini nih”. Lebih personal. Karena motor sama mobil beda kan, lo kalo motor tuh kayaknya you ride your soul,man!

Apa arti dari username @kuskuskula di Instagram?

(tertawa) Dengan pekerjaan gue sebagai aktor atau musisi, yang pasti akan banyak dikenal orang, secara emang itu udah bagian dari resiko kerjaan. Cuma dulu gue nggak mau. Gue mikir gue nggak mau privacy gue keganggu, jadi gue bikin semua tuh nama alias, nama samaran. Kuskuskula itu mungkin dulu gue lagi suka banget binatang kuskus, sama suka drakula. Jadi kuskuskula. Untuk gambar-gambar gitu, kuskus ada taringnya, tolol-tololan aja.

Art
menurut seorang Reuben Elishama.

Buat gue, Art itu adalah suatu karya yang datang dari hati yang paling dalam. Art itu sesuatu yang jujur yang mengekspresikan diri lo. Kalau di film, lo ditantang untuk menjadi orang lain, yang jauh banget dari diri lo aslinya. Kalau di musik, kenapa gue milih musik itu sebagai passion gue juga? Karena di musik gue bisa jadi diri gue sendiri. Orang mau suka nggak suka, tapi ini ya musik gue, ini karya gue. Gue lebih baik melihat 10 orang doang yang nonton show gue, tapi mereka sangat menikmati musik yang gue kasih dari pada gue main musik yang nonton ribuan orang dan mereka cuma ngikut doang. Gue lebih mengapresiasikan seperti itu.

Tempat favorite untuk hangout di Jakarta?
Tempat yang ada live music nya, dimana aja.

Kota favorite di dunia yang pernah lo datengin?

Yang pernah gue datengin? New York. Karena gue ngerasa diri gue belong, gue kayak cocok disitu, orang-orangnya juga sama seperti gue.

Junk Food favorite?

Cheese Burger

Musik atau Film?

Musik. Musik film, hahaha nggak boleh ya?

Terakhir, perempuan ideal yang seperti apa?

Yang nggak ngebosenin, dan smart sih. 



Project Panda Trailer


  • Fariz Eka Kuswanda

    Photograph

  • Joshua B. Malaihollo

    Text



Related Articles