Face 2 Face / Profile

Era baru The Trees and The Wild via Zaman, Zaman.

Posted on December 20, 2016

free! menempatkan “Zaman, Zaman” dari The Trees and The Wild (TTATW) dalam salah satu album terbaik lokal tahun ini, maka mendapat kesempatan sesi tanya jawab dengan mereka adalah momen yang sangat informatif dan menyenangkan. Hal yang tidak kalah menyenangkan adalah, ketika Hertri Nur Pamungkas, Remedy Walony, Andra Budi Kurniawan, Charita Utami, dan Tyo Prasetya, free! ajak bermain freevia. Yaitu dimana mereka diberikan pertanyaan trivia yang jawabannya sebetulnya belum tentu serius dan tepat juga.

Mari simak wawancara dan freevia berikut, semoga bisa membawa kamu untuk lebih mengenal TTATW! 

Mengapa Zaman, Zaman dipilih sebagai single?
Remedy Walony (RW): Karena kami rasa itu yang paling cocok bisa merepresentasikan konsep dari albumnya, lagu itu bisa menggambarkan keseluruhan secara filosofi dan konsep.




Tanggapan mengenai perubahan “musik”
TTATW?

(RW): Bila dibilang jauh berbeda, iya, karena kami pakai tools yang beda, cuma dari sisi semangat tetap sama, semangat buat coba hal-hal baru, harus keluar dari comfort zone. Maksudnya tools beda itu seperti aransemennya beda, secara sound engineering beda, teknik mainnya beda.

Proses penggarapan album cukup lama, sepertinya proses seleksi pemilihan lagu ketat ya, sehingga hanya 7 lagu yang masuk ke dalam album?
Andra Budi Kurniawan (ABK): Sebenernya nggak juga, sebelumnya kami sudah buat beberapa lagu. Ketika proses mixing kami coba dengerin satu persatu dari track awal sampai akhir, kok ada satu lagu ini nggak cocok, nggak sesuai dengan keseluruhan mood albumnya, yang pada akhirnya kita take out. Supaya ya itu, moodnya sesuai dengan yang kami mau.
 


Mengapa tour kalian dinamakan “I’ll Believe in Anything”? Ada alasan tertentu?

(RW): Idenya adalah, jadi ada salah satu lagu Wolf Parade yang berjudul sama, dan gua menginterpretasikan lagu itu adalah mencoba menerima apa yang dia cintai secara sepenuh hati, secara naif, kata yang paling mendekati itu naïf. Nah, kami terus terang, kalo melihat sesuatu yang disini kita kan berbicara karya seni ya, entah itu lukisan, musik, dan lain-lain. Contohnya untuk film, kita tuh pasti nonton tuh pasti ada kayak ‘ini apa sih maksud di belakang itu?’ karena umur dan pengalaman jadi beda dibanding misalnya ketika jaman dulu, ketika masih kecil lu masih sangat “putih”, lo menerima sesuatu masih naïf gitu. Makanya itu semangat yang kami angkat, kami coba lihat sesuatu melalui perspektif itu dulu. Pandangan itu yang coba kami angkat.



Ada cerita dibalik desain artwork album Zaman, Zaman?

(RW): Sebetulnya dalam 3 tahun sudah ada kandidat, tapi selalu berganti. Tapi setelah dipertimbangkan berganti lagi. Nah, kebetulan gua lagi di Singapura pas lagi ada pameran, ini kayanya bagus, karya Ashley Yew.

Dan langsung mewakilkan Zaman, Zaman itu?
Sebenernya yang gua mau bukan itu, yang kami udah ada gambaran dan yang kami konsepin. Karyanya Ashley Yew juga, tapi bukan itu. Karena mungkin dia udah jual license-nya jadi udah nggak bisa. Terus gua kasih denger ke dia musiknya (Zaman, Zaman). Lalu dia bilang, “yaudah gua bikinin deh buat kalian karya baru”, dan hasilnya lebih bagus! cocok, mood-nya pas, nggak berlebihan, dan sesuai dengan konsep albumnya, low key.

Harapan untuk album Zaman, Zaman?

Tyo Prasetyo (TP): Bisa sesuai dengan ekpektasi pendengar dari segi apapun.
(RW): Musik kan sebuah hobi, jadi mau ada yang denger atau tidak ya kami main aja. Cuma kalo ada yang suka ya sebuah energi tambahan buat kami.



  • Fariz Eka Kuswanda

    Photograph


Related Articles