Outloud

Perkumpulan Skater yang Berperan dalam Dunia Papan Luncur Indonesia Sejak Tahun 1977

Posted on May 05, 2017

Dalam sejarah papan luncur (skateboard) di Indonesia, ada sebuah celah yang kerap terlupakan. Tahun 1977, pada saat sekumpulan anak muda membentuk sebuah klub bernama Rase. Klub ini menjadi salah satu pionir terhadap hal-hal yang berkenaan dengan dunia papan luncur di Indonesia.

Rase melalui berbagai macam transisi di dunia skate. Mulai dari peralihan bentuk papan luncur yang digunakan sampai perkembangan trick-trick yang semakin rumit.
Ditambah dengan minimnya fasilitas bermain skate pada era itu. Untuk kasus ini, orang-orang dalam Rase bahkan sempat membuat sendiri arena bermain skate mereka di rumah beberapa anggotanya. Segala macam aktivitas papan luncur mereka sering luput tercantum pada lini masa histori papan luncur di Indonesia. 

Hari itu hampir semua anggota Rase hadir. Dalam wawancara ini, suara Rase diwakilkan oleh tiga orang dari mereka yaitu Abi Tisnadisastra (Abi), Jay Subyakto (Jay), dan Arya Subyakto (Arya). Mari simak perbincangan Free kali ini, untuk mengetahui andil penting Rase sebagai kelompok yang hadir pada awal-awal hadirnya olahraga papan luncur di nusantara.


(Ki-ka) Arya Subiyakto, Abi Tisnadisastra, Jay Subiyakto. (Foto: Fariz Eka Kuswanda)


Bagaimana terbentuknya Rase?

Abi: Ada beberapa, katakan penggerak-penggerak dari Rase ini yang sudah meninggal. Pendiri-pendirinya itu ada Anto Soehardjan, Bob Hariyadi, Julian Sihombing.
Jay: Pendirinya Anto, itu yang di foto tertawa, foundernya waktu itu enam orang. 18 Maret 1977, dia rajin keliling-keliling, ketemu Bobby lagi main di Monas, ketemu saya, sama Adik saya di Menteng, Nyi Ageng Serang, itu dulu tempat kita main. Jadi tiap hari sabtu-minggu kita main di situ, tapi kalo rajin bolos, ya main tiap hari. 


(Searah jarum jam: Bob Hariyadi, Anto Soehardjan, Maman Tisnadisastra, Julian Sihombing).
Rase selalu menempel foto para anggota yang sudah meninggal pada setiap acara pertemuannya
. (Foto: arsip Rase)


Abi: Jadi proses berdirinya itu agak unik. Kita itu lintas generasi, pada saat kita ketemu ini semua, banyak teman-teman ini ada yang SMP, SMA, sementara ada yang mulai ketika mahasiswa, jadi kita kumpulin bagi yang memang berada di skateboard itu, yang paling rajin untuk jalan-jalan itu Anto. Jadi pernah kita diadili sama orang tua, sempet yang tua-tua tuh diminta para orang tua untuk hadir, diminta pertanggung jawaban karena anak-anaknya main terus. Tapi kita punya keyakinan, bahwa mereka semua ini pasti akan jadi.
Jay: Pernah saya engga naik kelas, yang ngambil rapor itu dia (menunjuk Abi), hahaha.
Abi: Kita pernah punya ide gila. Pada ulang tahun Rase yang pertama, kita ingin membuat kejuaran skateboard se-Jawa. Jadi pertama kali itu, kita undang dari Malang, Bandung.
Jay: Dan ini dulu didukung sama KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), ketuanya waktu itu Bambang Suprayogi. Kenapa se-Jawa? karena waktu itu belum bisa tingkat nasional, yang main skate itu baru di Jawa aja. Lalu kita pake peraturan dari ISA (Internasional Skateboard Association) dari luar, yang dipertandingkan itu slalom, freestyle, dan semua seperti pembagian umur, standart tracknya kita ikut peraturan internasional. 18 Maret 1978. Nah, karena ngurus itu, jadi absen saya 3 bulan.
Abi: Sebetulnya kita mulainya sama-sama, kita bikin satu tempat atau wadah, tempat yang asik gitu, supaya lebih enak juga.  


Turnamen papan luncur era Rase. (Foto: arsip Rase)


Ada alasan dibalik pemilihan nama Rase?


Abi: Pada suatu malam pernah kita rundingkan, “kelompok kita apa ya namanya?”, kita bikin nama itu harus cepet, solid dan bahasa Indonesia. Kenapa bahasa Indonesia? karena jaman dulu banyak klub-klub pake nama dari bahasa asing. Rase itu dari binatang malam, karena kehidupan kita malam. Lalu akhirnya, yaudah dengan segala pertimbangan, dipilih nama Rase, Karena itu adalah salah satu binatang yang punya kemampuan lari cepet, dan di malam hari. Kemudian pada saat pertandingan, udah ada nama, baru kita putuskan logo kita kaya apa dan sampe sekarang 40 tahun logo kita masih itu.  


Logo Rase. (Foto: arsip Rase)


Bagaimana keadaan fasilitas arena skate pada zaman kalian?


Jay: Yang menyedihkan itu, dulu engga ada skate park di Indonesia. Kalo dulu makanya kita hanya cari jalan turunan, dan kita hanya slalom dan freestyle aja.  Akhirnya kita bikin sendiri, di rumah Bobby kita bikin ramp, di rumah saya bikin half pipe. Karena waktu itu engga ada fasilitas.
Arya: Skate park pertama kali itu di taman lalu lintas Bandung, tapi kecil bener, itu (mencoba mengingat) tahun 1982, bentuknya setengah huruf C, Cuma banks. Kalo half pipe pertama kali itu kita, ya?
Jay: iya, kita pertama kali, half pipe dari kayu tapi, ya.
Arya: Oh iya, ini nih half pipe pertama nih. (menunjukan foto)


(Foto: arsip Rase)

Jay: Terus kita juga bikin skate park gede banget di (jalan) Proklamasi, waktu itu yang terbesar dan paling susah untuk dimainin.
Abi: Tapi ada batas waktunya ada, engga boleh main di situ lebih dari jam sekian, karena kita kan main pasti lupa waktu tuh. Pasti berisik kan, hahaha.


Sulitkah mencari peralatan skate pada era itu?


Jay: Kalo peralatan kita beli dari Amerika, karena di Singapura aja engga ada. Terus jaman dulu kan engga ada online (shop). Di Indonesia ada, tapi yang di jual itu toys, bukan yang pro(fesional). Bahkan kita ngakalin sendiri, jadi dulu kita ikut downhill itu bannya kita bubut, supaya lebih cepet lebih kencang. Jadi banyak yang kita akalin, nah itu Anto lagi “kena” tuh, dia yang punya alat-alat yang memungkinkan kita untuk berpikir mau bikin apa nih.



(Foto: arsip Rase)


Ada cerita-cerita berkesan dari aktivitas skate pada era kalian?


Jay: Dulu pas kita bikin pertandingan, kita ini paling jago. Sebelumnya udah pernah ada pertandingan yang dibikin tapi ga se-Jawa, jadi Prambors bikin, di Bandung juga ada, nah itu biasanya yang juara umum selalu kita. Tapi waktu kita bikin sendiri kita konsekuen untuk engga ikut, kita semua jadi panitia aja, jadi penyelenggara.
Arya: Zaman itu semua bikin pertandingan engga melalui standart internasionalnya. Baru Rase yang bergambung di ISA, jadi pertandingan yang kita bikin itu standartnya internasional. Jadi kita berhubungan sama mereka, dan ada semacam buku panduannya juga dikirim dari sana.
Jay: Karena banyak yang ajaib. (Pertandingan skate) Di Bandung contohnya, freestyle itu dipilih dari keserasian baju sama cakepnya, hahaha.
Arya:  Jadi pertandingan skateboard pertama di Indonesia itu tahun 1977 di jalan Ganesha, yang ngadain anak ITB (Institut Teknologi Bandung) Geodesi. Karena ini olahraga baru, jadi peraturan pertandingannya masih engga jelas. Waktu itu saya kalah, jurinya Fenty Effendy, yang dinilai ya itu tadi soalnya, keserasian pakaian, ya kalah lah, hahaha.
Jay: Terus slalomnya pake jumping, kan aneh dong.
Arya: Jadi ada jumping lalu high jump. Jadi masih belum ada peraturan bakunya, nah makanya inisiatif dari Anto untuk menghubungi ISA, jadi kita dapet standar bikin pertandingan yang benar.
Abi: Mulai dari situ, setelah kita melakukan pertandingan yang pertama kali dan melalui banyak pengorbanan seperti diadili orang tua tadi. Pada akhirnya saya bersyukur semua di Rase “jadi” juga.


Wawancara dengan Rase. (Foto: Fariz Eka Kuswanda)


Posisi Rase dalam lini masa sejarah papan luncur di Indonesia berarti salah satu pionir, ya?


Jay: Sejarah skateboard (di Indonesia) itu dari tahun 1985. Itu yang bikin saya pikir saya perlu berkumpul sama temen-temen dan kasih tau sebetulnya skateboarding di Indonesia itu harusnya mulai 1975-an. Sementara kita (Rase) bermain sebelum tahun '85 itu.
Arya: Jadi sebetulnya iya gitu, jadi anak-anak Jakarta kan mainnya dari tahun 1975, dan kebetulan di Amerika juga sempat stop tahun 80-an, jadi memang ada vakumnya. Di Indonesia juga berhenti, lalu baru lagi mulai tahun 1984. Jadi engga tahu kalo sebelumnya itu engga ada. Di Bandung tahun 1977 itu udah banyak banget klub(skate)nya.


Siapa dulu diantara personel Rase yang bisa disebut jawaranya?


Abi: Biasanya yang jagoan nge-trick ini ada Arya, ada Ari.
Jay: Dulu tim demo untuk Rase ini Bobby, Arya sama Rudi. Kalo Rudi ini jago freestyle, Arya freestyle sama slalom, Bobby slalom sama downhill. Zaman dulu karena belum ada skateparknya, kita kebanyakan freestyle sama slalom. Tapi dulu itu aneh, misalnya ada lomba high jump (dipisahkan) sendiri, terus ada lomba 360, tapi akhirnya disederhanakan lebih ke freestyle. Jadi itu perbedaan dulu dan sekarang. Bahkan (dulu) ada yang hand stand. Tapi kalo zaman sekarang kan murni apa yang bisa dilakukan oleh kaki, bukan kayak sirkus, dulu hampir kayak sirkus soalnya, hahaha.


Dengan perbedaan gaya bermain antar generasi itu, apakah kalian mengikuti perkembangannya atau tetap pada style generasi Rase?
 
Arya: Kita bukan generasi yang kenal street skating. Misalnya trickollie air’, walaupun trick ini ditemuinnya di bidang vertikal, tapi itu termasuk salah satu gerakan yang membentuk skateboard dewasa ini. Nah generasi kita, engga kenal street skating, kenalnya flat-land freestyle. Kickflip dulu dan sekarang aja penerapannya beda. Trick 'ollie' ini salah satu yang revolusioner.

Engga tertantang untuk mengikuti perkembangan skateboard ini?


Abi: Engga lah, patah-patahnya udah kebanyakan, hahaha


Wawancara dengan Rase. (Foto: Fariz Eka Kuswanda)


Bagaimana kegiatan Rase selama masa transisi dunia skateboard?


Arya: Pada akhirnya karena vakum secara global, jadi ada jeda yang kosong yang engga ada kegiatan. Dan dalam masa transisi itu kita perlahan hilang. Jadi di Amerika itu, setelah main freestyle itu mereka main bowl, jadi transisi. Boardnya jadi gede namanya pig skate, rata-rata lebarnya 10 inch, papan itu engga mungkin dipakai ollie untuk zaman sekarang, sehingga papan itu terlupakan. Generasi sekarang mungkin engga nyentuh papan pig skate, secara lebarnya 10 inch dan flat, belum ada concavenya, dan bannya dulu gede. Begitu street skating keluar, papannya dirampingin, trucknya dibolong-bolongin, dan bannya volumenya dikecilin, biar seringan mungkin untuk nge-pop tinggi.
Jay: Yang lucunya, ketika lagi hype yang bowl, itu yang senior berhenti main. Karena ini susah, kan. Jadi akhirnya Bobby, Arya, saya main ramp di rumah, jadi kita engga pergi ke luar lagi, paling ke Kuningan. Dan kalau kita lihat di majalah itu aerial semua. Sementara itu kita kalau di Kuningan kita cuman main slalom sama freestyle aja. Dan beberapa senior yang akhirnya engga ikutan main lagi, karena memang sudah susah.
Abi: Karena memang kita sulit untuk ikuti perkembangan setelah transisi itu. Kita ini bisa dibilang para skater konservatif.


Wawancara dengan Rase. (Foto: Fariz Eka Kuswanda)


Adakah anggota Rase yang masih aktif bermain papan luncur?

Abi: Yang masih aktif itu, Jay main, Arya masih main. Udah, tinggal mereka aja yang masih cari “penyakit”, hahaha.


Menurut Rase, apakah komunitas skate di Indonesia semakin berkembang?

Jay: Kalo menurut saya, berkembang. Jadi tiba-tiba kan saya main lagi nih, kebetulan tadi ada Didi Arifin, itu sebenernya se-era sama saya, cuman dia semuran sama adik saya. Ternyata dia ini masih aktif, longboard main, bowl main, slalom main. Nah ketika saya baca-baca teknologi yang sekarang, itu beda banget, lebih cepet, alat-alatnya lebih hebat. Terus saya pikir “ah saya ikut yang longboard aja ”, karena banyak turunan-turunan seperti di Bandung misalnya. Dari situ saya mulai main lagi. Saya lihat itu udah lebih bertambah lagi. Tapi anehnya mereka kaget pas tahu dulu tuh saya itu pemain.
Abi: Ada anggapan tahun 1977 itu belum ada.
Jay: Iya, “ini dari mana?” gitu ya. Nah akhirnya saya ke Bandung, saya ketemu lagi. Akhirnya mereka tahu kalau skate di Indonesia itu dari tahun 75. Dan sekarang saya memang lebih ikut ke longboard. Dan untuk longboard ini bikin acaranya macem-macem, ada di Lombok, di Bukit Tinggi, ada di Malang dan pesertanya internasional. Dari situ kita bisa lihat kalo kita engga kalah, kita punya tempat-tempat luar biasa sekarang. Sekarang yang ada di radar saya ya itu, seperti di Lombok ada, Malang, Bali. karena banyak turunan. Tapi yang masih saya ikuti kebanyakan longboard



(Atas ki-ka) Fira Sofyan, Arie Dion, Arya Subyakto, Arie Artadi, Abi Tisnadisastra, Svida Alisjahbana, Doddy Bekti, Teguh Maramis, Piping Sudirjo.
(Bawah ki-ka) Lucky Lukman, Jay Subyakto, Bobby Satrio. (Foto: Fariz Eka Kuswanda)


Mari melihat dokumentasi aktivitas papan luncur generasi Rase melalui kumpulan foto dari arsip mereka berikut ini:


  • Fariz Eka Kuswanda

    Photograph

  • Adam Pribadi

    Text



Related Articles