Outloud / Cool Things

Story of Wenger

Posted on May 18, 2018

20 April 2018, saya sedang scrolling feed Instagram saat dikejutkan oleh sebuah unggahan foto yang akan mengubah hidup saya. Foto yang diunggah oleh akun Instagram resmi milik Arsenal FC, menggambarkan sosok Arsene Wenger yang sedang tersenyum disertai tulisan “Merci Arsène”, sentak membuat saya sejenak lemas dan akhirnya sadar bahwa akhir pekan saya tidak akan lagi sama.  

Arsène Wenger adalah seorang pelatih dan mantan pemain sepak bola asal Perancis. Meski karirnya sebagai pemain tergolong tidak istimewa, di bangku cadangan lah ia mulai bersinar sebagai pelatih utama (Head Coach). Setelah awal karir yang kurang memuaskan di klub AS Nancy, Wenger bergabung dengan AS Monaco pada tahun 1988 dan berhasil menjuarai Divisi 1 Liga Prancis pada tahun yang sama dan juga Coupe de France pada tahun 1991. AS Monaco merupakan tempat pertama kalinya Wenger bertemu dengan pemain muda bernama Thierry Henry, sebelum akhirnya ia mengundurkan diri pada tahun 1994 dan berpetualang ke Jepang untuk melatih Nagoya Grampus Eight.  

Wenger terpilih untuk melatih Arsenal FC pada tahun 1996 dan hanya membutuhkan waktu dua tahun untuk menjuarai Divisi Utama Liga Inggris dan FA Cup pada musim yang sama. Setelah mengulangi prestasi double (Juara Liga dan FA Cup) pada tahun 2002 dan menjuarai FA Cup lagi di tahun berikutnya, Le Professeur berhasil memimpin Arsenal menjuarai Liga Inggris tanpa mengalami kekalahan. Ya, pada musim 2003-2004, tim yang saat itu masih berkandang di stadion legendaris Highbury, berhasil memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang oleh Preston North End dan Nottingham Forest dengan menjalani pertandingan sebanyak 49 kali (Mei 2003 – Oktober 2014) tanpa mengalami kekalahan.
 

Namun karir Wenger di Arsenal tidak selalu mengalami kesuksesan. Pada tahun 2006, semua gooners di seluruh dunia mengalami patah hati saat Barcelona mengalahkan tim asal London ini di partai final Champions League. Selain itu, pendukung Arsenal pun harus merasakan berpuasa gelar selama hampir 9 tahun, yang akhirnya dipatahkan dengan memenangkan FA Cup tiga kali dalam empat tahun (2014, 2015, 2017).  

Selama sekitar 10 tahun terakhir, pendukung Arsenal terbagi menjadi dua kubu, #WengerIn dan #WengerOut. Satu sisi masih mempercayai Wenger sebagai orang yang akan membawa Arsenal kembali ke masa kejayaannya dan mendukung filosofi Wenger yang lebih memilih untuk mengembangkan talenta pemain muda, ketimbang membeli pemain bintang dengan harga mahal. Di sisi lain, tidak sedikit yang menganggap bahwa waktu Wenger sudah habis dan sudah saatnya Arsenal untuk melakukan perubahan besar-besaran ,agar bisa bersaing dengan para tim Liga Inggris yang mulai menghambur-hamburkan uang mereka untuk mendapatkan pemain bintang dan menjadi juara.  

Awalnya, saya berada di kubu #WengerIn, karena alasan utama saya menjadi penggemar Arsenal adalah gaya permainan dan filosofi yang diterapkan oleh Wenger. Namun beberapa tahun terakhir saya mulai bergeser ke kubu #WengerOut karena, jujur saja, saya lelah dibuat khawatir dan kecewa oleh tim kesayangan saya setiap akhir pekan. Ibaratnya seperti saya sedang dalam hubungan dengan seseorang yang selalu menyakiti dan mengecewakan saya, tapi karena sudah cinta, saya tidak bisa pergi.  

Setelah mendapatkan berita pengunduran dirinya, saya bahkan masih belum parcaya 100% sebelum akhirnya saya menyaksikan pertandingan terakhir Arsène Wenger sebagai pelatih Arsenal minggu lalu. Entah apakah disengaja atau tidak, tapi Arsenal mengakhiri pertandingan tersebut dengan kemenangan 1-0 atas Huddersfield, seperti salah satu chants milik penggermar Arsenal yang berjudul “One Nil To The Arsenal”. Sesaat setelah saya mematikan televisi, realita mulai terasa bahwa pertandingan tadi adalah terakhir kali saya akan melihat sosok Arsène Wenger di pinggir lapangan saat Arsenal bertanding.  

Thank you for all the celebrations, the heartbreaks, and the memories. Thank you for giving us the privilege to watch the beautiful game being play with flair, grace, and class. Thank you for being a big part of almost every football fan’s life. Merci Wenger.


  • Joshua B. Malaihollo

    Text


Related Articles