Face 2 Face / Community

The One and Only Denim Community in Indonesia

Posted on May 19, 2017

Hampir setiap orang di rumahnya pasti mempunyai baju atau celana dengan bahan denim, atau mungkin kamu lebih akrab dengan kata “jeans”. Denim a  jeans juga termasuk dalam golongan fashion yang trendy, ditambah lagi, nggak ribet kalau mau memadukan denim atau jeans dengan baju lain. Bahannya yang nggak terlalu tipis sehingga nggak gampang robek membuat denim ini disukai oleh banyak orang. Apakah kamu juga termasuk orang yang menggemari denim? Jika iya, tahukah kamu kalau di Indonesia sudah ada komunitas bagi para pecinta denim? Ya, komunitas ini bernama “INDIGO” (Indonesian Denim Group), komunitas ini adalah komunitas denim satu-satunya di Indonesia. Dari komunitas itu, kemudian muncul sebuah majalah online bernama darahkubiru.com. Tanggal 21 Mei ini mereka juga akan menggelar event 8th Anniversary mereka di Lucy in the Sky, Jakarta. Free! berkesampatan berbincang-bincang dengan Respati Hafiz Budi (Direz) dan Panca Novianto, founder dari INDIGO dan darahkubiru.com, membahas seputar komunitas dan denim, dan juga event anniversary mereka yang ke 8 tahun. Check this out!



Komunitas INDIGO kan sudah terbentuk dari tahun 2008, untuk Darahkubirunya sendiri udah terbentuk sejak kapan sih?
Panca: 2009. Jadi, memang yang jadi dulu itu komunitas, baru kemudian medianya.

Ide awal bisa kebentuk Darahkubiru ini gimana ceritanya?
Panca: Iseng, ngumpul ketemu di Kaskus, yaudah dari Kaskus sampai sekarang.

Penggagasnya siapa nih?
Direz: Semuanya sih ya.
Panca: Direz, terus gue, semuanya sih, waktu itu ada sekitar 25 orang, “The first member”nya gitu.

Nah, kalau namanya, “Darahkubiru” ini filosofinya apa? Apa karena denim identik dengan warna biru?
Direz: Iya, itu udah jawabannya.
Panca: Nah, itu. Persis, itu udah jawabannya.

Tapi, kan nggak semua denim warnanya biru?
Direz: Warna aslinya warna biru, dan kayak udah dijadiin yang mengalir tuh sebenarnya warna biru itu udah kayak darah gitu. Jadi, kalau jeans nggak ada birunya itu bukan jeans atau udah mulai mati nih.

Setiap orang di rumahnya pasti punya jeans atau denim. Nah, kalian ini melihat perkembangan “denim culture” di Indonesia dan dunia  tuh seperti apa?
Panca: Kalau kita sih ngeliat dari dulu sampai sekarang trennya udah positif ya, brand-brand baru banyak, terutama lokal ya, di Indonesia sendiri brand-brand baru banyak keluar, terus orang makin kreatif. Jadi, yang tadinya men’s wear itu tadinya kita hanya memfokuskan ke celana aja, ternyata cabangnya banyak, ada yang bikin kemeja, ada yang bikin kaos, terus ternyata si pewarna biru itu bisa jadi macam-macam. Jadi, somehow kita senang sih sama ekosistem ini.

Gimana sih cara kalian memilih denim yang bagus?
Panca: Sebenarnya, kalau kita bicara bahan spesifikasi semua lokal brand yang fokus ke denim itu hampir sama semua, tapi memang ada yang main di mid level, low level, dan high end, bedanya cuma itu aja, balik lagi semua tergantung orang suka brand-nya, fanatismenya ada di brand bukan di bahan lagi.
Direz: Kalau nggak di preferensi fit-nya, di cut-nya, preferensi bahan juga ngaruh sih. Misalnya, orang nggak suka tebal-tebal, ada yang suka lebih tebal, sama yang sesuai nyamannya aja sih. Pilih denim yang paling bagus yang nyaman sama badan sendiri lah.
Panca: Nyaman ketika lo beli, nyaman ketika lo pakai.



Gimana ngebedain denim yang KW sama yang asli?
Direz: Yang paling gampang sih beli di toko yang benar aja.
Panca: Sumbernya yang benar dulu. Jadi, kalau udah beli di toko yang benar, nggak ada yang KW. Kalau dari lokal brand-nya sendiri, rata-rata yang udah fokus ke denim, kalau udah ada yang KW-in berarti brand-nya udah terkenal banget.

Tadi juga sempat baca kalau Darahkubiru ini kan majalah online ya, tapi apakah juga menyediakan jasa untuk orang bisa pesan denim di darahkubiru.com?
Panca: Buat sekarang nggak sih, kita memang hanya fokus ke media bagi komunitasnya dan media bagi ekosistem industri denim itu sendiri gitu.

Yang termasuk dalam golongan denim itu apa aja?
Direz: Semuanya, all jeans. Sebenarnya, denim kan dari kata-kata bahannya gitu kan, tapi kalau udah jadi celana biasanya orang-orang nyebutnya “jeans”. Tapi, sekarang sih udah sama lah artinya, orang-orang kalau nyebut denim arahnya pasti ke sana.

Untuk sekarang jumlah anggotanya udah berapa banyak?

Direz: Kalau di online sih itungannya udah sampai 20 ribuan lah. Tapi, kalau kita mau ngomongin komunitasnya ketika datang ke acara sih bisa banyak banget ya, sekitar 30 ribu lah.
Panca: Kita kalau bikin acara “Wall of Fades”, acara akhir tahun kita, acara komunitas, itu acara tiga hari sekitar hampir 35 ribu.

Wow, banyak juga ya. Bagaimana sih cara kalian merangkul para penggemar denim ini? Pasti kan nggak cuma dari Jakarta aja kan, banyak dari luar kota atau bahkan luar negeri.

Panca: Nah, itu fungsinya ada Darahkubiru sebagai media kita untuk kumpul, sebagai media kita untuk komunikasi, sosialisasi semua kita dari Darahkubiru. Kayak si brand pun ketika dia launching barang, pasti selalu di Darahkubiru, abis itu baru ke offline.



Brand lokal apa aja sih yang tergabung di Darahkubiru atau INDIGO ini? Seluruh brand lokal kah?
Panca: Banyak sih, yang fokus di denim dan di men’s wear.
Direz: Yang fokus di denim sih pasti.

Range harga untuk denim itu biasanya berapa sih?
Panca: Dari Rp 400 ribu sampai Rp 4 juta juga ada.

Brand lokal dan luar favorit kalian apa?
Direz: Kalo lokal Elhaus sama Old Blue, kalau luar Levi’s sama Real McCoy’s.
Panca: Lokal Old Blue, terus kalau luar Lee sama Warehouse.

Kalau mau gabung sama komunitasnya itu gimana sih? Ada syarat khusus kah?
Panca: Nggak sih, kita nggak ada penentuan khusus, yang penting kita sama-sama suka jeans, sama-sama suka fashion cowok, tinggal masuk aja ke link.

Jadi, ini cuma buat cowok aja?
Panca: Kita memang mostly cowok, tapi kita nggak menutup kemungkinan kalau cewek mau join ya nggak apa-apa.

Ooh, jadi sekarang masih kebanyakan cowok ya?
Panca: Iya, 99% cowok.
Direz: Kita kalau bikin acara pun sebenarnya yang datang kebanyakan juga cowok ya, yang jualan juga kebanyakan untuk cowok aja

 Padahal kalau dilihat-lihat banyak juga ya cewek yang pake jaket-jaket denim gitu, karena salah satu fashion yang nge-tren juga. Nah, ngomong-ngomong acara, hari Minggu ini juga mau ada acara anniversary kan ya? Bakal ada apa aja sih di sana?
Panca: Kita dari Darahkubiru ada kejutan, terus kalau dari INDIGO-nya sendiri kita biasanya gathering, terus kita kali ini mencoba untuk cross community collaboration, kita kerjasama sama freemagz.com, kita kerjasama juga sama anak-anak SPP (Sunset People Project) mencoba vibes yang baru lah.

Kasih alasan kenapa penggemar atau bukan penggemar denim harus datang ke event itu?
Direz: Karena ini saatnya kita gathering bareng-bareng, ngomongin jeans bareng sambil party.

Nah, ngomong-ngomong soal gathering, biasanya kalau gathering itu ngebahas seputar apa sih? Ngebahas sejarahnya kah? Bahannya kah? Atau apa?
Direz: Nggak juga sih, sebenarnya kalau dari tahun-tahun yang lalu, ya kita cuma ngumpul-ngumpul bareng, kita senang-senang aja sih sebenarnya, ngobrol bareng, nggak ada topic khusus gitu. Tapi, kalau sejak tahun lalu kita ada semacam talk show kecil sih tentang denim, kita undang beberapa narasumber lah yang memang bisnisnya di jeans dan anak forum juga yang ngasih insight buat para member yang lain. Cuma, kalau sekarang sih kita lebih kayak dulu lagi, lebih gathering lagi aja, ngobrol bareng, seru-seru bareng lah intinya.



Apa sih yang kalian dapat dari komunitas ini?
Direz: Sebenarnya sama kayak komunitas lain sih kalau dibilang, tapi orang ingin menjadi satu bagian dari komunitas kan, terus kebetulan komunitasnya denim nih, yang bikin kita-kita yang satu pikiran, “Oh, kita suka denim nih”, tapi lama-lama yang bisa kita dapetin macam-macam, nggak cuma itu. Kita bisa punya teman-teman yang, “Oh, ternyata gue suka sepeda juga nih,” akhirnya main sepeda bareng. “Ternyata gue dapet inspirasi nih dari teman gue yang di Darahkubiru, dia udah bikin brand,” eh, dia jadi ngikutin berbisnis juga. Jadi, banyak sih sebenarnya yang bisa didapat, nggak cuma senang-senangnya doang, tapi ternyata yang berguna juga ada. Karena banyak juga dari member yang memang tadinya cuma member aja, lama-lama bikin brand yang ada di sini.
Panca: Semua brand yang ada di sini (Stow Store) dari Darahkubiru, dia terinspirasi dari luar, dari mana-mana, terus punya ketertarikan sama satu hal, bikin deh.

Darahkubiru-nya sendiri nggak mau dijadiin nama brand?
Panca: Nggak, mau menjaga ekosistemnya.
Direz: Kita sih inginnya tetap dari awal kan misinya memang ingin memajukan brand lokal dan ngasih info lah tentang denim, itu aja sebenarnya udah cukup. Udah tercapai juga itu ya, dengan adanya brand-brand yang memang nunjukin denim itu kayak apa, informasinya segala macam, ngajak brand lokal buat nampilin lah brand-nya mereka buat orang banyak.
Panca: Setiap tahun selalu ada brand baru, selalu ada member baru, nggak usah takut buat bikin brand.

Nah, itu kan untuk brand lokal, kalau dari brand luar gimana?
Direz: Karena kita fokusnya di brand lokal lebih kesitu sih. Cuma beberapa kali kita juga pernah ya kayak kerjasama gitu.
Panca: Kita pernah kerjasama sama Lee Cooper, Wrangler, ya kita bikin sebuah kerjasama marketing lah istilahnya. Jadi, waktu itu Lee launching prodak baru yang benar-benar market-nya mereka bingung, mereka akhirnya dari Lee sama Wrangler kita coba ajak kerjasama setahun, kita bikin kolaborasi gimana caranya biar market itu masuk pasar Jakarta, gitu.

Tips dari kalian merawat jeans itu seperti apa?

Panca: Jangan ditaruh di lemari. Pakai aja, dicuci, biasa aja, nggak ada spesial treatment.
Direz: Pakai aja, cuci, biasa aja sih. Karena, memang gitu sih dari dulu emang bahannya yang kuat, terus dipakainya juga kuat kerja, jadi nggak ada cara khusus untuk merawat jeans. Pakai aja terus, pasti akan jadi bagus kok.

Tapi, sering ada yang bilang kan kalau jeans jangan terlalu sering dicuci. Itu benar?
Panca: Itu selera sih jatuhnya. Kenapa nggak boleh sering dicuci? Karena, orang itu nggak mau jeans-nya cepat-cepat luntur dan belel, ada juga yang mau ngelunturinnya setelah 6 bulan pakai. Ya, nggak apa-apa, terserah aja. Nggak ada rumus tersendiri lah, setiap orang punya rumus masing-masing. Dicuci sering juga nggak apa-apa.



INDIGO dan Darahkubiru ini hanya satu-satunya komunitas denim di Indonesia, atau ada yang lain lagi?
Direz: Untuk sekarang sih satu-satunya.
Panca: Iya, untuk sekarang satu-satunya di Indonesia.

Nah, untuk tau kegiatan kalian, media sosialnya ada apa aja nih?
Panca: Kalau Instagram kita ada Instagramnya Wall of Fades, event tahunan kita. Ada Instagramnya Darahkubiru, untuk informasi jeans dan komunitas, dan lain-lain. Twitternya juga sama @WallOfFades dan @darahkubiru. Facebooknya ada Darahkubiru,

Untuk kedepannya, harapan kalian dengan komunitas ini tuh apa?
Panca: Kalau dari kita sih yang penting komunitas ini tetap solid ya, jadi tetap nggak redup gitu, dari sisi industrinya nggak redup, dari sisi komunitasnya nggak redup, itu udah cukup. Kalau berkembang, itu bonus.

Iya sih ya, memang mempertahankan itu yang lebih susah ya. Oke deh, terima kasih atas waktunya.
Panca: Iya, sama-sama.
Direz: Sama-sama.


Come join us to celebrate Indigo's 8th Anniversary and party with the Sunset People Project crew this Sunday!






  • Fariz Eka Kuswanda

    Photograph

  • Dwi Andini Witamasari

    Text



Related Articles