Face 2 Face / Profile

"Surround yourself with the right people, find that motivation and if you have a plan, just go ahead and do it."

Posted on May 10, 2017

Nama Adinia Wirasti sudah termasuk di dalam daftar aktor dan aktris berkualitas di Indonesia. Wanita yang memulai karirnya di industri perfilman sebagai Karmen di film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) ini telah meraup dua penghargaan di Festival Film Indonesia sampai saat ini. Selain terkenal sebagai aktris, perempuan yang kerap disapa Asti ini juga menjadi seorang icon dan inspirasi untuk healthy living bagi banyak orang. free! berkesempatan untuk menemui pemeran karakter Anya di film Critical Eleven ini untuk berbincang mengenai cara mendalami karakter, arti hidup sehat, dan persaingan ketat soal alis antar wanita.

Bisa ceritakan sedikit mengenai film Critical Eleven?

Critical Eleven diadaptasi dari sebuah novel best-seller milik Ika Natassa. Sebenarnya novel ini sudah terbit beberapa tahun yang lalu dan akhirnya dari tahun kemarin mulai dikembangkan menjadi film layar lebar oleh Legacy Pictures dan Starvision. Film ini bercerita tentang pasangan muda yang sedang struggling akibat suatu tragedi yang terjadi di tahun-tahun awal pernikahan mereka, bagaimana mereka overcome that tragedy, dan akhirnya mereka menemukan cinta kembali.

Apa yang membuat Anda tertarik untuk berperan di film ini?

Sebenarnya karena ini tentang rasa. Kenapa saya bekerja dibidang ini is as simple as saya ingin berbagi rasa dengan penonton. Saya ingin saat menonton film saya di bioskop, penonton bisa merasa “ih gue juga pernah merasa begitu, at least I’m not alone.” I just want to share those feelings and emotions. Buat saya, film itu adalah media yang somewhat friendly untuk menginspirasi atau memotivasi banyak orang untuk menjadi lebih baik.

Apakah ada sebuah kriteria yang selalu Anda cari saat memilih peran?

Saya biasanya meminta untuk di-pitching ceritanya atau saya baca skenario. Jadi kalau di halaman kelima atau keenam saya belum merasa ada gregetnya, biasanya saya nggak main. Jadi benar-benar rasa aja sih.



Dalam film ini, Anda berperan sebagai Anya, seorang calon ibu muda. Bagaimana proses Anda dalam mendalami karakter?

Macam-macam sih. Biasanya saya mempunyai yang namanya hot object. Ketika saya pakai, pegang, atau benda itu ada didekat saya pada saat shooting, objek itu membentuk saya atau memberi sesuatu seperti benteng yang membatasi “oke, ini territory karakter lo” jadi saya tidak bisa keluar dari lingkaran itu. So far, it helped a lot, karena saat pulang ke rumah, hot object itu udah nggak dipegang lagi, dan saat saya pegang, saya mulai ingat seperti apa karakter yang saya perankan. Setiap peran berbeda. Ada peran yang membutuhkan saya untuk berbicara dengan orang banyak, dalam artian, saya harus research. Misalnya karakter Anya, saya harus berbicara dengan ibu-ibu yang pernah kehilangan bayinya atau berbicara dengan teman-teman saya yang di dalam pernikahan di bawah lima tahun. I’m not married yet, I’m not a mother yet, jadi lebih banyak berbicara dengan orang-orang yang berpengalaman dan akhirnya mem-portray hal-hal tersebut di dalam frame sang sutradara.

Barang apa saja yang bisa digunakan sebagai hot object?

Cincin kawin, anting, atau gelang. Se-simple itu sih. Think about it, pasti masing-masing orang mempunyai barang yang selalu mereka pakai pada masa ke masa. Misalnya “oh gue lagi pakai gelang ini for the past three years.” Ketika kita meninggalkan gelang tersebut dan move on to another object, saat kita pakai objek itu lagi, “waktu gue pakai gelang ini, gue inget bla bla bla”, karena semua orang punya nostalgic reaction dan itu sebenarnya yang ada di dalam hot object yang saya pakai.

Jika Anda diberi kesempatan untuk bermain di film apapun, peran apa yang Anda inginkan?

Pengen peranin villain di salah satu cerita Disney. Maleficent, tapi itu udah diperanin ya, Mungkin Ursula atau karakter lain, tapi villain-nya (tertawa).

Tidak mau menjadi salah satu karakter Disney princess?

 Nggak lah kayaknya, atau Pocahontas (tertawa). Ngomong gila itu namanya.



Apa yang biasa Anda lakukan, selain berolah raga, saat waktu luang? 
Travelling. Kabur (tertawa). Traveling itu adalah waktu saya beristirahat. Saya akan pergi ke Belanda selama satu bulan, ini waktu saya untuk recharge ilmu, lihat musium lagi, baca buku-buku yang nggak ada disini, melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat di Indonesia. Karena what I do for a living, I need to see human connection, how life goes on, dan pandangannya harus selalu dibuka. 

Dengan schedule yang lumayan padat, bagaimana Anda menemukan waktu luang untuk melakukan sesuatu yang di luar pekerjaan?

Harus dibuat. Waktu luang, waktu olah raga, waktu untuk diri sendiri harus disisihkan dan harus dipilih. Jadi memilih mau kerja, mau istirahat, atau mau hang out sama teman-teman, dan memilih untuk traveling. Tapi harus dijadwalin dan dikomunikasikan kepada tim.

Kapan Anda mulai tertarik dengan kegiatan berolah raga?

Sebenarnya dari kecil sudah aktif banget, tapi banyak cedera. Ada cedera tulang lutut Osteo Sclater, ada Scoliosis, dan dulu sudah disarankan tidak boleh olah raga yang terlalu high impact oleh dokter tulang, tapi I keep doing wall climbing, basketball, roller blade, capoeira yang akhirnya menjadi lebih parah. Waktu kecil saya tidak diperkenalkan dengan olah raga yang developing our muscles untuk punya sendi dan organ yang lebih kuat. So what I knew is I have to stop sports dan diet supaya nggak gemuk saat tiga belas tahun. Justru setelah main film saya berhenti olah raga dan akhirnya lifestyle-nya jadi berantakan. Mengurus sih, tapi jadinya nggak sehat. Turning point-nya tahun 2010. Merokok mulai nggak enak, bangun pagi merasa bau. Akhirnya I decide to quit smoking karena batuk terus. Tahun 2011 saya didiagnosa mengidap penyakit TBC dan menjalani pengobatan setahun. Dokter mengharuskan saya untuk maintain berat badan, jadi setiap dua minggu saya harus check-up untuk memperhatikan berat badan dan saya harus mulai olah raga cardio. Karena paru-paru saya udah tidak normal, paru-paru saya rasanya mau meledak. Dari situ, saya mulai olah raga yoga, belajar pernafasan, dan meditasi. Dari yoga mulai ke TRX karena bosen (tertawa), setelah itu diperkenalkan kepada Zumba, running, dan sekarang semuanya dicampur.

Arti dari “Hidup Sehat” bagi seorang Adinia Wirasti?

 Hidup sehat untuk saya adalah ketika kita bisa bangun pagi dan tersenyum. Enak badannya, tahu apa yang mau dilakukan hari ini, dan tahu kapan kita punya tenaga dan kapan kita lelah.



Apa yang membuat Anda termotivasi untuk terus berolah raga dan hidup sehat?

Pengen tuanya lebih sehat sih (tertawa). I mean, we’re growing old. Terutama untuk perempuan, saat sudah memasuki umur 30, bahkan dari umur 29 ke 30 yang beda hanya beberapa bulan, drop-nya terasa banget. Kami punya ticking clock yang berbentuk pertanyaan “kapan punya anak?” bukan karena dorongan keluarga, tapi kesiapan ovarium dan rahim untuk hamil, karena reproduksi telur seorang wanita diatas 30 tahun dan 35 tahun turunnya drastis sekali. Bahkan ada beberapa orang yang diumur 30 tahun memutuskan “I’m going to freeze my eggs, so my eggs stay 30. If I want to have kids at 40, I still have 30 year old eggs,” (tertawa). Dengan umur saya saat ini, saya belum menikah dan mempunyai anak, jadi saya ingin dalam keadaan yang fit saat saya menikah dan punya anak. Jadi investasinya harus dari sekarang dengan olah raga yang teratur dan mindset sehat.

Banyak orang-orang, khususnya para wanita, yang menjadikan Anda sebagai role model atau inspirasi mereka untuk mulai berolah raga dan hidup sehat. Bagaimana tanggapan Anda?

Seneng banget. Sebenarnya salah satu hal yang perempuan butuhkan saat ini adalah empowerment. As a women nowadays, kita lihat di Instagram aja… persaingan ketat, say (tertawa). Kalau mentalnya nggak tebal, bisa backfire ke diri mereka sendiri. Saya sedang sering mendapat pertanyaan “apasih arti emansipasi wanita sekarang?” Menurut saya udah bukan soal kesamaan hak dengan laki-laki. Think about it, laki-laki tidak hamil, tidak mengalami period, tidak menyusui, jadi hak-hak perempuan yang bekerja harusnya jauh lebih banyak dibanding laki-laki. 80% dari perempuan yang kerja, pada saat mereka hamil dan sudah melahirkan, pasti mereka cuti dan akhirnya tidak bekerja untuk tiga tahun kedepan karena mereka harus ada untuk anaknya. Padahal mereka adalah perempuan-perempuan yang produktif dan dinamis hidupnya, sudah bukan seperti Kartini zaman dulu yang dipasung di rumah dan tidak boleh keluar. Jadi, menurut saya, emansipasi wanita itu sebenarnya sudah bukan kesetaraan gender lagi, tapi justru empowering women untuk tahu dimana posisi mereka di dalam sebuah komunitas atau hidup dia. Yang anak-anak (zaman) sekarang perlu tahu bahwa hidup itu bukan Instagram. Life is not just about those 4x4 squares atau cinemascope yang setiap hari mereka lihat di telefon. Put your phone away for five hours a day, nggak usah 24 jam, I understand you need to look at your phone (tertawa), just 5 hours a day. You will see things in the world, dibanding “eh liat deh. Masa dia gini sih?”. I feel very blessed and very lucky punya pengalaman yang memang awalnya tidak enak, tapi sekarang akhirnya saya bisa berbagi dengan perempuan-perempuan muda agar mereka mempunyai motivasi. Semoga I can touch their heart, to know how it feels to be an empowered women, dan itu penting banget untuk perempuan-perempuan sekarang, apalagi yang tinggal di kota-kota besar seperti ini karena… ya… persaingan ketat, say! Soal alis aja persaingannya ketat antar perempuan sekarang, ya kan? (tertawa).

Saran apa yang bisa Anda berikan kepada mereka yang ingin memulai untuk hidup sehat?

Mencari niat dari dalam diri sendiri. Itu aja dulu. Second of all, and this is very important, just get up and do it, jangan diem aja. Don’t plan to plan, just do whatever you want to do. Sebenarnya, terus gerak aja sih, itu akan berpengaruh kok dan itu cepat. Tapi ya harus ada niat dan ada goal ya. Walaupun kadang goal pun juga kalah sih. Kalah dengan ajakan temen untuk pergi, apalagi olah raga pagi pada weekend. Itu sebenarnya pilihan, it’s your own choice. Buat saya dan komunitas kami di Sana Studio, kita senang olah raga bersama minggu pagi. Karena setelah olah raga, kita berkumpul dan akhirnya sehat bersama-sama. Kami semua sadar bahwa ketika mau sehat, kita harus surround ourselves with the right community, pada saat teman-teman kita tidak mempunyai tujuan atau keinginan yang sama, sangat susah untuk jadi sehat. Jadi surround yourself with the right people, find that motivation and if you have a plan, just go ahead and do it.  

Critcal Eleven mulai tayang di bioskop 10 Mei 2017


  • Fariz Eka Kuswanda

    Photograph

  • Joshua B. Malaihollo

    Text



Related Articles