Face 2 Face / Profile

Bonita & the Hus Band Tentang Album "Rumah"

Posted on December 20, 2016

Kamis, 15 Desember 2016, Bonita & the Hus Band merilis album kedua mereka yang bertajuk "Rumah", berlokasi di kediaman Bonita dan Adoy di kawasan Cinere. Dalam rangka perilisan album kedua ini, Bonita & the Hus Band juga sekaligus melakukan live streaming melalui akun YouTube official mereka. Live streaming ini juga termasuk dalam rangkaian kegiatan yang memang sudah rutin mereka lakukan, yaitu Home Concert: Live at Rumah Bonita. Band yang sudah terbentuk dari tahun 2006 ini beranggotakan Bonita (vokal), Adoy (gitar dan vokal), Barata (perkusi dan vokal), dan Jimmy (saxophone). Free! berkesempatan untuk hadir dalam acara perilisan album "Rumah" tersebut dan juga berbincang-bincang seputar album "Rumah" bersama Bonita.



Konsep album “Rumah” itu seperti apa?
Bonita: Gimana ya? Konsep album “Rumah” itu rumah, diawali dengan kegiatan kami berempat yang banyak berhubungan dengan musik, itu pasti nangkringnya di sini (rumah Bonita), terus semua ide yang dijadikan musik itu biasanya selain di tempatnya Barata sama Jimmy, tapi emang lebih sering ngumpulnya di rumah Bonita. Abis itu, ditetapkanlah untuk rekaman di rumah, mengingat bisa mengadakan beberapa benda lagi untuk rekaman, akhirnya kami rekaman di rumah, suasananya itu kalau didengerin emang guyub dan rasanya emang rasa di rumah banget sih. Teman-teman yang ngisi di sini yang dari luar kota itu nginepnya di sini. Jadi, konsepnya ya rumahan. Rekamannya di rumah, mixing-nya di rumah, bikin di rumah gitu.

Kenapa milih “Rumah” jadi judul album?
Bonita: Karena, ini emang sebenarnya rumah yang ideal buat kami sih. Gue dan Adoy, musik itu bukan hal yang terpisah dari kehidupan kami, kehidupan kami itu selalu dinaungi sama musik, dari pekerjaan, dari kegiatan sehari-hari semuanya selalu bersinggungan sama musik, so, itu salah satunya kenapa kami bikin “Live at Rumah Bonita” juga, home concert ini. Jadi, dengan keseharian musikal kami atau non musikal yang pastinya kembali ke musik juga itu di rumah. Jadi, kenapa nggak melakukan semuanya di rumah dan kenapa nggak judulnya “Rumah” gitu.

Ada kesulitan-kesulitan apa aja sih? Kan pasti beda rekaman di rumah sama rekaman di studio.
Bonita: Beda banget. At least, rumah kami ya, ada loh rumah yang punya studio yang mumpuni gitu ya. Kalau kami ya idenya adalah ingin melakukan rekamannya di rumah, udah nggak peduli tuh pokoknya yang penting alat, alat ada, masalah tempat udah gampang deh, tempat rekamannya nggak berkedap suara, itu dulu ruang kerjanya Adoy, nggak ada AC, panas luar biasa, kalau misalnya take itu biasanya Barata dan Jimmy tiap kali rekaman di sini itu bawa kaos lima, karena keringetan terus, basah kuyub terus. Ada bunyi air (pompa) gini, kita mesti berhenti, ada bunyi Adzan kita harus berhenti, ada bunyi pesawat yang lagi sering lewat kita harus berhenti, hujan kita harus berhenti, itu kesulitan yang luar biasa, tapi, bukan berarti nggak bisa gitu. Terus karena kita provide sendiri tentunya masalah budget cukup meringankan, lebih minim ketimbang kami harus recording di tempat orang, budget untuk sewa, dan kita nggak bisa seenak udel kan, kalau di sini akhirnya kami belajar untuk nggak seenak udel juga karena seenak udel itu mengganggu proses lamanya berjalan si rekaman, itu tuh kami belajar banget. Cuma jadinya, karena di rumah sendiri, di tempat yang familiar jadi nyaman, ada rasa itunya sih.

Single pertama dari album “Rumah” ini kan ‘Bromo’ ya. Kenapa yang dipilih ‘Bromo’? Apa sih yang spesial dari Bromo sampai cover albumnya juga di Bromo, kenapa nggak gambar rumah?

Bonita: Jadi, waktu gue baru belajar main Ukulele, nggak lama sebelum itu gue ke Bromo, ke Jazz Gunung, tahun lalu. Gue mendapat panorama yang luar biasa indah di sana, I wish my family with me. Berdasarkan inspirasi itu, pulang ke Jakarta belajar main Ukulele, mulai genjreng-genjreng, terus wah jadi nih satu lagu, dengan gue bermain Ukulele aja support dari Barata, Jimmy, dan Adoy itu luar biasa, “Wah, gila dia main alat, hore! Ayo-ayo bikin lagu, bikin lagu,” terus gue kasih dengar lah si lagu itu, belum jadi lirik masih “tong teng tong teng,” masih gitu doang, “Kembangin dong, ayo diselesaikan dong, masukin ke album,” gue bilang, “Gue nih mau masukin ke album solo gue rencananya,” “Udah masukin sini aja”, kata si Barata. Jadi lagu, yang bikin gue terharu adalah mereka senang, mereka suka lagu itu, dan langsung udah masukin album, langsung semangat latihan, take raff dulu dan segala macamnya, terus Barata sih yang langsung banyak ide, “Wah, ini kalau misalkan bisa dibikin di Bromo seru banget,” gila we don’t have any money dan segala macamnya. Terus akhirnya long story short, si Febriansyah Marcel (sutradara video klip ‘Bromo’), teman kami itu dikasih dengar lagunya sama Barata, tertarik diajak lah, “Yuk, kalau dibikin di Bromo seru nih,” dan kami ada satu kerjaan yang dipotong untuk keberangkatan kami ke sana dan itu kami membiayai tempat tinggal, makan, berangkat, pulang, udah, selebihnya atas dasar cinta kasih teman-teman lah itu terjadi, terus Barata bilang, “Udah sekalian aja fotonya di sini,” akhirnya kami foto lah di Bromo, kenapa enggak? Dengan scenery seperti itu, indahnya luar biasa dan segala macamnya, dan kenapa di tengah si rumah, mau lo siapa? Tapi, tanah kelahiran lo adalah Indonesia gitu, mau lo siapa? Lo lagi ada di mana? Ya, itu rumah lo gitu. Ya, Bromo itu rumah kami, Cinere tuh rumah kami, Jakarta tuh rumah kami, Indonesia adalah rumah kami gitu.



Terus di album ini kan juga ada yang judulnya ‘Lord Guide Me’, tadi pas live streaming juga dibilang itu teaser sebelum single ‘Bromo’, kenapa lagu itu dipilih jadi teaser sebelum ‘Bromo’?
Bonita: Jadi, si ‘Lord Guide Me’ itu kami dengarkan dulu nih ke Demajors, si album ini. “Pak, ini rencananya si ‘Bromo’ tanggal 15 mau jadi rilis video klipnya nih sekalian sama rilisnya nih, gini-gini,” pak David kepikirannya kenapa nggak ‘Lord Guide Me’ ini sekalian bulan Desember juga, supaya sekalian Natal gitu loh, terus ngobrol-ngobrol kok kalau masalah Natal gue kurang ya, ‘Lord Guide Me’ itu untuk menyambut kondisi kita yang lagi kacau balau gitu menurut gue, gue bilang gitu. Akhirnya diobrolin lagi, akhirnya kami, “Waduh, orang ngerti nggak ya teaser sama single?” Ya, kalau menurut kami semua yaudah disampaikan saja bahwa ini teaser, ini salah satu lagu yang ada di album “Rumah”, abis itu singlenya baru keluar si ‘Bromo’. Karena, buat pak David ini moment-nya perlu banget dikeluarin si ‘Lord Guide Me’ dan ternyata tepat juga sih. Akhirnya, baru si ‘Bromo’ keluar.

Di live streaming tadi juga sempat cerita kalau lagu ‘Lord Guide Me’ ini dibikinnya tahun 2010 sama mas Adoy, kenapa nggak dimasukin ke album sebelumnya?
Bonita: Nggak kepikiran ya, karena album sebelumnya (“Small Miracles”) itu yang album keluar tahun 2014 ya, itu ada ‘God Came To Me’, soalnya sebenarnya ‘Lord Guide Me’ itu kosentrasinya Adoy untuk solo dia waktu itu ya. Terus, pas kita bikin album ini dua lagu itu yang terpilih si ‘Rumah Temanku’ salah satunya, terus ‘Lord Guide Me’ itu dia (Adoy) mau lagu dia yang ini ada di album “Rumah” gitu, kayaknya konsepnya dapet, nuansanya juga masih dapet gitu, nilai-nilai yang kami mau sampaikan di album ini tuh masih sangat kental sekali. ‘Lord Guide Me’ kan tadinya Adoy semua yang nyanyi, akhirnya dibagi pecah. Lagu ‘Rumah Temanku’, itu sebenarnya Adoy yang nyanyi, gue udah senang banget, itu salah satu lagu favorit gue, makanya begitu sama Adoy disuruh gue yang nyanyi, gue sempat complain, nggak mau, jadi beda segala macamnya, pun kalau boleh terbanding gitu ya si lagu ‘Rumah Temanku’ versi Adoy sama gue, gue akan lebih senang dengar lagu Adoy yang nyanyi, cuma emang begitu teraransmen yang gue nyanyi, ada mbak Silir, ada Butong itu emang jadi berbeda dan buat gue jadinya, “Oh iya, yaudah nggak apa-apa lah,” bukan nggak apa-apa lah, “Oh iya ya, bagus.”

 Di lagu ‘Lord Guide Me’ ini kan nggak cuma Bonita aja yang nyanyi, ada Barata sama Adoy juga yang nyanyi, kayak lagu di album sebelumnya juga yang judulnya ‘Lagu Sederhana’, itu kan nggak cuma Bonita yang nyanyi. Itu emang sebenarnya konsep dari Bonita & the Hus Band bahwa nggak selamanya yang nanyi itu Bonita sebagai vokalis?
Bonita: Karena memang porsinya Barata sama Adoy bukan backing vocals sebenarnya, mereka tuh vokal utama. Sempat memang itu salah satu pencarian kami juga, awalnya memang mereka nge-backing, cuma lama-lama gue merasa, aduh, nih kita kan udah bentuk bandnya beda sama yang lain, terus musiknya kayak gitu, mau musik Pop ketika kami translate bentuknya tuh jadi berbeda, gitu, agak berbeda. Ya, jangan dibikin sama juga sama umumnya bahwa si Bonitanya ini teriringi sama si “The Hus Band”, bukan, “Bonita & the Hus Band” itu memang paket jadi satu, kecuali kalau mereka berdiri sendiri-sendiri di luar konteks si band. Tapi, gue yang request mereka itu bukan backing vocals, mereka harus nyanyi, suara begitu di rekaman pun suara mereka harus sama kerasnya sama gue, kecuali emang porsinya kita lagi jadi backing, kan toh di beberapa tempat gue juga tetap jadi backing gitu kan, gue nggak selalu jadi suara satu. Emang beda ya? Ya, Kalau lo nggak memerhatikan dan nggak tertarik, lo nggak akan tau itu bedanya apa sih, cuma ketika lo melihat kenapa suara yang laki harus sama besar sama si yang punya nama di depan.

Oh, jadi Barata sama Adoy itu vokalis ya?
Bonita: Vokalisnya emang tiga, pentolannya yang di depannya itu gue, gitu doang.



Nah, kalau bahas soal lirik lagu yang kalian buat, itu inspirasinya dari mana sih? Cara memilih liriknya itu kayak gimana?

Bonita: Oke, kalau yang gue gabungin ya, gue buat, Adoy buat, kami bersama berempat buat, seperti yang pernah dipelajari, kita bisa mendapatkan inspirasi dari mana pun sih, nggak ada teori baku bahwa nulisnya tuh harus gini, harus tentang ini, jangan gitu, nggak ada sih, jadi daripada lo nyuruh-nyuruh gue gina-ginu, mendingan lo bikin sendiri gitu kan. Jadi, kami membebaskan kami semua untuk punya ide lagunya seperti apa, yang seru adalah ketika lagu gue, misalnya ‘Bromo’, diaransmen sama Adoy dan bersama gitu. Ini ada kejadian tolol banget sih, kan waktu itu baru belajar ya nggak punya capo, pas dinyanyiin kerendahan, waduh, udah direkam nih, itu waktu rekaman itu sebenarnya guide vokal, rekaman yang jadi ini, suara lagi habis, serak, cuma mood-nya lagi dapet banget, diulang lah take ulang, nggak jadi-jadi, pas suara udah jernih, nggak dapet mood-nya, akhirnya “Gimana kalau dinaikin boleh nggak di capo?” nggak boleh sama Endah, nggak boleh sama Rhesa, nggak boleh sama Adoy, sama Barata nggak boleh, sama Jimmy juga, “Lo harus men-treat lagunya, lo harus berangkat dari lagunya,” tapi ini kerendahan, gue bilang kayak gitu, dan sampai akhirnya bisa nyanyi kayak gitu, itu prosesnya panjang banget. Endah bilang, “Iya bagus, itu tandanya kamu semakin berkembang,” semua bilang kayak gitu, “Iya, cuma aah tidak,” jadi yang gue pelajari adalah saat band ini mengalami perubahan yang cukup signifikan dalam bermusik, tidak hanya gue yang mengalami kesulitan dalam bernyanyi atau harus main Ukulele, kalau sekarang tuh mesti yang kayak nyanyinya pelan, terus gue mesti ngitung bukan 4/4 gitu, makanya itu dari tadi gue nyanyinya merem. Barata mengalami hal yang sama dengan perkusinya, Adoy mengalami hal yang sama dengan gitarnya, pun Jimmy, karena di rekaman itu kan bukan cuma kami berempat kan, Jimmy harus ngisi-ngisi. Jadi, kembali lagi masalah yang inspirasi itu bebas merdeka, nggak ada teori baku.

Dalam proses rekaman pasti setiap lagu punya kesan-kesan tersendiri gitu kan. Pas proses rekaman lagu apa yang paling berkesan?
Bonita: Gue nggak suka sih yang masalah ‘Bromo’ itu, nggak boleh naik soalnya. Apa ya? Kesan-kesannya mungkin beda-beda kali ya, Adoy punya kesannya sendiri, Barata punya sendiri, begitupun Jimmy. Gue sih yang paling berkesan salah satunya ya selain ‘Bromo’, itu lagu ‘Tekad Ku Ikhlas (TKI)’, Adoy bikin lagu melayu. Kami memang mau lebih menspesifikasikan apa genre atau bunyi kami lah, “Ingin balik ke roots, man!” gue bilang sama anak-anak, gue mau meng-embrace ke-Indonesia-an gue, nekat banget pokoknya niat gue tuh. Adoy bikin lagu melayu, gue nggak mampu nyanyi, “Wah, gimana nyanyinya? Oh my God,” terus harus tersampingkan, terdampingi oleh mbak Silir Pujiwati yang notabene adalah penyanyi, penyinden yang luar biasa. “Nggak apa-apa lo nyanyi aja,” haduh, nggak bisa. Jadinya, yang disampaikan sama Adoy, Barata dan Jimmy, “You don’t have to be someone that you are not”, lo dapetin aja, lo pasti akan belajar menemukannya, tapi sekarang ini adalah dokumentasi lo ketika lo mulai belajar untuk gimana sih bunyi melayu di kuping gue, di kepala gue tuh terolahnya seperti apa sih, ketika disampaikan keluar dari mulut gue tuh akan seperti apa gitu. Itu harus terdokumentasikan, itu sih itu menarik banget sih, susah.

Kesannya kerja bareng sama mbak Silir Pujiwati itu kayak gimana?
Bonita: Wah, dia itu seperti lampu yang menyinari, yang memberikan cahaya keindahan buat kami ya, maksudnya di luar suaranya, perilakunya dia, kelakuannya dia tuh lucu banget, dia tuh nggak ada capeknya padahal nyampe sini tuh ingin langsung, “Eh, ini kita mau take sekarang?” “Enggak, mbak. Take-nya besok,” dia udah semangat banget. Dia, light up the room banget deh, bekerja sama dia mendapatkan pelajaran luar biasa banyak banget, orangnya humble, gue merasa bahwa musikalitas gue belum mencapai setengahnya dia gitu, belum sampai karena wah, gila jauh banget, men! Dia itu musisi tradisi, udah. Dari sebutan kata musisi tradisi aja gue udah kalah berpoin-poin jauhnya gitu, dia melatih dirinya bernyanyi itu dari panggung ke panggung, dari nggak dibayar, cuma dibayar 5 ribu, dibayar 10 ribu main berjam-jam, dan itu dia melakukannya dengan happy, gitu ceritanya. Pun dia lagi dalam keadaan yang agak kurang baik kondisinya, tapi dia memerlihatkan bahwa, “Yang penting bersama kalian dan aku senang”, gitu dia. Wow, ini spirit apa? Kok gue susah menemukan spirit seperti ini. So, itu sih yang akhirnya kami, “Gila, kita tuh beruntung, udah jangan hanya fokus sama hal yang negatif aja, justru fokus sama hal yang positif supaya yang negatifnya bisa dihilangkan dan diperbaiki.

Seberapa berapa besar sih keoptimisan Bonita & the Hus Band dengan album “Rumah” ini? Bonita: Kami harus optimis! Gue rasa kami berempat punya perasaan yang sama, kami sangat senang, itu aja. Kami senang sekali sama album ini, kami menemukan warna kami, semakin solid, respon dari teman-teman terhadap album ini yang membuat kami jadi semakin semangat, wah, ternyata responnya baik banget loh, gila, gue nggak nyangka yang datang segini banyak ya sampai nutupin jalanan, gue nyangka kalian datang, serius, asli. Jadi, itu mengharukan banget dan di luar kita, di luar Pamulang-Cinere ini, ketika bekerja ketemu sama musisi-musisi, ternyata mereka tau si album ini. Teaser-nya ‘Lord Guide Me’, Glenn Fredly, yang gue upload di Facebook waktu itu kami nyanyi di kawinan bareng itu, “Wah, Bonita, seru loh! Gue udah dengar singlenya”, dia pikir ‘Lord Guide Me’ itu single. “Wah, gila, it’s so deep, it’s really good”, ini orang dengar dari mana? Kita nggak berteman di sosial media, men! Lo tau dari mana? So, itu mengharukan banget sih dan ketika tiap kali promote di group WA, group musisi-penyayi gitu respon mereka asik gitu, dari respon itu gue bersyukur banget, doanya adalah supaya ini punya dampak yang baik nggak hanya buat kami aja, tapi buat banyak hal. Jadi, ya harus optimis sih. Seoptimis apa? ya harus optimis, gue nggak tau itu jawabannya benar atau nggak.



Pokoknya yang penting harus optimis aja ya. Terus, Harapan kalian dari album “Rumah” ini tuh apa? Kalian ingin yang mendengarkan itu jadi seperti apa? Kadang-kadang kan ada yang masa bodo, terserah deh mau didengerin atau nggak, tapi kan di dalam hati ingin didengarkan oleh banyak orang.
Bonita: Tentunya ingin lah, masa nggak ingin ya? Buktinya, kalian datang aja dan mendengarkan kehancuran kami yang kalau kata Adoy nggak sehancur itu juga, kami senang luar biasa, berartikan ada harapan bahwa ini bisa diterima oleh khalayak ramai, yang kami ingin sampaikan adalah terus memberikan energi positif gitu, disaat kelam, sekelam apapun karena ketika itu terjadi pada diri kami masing-masing yang kami butuhkan adalah tolong sirami sama cinta kasih gitu loh, kami merespon kondisi sekarang ini yang cukup memrihatinkan dengan musik kami yang bukan tipe band yang bisa protes dengan lagu, dengan protes keras kah, atau dengan protes apa lah, tapi yang bisa kami lakukan adalah menyiraminya dengan nilai-nilai positif, bukan hanya cinta aja ya, tapi lebih kepada humanity gitu, nilai-nilai kemanusiaan, keragaman, toleransi, guyub, keluarga, teman, itu yang lagi hates banget, tercacah-cacah gitu, pertemanan bisa hancur karena ideologi, ideologi Facebook, oh my God, tapi itu terjadi juga sama gue gitu, maksudnya, gue kayak di Facebook gue memilih untuk nggak marah, gue mendukung sebuah ideologi dan itu yang gue angkat terus dengan kalimat baik gitu, itu berat loh padahal ingin marah kan, cuma kayaknya nggak efisien, nggak kondusif melakukan hal itu apalagi gue merasa bertanggung jawab sama itu album itu, kita bikin ini dengan susah payah, cinta kasih, segala macamnya, terus ketika kita terpapar di sosial, masa kita melakukan hal yang 180 derajat berbeda? Jangan dong! Itu sih buat gue ya, gue nggak pernah mengajak Adoy, Barata dan Jimmy untuk melakukan hal yang sama, maksudnya hal yang seperti itu gue nggak tau mereka melakukan apa dan I respect what they do, cuma gue nggak mau kayak (ngomel-ngomel), tapi gue mau memberikan contoh aja, mudah-mudahan contoh gue benar sih, gitu.

Oke, tadi juga udah sempat liat list lagu di album “Rumah” ini, di situ ada track yang dikasih judul ‘Insert I’ sampai ‘Insert VI’, itu maksudnya apa ya? Bonita: Si ‘Insert’ itu adalah sebuah calon lagu, calon lagu yang belum jadi. Itu cuma satu menit, dua menit doang, paling lama dua menit sekian lagu itu. Dilatar belakangi waktu itu sempat ngobrol sama Endah n Rhesa tentang baiknya berapa jumlah lagu yang kondusif, yang efektif untuk orang dengar, kayaknya sekarang udah susah deh kalau orang dengar lebih dari 8 lagu misalnya, orang udah capek karena udah banyak pilihan, lo bisa Spotify, lo bisa iTunes, lo bisa ina-inu, ina-inu, orang udah nggak terlalu kepikiran album gitu, makanya ada mini album lah. Terus kepikiranlah, oke, 7 lagu nih. “7 atau 8 ya? 7 atau 8 ya?” masih gitu, “9 apa 10 ya?” masih gitu segala macem. Long story short, oke 7 lagu tapi kita masukin ‘Insert’, “Apaan tuh ‘Insert’?” jadi, kita bikin cuplikan-cuplikan lagu yang nantinya gunanya mungkin untuk album kita selanjutnya, mungkin buat album solo Boni, mungkin buat album solo Adoy, Barata, Jimmy, kali gitu, tapi dia itu calon lagu. Yang kayak ‘Insert I’, itu udah jadi tuh gue lagunya, waktu direkam belum jadi, itu tadinya mau jadi lagu di album, tapi nggak jadi-jadi, susah banget, tapi sekarang udah jadi, raff-nya udah jadi, liriknya udah selesai, putaran lagunya udah selesai, terus ya disimpen aja dulu, kali-kali aja nanti ada, “Hah? 7 lagu kita kurang nih”, ada lagu baru, oh iya, kita mainin lagi, kita cari aransmennya lagi, kali gitu.

Oh iya, tadi juga bilang kana da Spotify, ada iTunes, dan lain-lainnya yang serba digital. Kenapa tetap kekeh untuk mengeluarkan CD?
Bonita: Gue tuh ternyata nggak terlalu apa-apa kalau nggak fisik, tapi gue perlu sealbum, kenapa? Karena, album itu adalah dokumentasi yang utuh tentang perjalanan si band, si artis, ketimbang harus denger satu-satu. Kenapa gue memilih nggak apa-apa nggak fisik? Karena, gue pernah ngilangin segerombolan CD favorit gue di dalam mobil bokap gue, terus mobil bokap gue dijual, terus CD gue kebawa, gue punya CD itu kayak banyak banget, itu gue sedih banget, hilang abis itu gue nggak mau lagi, gue akhirnya pengguna iTunes ketimbang beli CD, kalau CD dikasih, tapi kalau beli, gue udah nggak pernah tuh beli fisik karena gue udah nggak percaya sama gue gitu loh. Tapi, kadang orang kalau punya fisik kan lebih masalah sentimentil kan, lo kan bisa tanda tangan disitu, lo merasa punya nilai sentimentilnya lebih. Kalau orang, “Harus ada fisik, men!” kalau gue, “Nggak apa-apa,” yang penting jangan sampai hilang kayak yang kemarin.

Apa sih perbedaan yang paling signifikan antara album sebelumnya yang “Small Miracles” dan album “Rumah”?
Bonita: Satu, “Small Miracles” live recording, ini kita dubbing, itu beda. Terus, musik album “Small Miracles” adalah gabungan musik lagu-lagu yang udah kita bikin, kayak kumpulan lagu-lagu lah. Kalau ini, ada yang kumpulan lagu-lagu yang udah kita bikin juga, tapi ada lagu-lagu yang khusus dibikin untuk ini.



Ada penambahan instrument nggak di album “Rumah” ini?
Bonita: Instrumennya cenderung sama, ada bass, Adoy main bass, main electric gitar juga. Di album ini ada acordeon, di album lama nggak ada. Di sini ada featuring vokalis tradisional, yang awal nggak ada. Yang awal rekaman di studio, malah yang live recording rekamannya di studio, ini yang dubbing rekamannya di rumah. Hasilnya ketika bikin sendiri, dan ini pure kita semua ngerjain sendiri, kecuali mastering kita di Nashville yang Sage itu, tapi semuanya karena kami lah yang kenal sama bunyi-bunyian kami, kami bisa menaker tuh, makanya sesuai sama yang kami harapkan di album ini gitu. Oh iya, Ukulele juga baru di album ini.

Oke, next-nya udah ada rencana untuk tour atau belum nih?
Bonita: Hmm, udah ada, udah ada, cuma masih digodok. Satu, masalah dana. Yang kedua, waktu yang ditentukan enaknya kapan itu juga masih dipikirin, karena kan Adoy kerja juga itu mesti dipikirin kapan berangkatnya, tapi, kami dua hari lagi akan berangkat ke Kebo Ketan, sebuah kegiatan kultural di Ngawi, kami diundang untuk main di sana. Kalau nggak salah ada mbak Endah Laras, ada Iwan Fals, dan mainnya di desa. Terus, kami main di sana sekalian kami promosi album di sana, abis itu kami main di Sarapan Jazz di Jogja, Januari kalau nggak salah, kami juga dalam rangka untuk promosi juga, biasanya kalau kayak gitu kami akan mencari radio-radio untuk promosi, jadi sekalian.

Apa sih Impian terbesar Bonita & the Hus Band yang belum tercapai?
Bonita: Albumnya meledak! Apa ya yang belum tercapai? Kami ingin main di festival-festival di luar negeri, ingin banget. Eh, kami ingin main di festival-festival, titik. Di Indonesia, dulu di luar negeri inginnya sebelum kena Ngayogjazz, Kebo Ketan, Sarapan Jazz, gue mau main di festival-festival Indonesia aja yang modelnya kayak gitu gue pengen banget deh, festival musik yang kayak gitu gue pengen banget. Di luar negeri gue juga pengen, waktu itu sangat terkesan sama Summer Festival di Kanada, itu selama summer 3 bulan itu isinya festival semua, Folk music festival. Sebenarnya, kami ingin jalan-jalan sih dan kerasa waktu kami berangkat ke Jerman waktu itu, yang Uferfest itu, kami ngamen dan segala macem, terus gue bilang, “Kita harus melakukan ini, men!” Seperti yang mas Djaduk pernah bilang, “Bonita & the Hus Band itu kayak Gipsy, di mana kalian main, kalian menyerap itu, terus kalian bermusik dari situ.” Nah, kami pengen seperti itu sih, itu tuh terharu gitu. ngamen, yang nonton banyak gitu, Ge’er gitu gue. Justru dengan pengalaman gitu lah, lo bisa mengukur diri lo gimana gitu di tanah air lo atau di tempat domisili lo, keluar dari situ mungkin bisa berbeda dan lo menemukan lagi siapa lo dalam musik lo. Nah, ketika kami di tempat-tempat yang jauh dari domisili kami, kami menemukan, “Kita tuh bisa gini loh, kita bisa gitu loh,” itu adiktif banget sih. Respon orang-orang di Ngayogjazz aja gue masih ternganga-nganga ya di dalem negeri. Tapi, kalau di luar negeri kan, “Lo siapa? Ini orang Asia siapa ini?” gitu kan, kalau dia nggak suka, lo nggak akan ditonton, boro-boro dibayar, orang tuh lalu lalang, dan orang-orang banyak juga yang lalu lalang, tapi yang berhenti untuk nonton dan ngasih uang 1 euro, 2 euro, 10 euro itu ada, gila banget kan, 1 euro waktu itu kita disana tuh 15 ribu, 15 ribu men! Mereka nggak ngasih sen loh, ngasih euro. Wow, ternyata kita punya potensi ini loh, karena perjalanan untuk menemukan itu sebelum sampai waktu itu tuh kayak, “Kita nih bagus nggak sih ngebandnya?” gue bertanya, “Kita nih di jalur yang benar nggak sih caranya? Pola pandang kita terhadap musik kita nih benar atau nggak?” Ternyata, bukan masalah benar atau enggak, seberapa kuat lo mau jalanin, seberapa kekeuhnya lo percaya sama yang lo percaya Ternyata ya, terbuktikan beberapa kali sampai hari ini di rumah gitu. Gila! Oh, ini emang ternyata kerja keras.

Oke, ini pertanyaan terakhir. Alasan kenapa album “Rumah” ini harus didengarkan?
Bonita: Kenapa harus didengar? Mungkin ini sifat umum ketika kita berkarya gitu pengen didenger banyak orang. Bagi teman-teman yang udah pernah dengar kami dari album pertama ke album kedua, dari album solo gue sampai ke album yang ini, gue mengalami perubahan dalam hidup gue yang gue dokumentasikan, ketika punya previllage itu menurut gue, why not disebar dan didengarkan? Dan punya nilai-nilai baik yang bisa disebarkan, apa yang kami punya ini, gue pengen banget album ini bisa menyentuh rasa perspektif orang terhadap keseharian mereka, karena kayak yang tadi dibilang inspirasi dan segala macam itu dari mana ya yang kami dapat itu sehari-hari, kejadian sehari-hari yang umum, bukan kayak tiba-tiba gue diculik FPI, itu kan cuma gue ngerasain, pun itu menarik ya orang-orang pengen tau suatu hal yang berbeda, cuma kadang kita mencari suatu hal yang berbeda sampai melupakan bahwa suatu yang common itu kita perluin, “I wanna be different” gitu, semua orang pengen beda, tapi lo lupa bahwa kesamaan itu yang membuat kita bareng juga gitu. Lo nggak sendirian gitu loh, gue juga merasakan itu, kan sebenarnya yang bikin orang depress dan segala macem karena mereka merasa, “Nggak ada yang sama gue, semua orang berbeda sama gue, gue berada di jalan yang salah,” Nggak men! Semua orang salah men! Sama kayak lo. So, kayak di Bromo gitu, nggak ada yang spesial, yang spesial itu di tempat itu dan semuanya orang bisa kesana, silahkan gitu.







  • Dwi Andini Witamasari

    Photograph

  • Dwi Andini Witamasari

    Text



Related Articles